Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

9 Ciri Kepribadian Orang Ambivert, Pendiam tapi Suka Bersosialisasi

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 17 Sep 2026 06:50 WIB

three happy beautiful young asian women sitting at table chatting talking relaxing in coffee shop or tea house.
Ilustrasi ambivert / Foto: Getty Images/iStockphoto/imtmphoto
Daftar Isi

Orang pendiam bukan berarti nggak bisa supel, Bunda. Ada tipe orang yang berada di tengah-tengah spektrum introvert dan ekstrovert, yang sering disebut ambivert.

Tipe orang ini ada waktunya ingin ngobrol dan bertemu banyak orang. Tapi setelah itu, rasanya ingin pulang dan menikmati waktu sendiri.

Kalau seseorang terlihat pendiam di satu kesempatan, tetapi bisa ramai dan asyik diajak ngobrol di kesempatan lain, hal tersebut belum cukup untuk menentukan apakah ia introvert atau ambivert. Keduanya sama-sama bisa menikmati interaksi sosial, meski kebutuhan dan cara mereka mengelola energi sosial bisa berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Selama ini kita sering dibuat seolah-olah harus memilih, introvert atau ekstrovert. Padahal, kepribadian nggak selalu sesederhana dua pilihan tersebut.

Ciri kepribadian orang ambivert

Penelitian mengenai ambiversi sudah dilakukan sejak beberapa dekade lalu. Salah satu penelitian dalam Journal of Personality Assessment menemukan adanya kelompok orang yang berada di rentang tengah introversi-ekstroversi dan memiliki kecenderungan dari kedua sisi tersebut.

Penelitian Adam Grant yang diterbitkan dalam Psychological Science juga menjadi salah satu penelitian yang banyak dibahas mengenai ambivert. Dalam penelitian tersebut, orang dengan kecenderungan ambivert menunjukkan performa penjualan yang lebih tinggi dalam konteks yang diteliti dibandingkan mereka yang sangat introvert atau sangat ekstrovert.

Grant mengaitkannya dengan kemampuan untuk menyeimbangkan berbicara dan mendengarkan serta menyesuaikan pendekatan dengan lawan bicara.

Sementara itu, melansir Forbes, Travis Bradberry menggambarkan ambivert sebagai orang yang memiliki kecenderungan introvert dan ekstrovert, sehingga responsnya terhadap situasi sosial bisa berbeda-beda.

Bradberry membahas beberapa cirinya, antara lain nyaman bekerja sendiri maupun bersama kelompok, menikmati situasi sosial tetapi bisa lelah jika terlalu lama berada di tengah orang lain, hingga merasa bosan jika terlalu lama sendirian.

Laman Bustle juga membahas ambiversi sebagai posisi di antara introversi dan ekstroversi, bukan pilihan mutlak salah satunya.

Ada beberapa karakter yang sering terlihat pada orang yang berada di tengah spektrum introvert dan ekstrovert. Bukan berarti semuanya harus dimiliki sekaligus, Bunda.

1. Nyaman bekerja sendiri maupun bersama orang lain

Ada orang yang hanya bisa fokus kalau bekerja sendirian. Tapi, ada juga yang justru merasa lebih bersemangat ketika mengerjakan sesuatu bersama tim. Ambivert cenderung bisa menikmati keduanya.

Saat membutuhkan konsentrasi, mereka dapat bekerja sendiri. Tetapi ketika pekerjaan membutuhkan diskusi atau kolaborasi, mereka juga mampu menyesuaikan diri.

Ini bukan soal lebih suka sendiri atau lebih suka ramai, melainkan bisa merasa nyaman dalam kedua situasi tersebut.

2. Suka bersosialisasi, tetapi mudah lelah kalau terlalu lama

Ambivert bisa menikmati acara keluarga, bertemu teman, menghadiri acara komunitas, atau sekadar mengobrol dengan orang lain. Namun, setelah terlalu lama berada di tengah banyak orang, mereka bisa merasa tenaga terkuras dan membutuhkan waktu untuk sendiri.

Karena itu, Bunda mungkin pernah menemukan seseorang yang terlihat sangat menikmati sebuah acara, tetapi beberapa jam kemudian sudah ingin pulang dan rebahan.

3. Bisa menikmati perhatian, tetapi enggak ingin terus menjadi pusat perhatian

Menjadi pusat perhatian tidak selalu membuat ambivert merasa enggak nyaman. Dalam situasi tertentu, mereka bahkan bisa menikmati ketika orang lain memperhatikan atau mendengarkan mereka.

Tetapi kalau perhatian tersebut berlangsung terlalu lama, mereka juga bisa merasa kurang nyaman dan memilih kembali ke posisi yang lebih tenang.

Ambivert mampu tampil di depan banyak orang ketika diperlukan tanpa selalu ingin menjadi pusat perhatian.

4. Ada yang menganggapnya pendiam, ada pula yang menganggapnya supel

Ini salah satu ciri yang cukup menarik. Orang yang baru mengenalnya mungkin melihatnya sebagai sosok pendiam. Namun, orang yang sudah dekat justru bisa mengenalnya sebagai pribadi yang cerewet, banyak cerita, dan mudah bergaul.

Perbedaan penilaian tersebut bisa terjadi karena perilakunya menyesuaikan situasi dan lingkungan. Di satu tempat, ia lebih banyak mengamati. Di tempat lain, ia lebih banyak bicara.

5. Tak harus selalu sibuk, tetapi terlalu banyak waktu kosong juga bisa bikin bosan

Ambivert biasanya nggak harus terus-menerus berada di tengah aktivitas. Mereka bisa menikmati waktu santai dan melakukan sesuatu sendiri. Tetapi kalau terlalu lama nggak melakukan apa-apa, rasa bosan juga bisa muncul.

Karena itu, mereka mungkin menikmati kombinasi antara waktu sendiri dan aktivitas bersama orang lain. Hari ini ingin di rumah saja. Besok sudah ingin keluar ketemu teman.

6. Bisa tenggelam dalam pikiran sendiri maupun percakapan

Ada saat ketika seseorang begitu larut dalam pikirannya sendiri sampai lupa waktu. Namun, ketika menemukan topik yang menarik, ia juga bisa tenggelam dalam percakapan bersama orang lain.

Kemampuan menikmati waktu sendiri sekaligus terlibat dalam percakapan bisa menjadi salah satu gambaran orang yang berada di tengah spektrum introvert dan ekstrovert.

Mereka bisa menikmati dunia pikirannya sendiri, tetapi juga mampu benar-benar menikmati interaksi ketika menemukan orang atau topik yang menarik.

7. Bisa menikmati small talk, tetapi cepat merasa bosan

Ngobrol ringan soal cuaca, makanan, pekerjaan, sekolah anak, atau hal-hal sehari-hari bukan sesuatu yang selalu membuat ambivert nggak nyaman. Mereka tetap bisa mengikutinya.

Namun, kalau percakapannya hanya berputar-putar tanpa masuk ke hal yang lebih bermakna, mereka bisa cepat kehilangan minat. Karena itu, seseorang bisa terlihat supel dalam percakapan awal, tetapi sebenarnya lebih menikmati obrolan yang punya isi.

8. Bisa hati-hati, tetapi juga terbuka pada orang tertentu

Dalam urusan mempercayai orang lain, seseorang bisa menunjukkan sikap yang berbeda tergantung situasi dan siapa yang dihadapinya.

Pada kondisi tertentu, ia bisa cukup hati-hati dan skeptis. Namun, ketika sudah merasa nyaman dengan seseorang, ia juga bisa membuka diri dan memberikan kepercayaan. Ini artinya, orang dengan kecenderungan ambivert nggak harus selalu mudah percaya atau sebaliknya selalu curiga. Cara mereka merespons orang lain bisa menyesuaikan situasi.

9. Terlalu lama sendiri bikin bosan, terlalu lama bersosialisasi juga menguras tenaga

Ini mungkin salah satu gambaran yang paling mudah dikenali. Kalau terlalu lama sendirian, mereka bisa mulai mencari teman atau kegiatan di luar rumah. Tapi setelah terlalu lama bersosialisasi, mereka justru membutuhkan waktu untuk mengisi tenaga kembali.

Kebutuhan sosialnya seperti punya tombol sendiri. Ada waktunya ingin ramai, ada waktunya ingin sepi. Dan dua-duanya bisa terasa menyenangkan pada waktu yang berbeda.

Ambivert bukan berarti kepribadian yang berubah-ubah

Bunda, menjadi ambivert bukan berarti seseorang punya kepribadian yang tidak konsisten. Introversi dan ekstroversi lebih tepat dipahami sebagai dimensi atau spektrum kepribadian, bukan dua kotak yang harus dipilih salah satunya.

Penelitian tentang ambiversi juga menunjukkan adanya kelompok di tengah spektrum tersebut.

Seseorang bisa nyaman berbicara di depan banyak orang pada satu situasi, tetapi memilih diam pada situasi lain. Bunda bisa senang bertemu teman, tetapi setelah itu membutuhkan waktu sendiri.

Bunda bisa menikmati kerja kelompok, tetapi juga sangat fokus ketika bekerja sendirian. Semua itu nggak otomatis berarti Bunda sedang “berubah kepribadian”.

Yang menarik, penelitian Adam Grant menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam berbicara dan mendengarkan dapat menjadi salah satu keunggulan ambivert dalam konteks pekerjaan penjualan. Namun, hasil tersebut tidak berarti semua ambivert pasti lebih sukses daripada introvert atau ekstrovert dalam setiap pekerjaan.

Kalau Bunda merasa ada waktunya ingin ramai, tapi di waktu lain ingin menyendiri, nggak perlu bingung harus memasukkan diri ke kotak introvert atau ekstrovert.

Bunda bisa saja cenderung ambivert. Dan mungkin itu juga alasan kenapa Bunda bisa betah ngobrol panjang dengan teman, lalu sesampainya di rumah langsung bilang, "Udah ya, Bunda mau diem dulu."

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda