Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Hukum Suami Selalu Menyalahkan Istri Menurut Islam

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Kamis, 22 Oct 2026 18:45 WIB

Unhappy Muslim Wife Standing Behind Husband's Back Looking At Camera In Fear At Home. Domestic Abuse Issue, Relationship With Abuser Concept. Selective Focus On Scared Woman
Ilustrasi suami istri / Foto: Getty Images/Prostock-Studio
Daftar Isi

Suami sering menyalahkan Bunda belakangan ini? Mari pahami hukum suami selalu menyalahkan istri menurut Islam.

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat antara suami dan istri merupakan hal wajar. Namun ketika setiap persoalan berujung pada suami yang menyalahkan istri, hubungan pernikahan bisa terasa melelahkan.

Terlebih jika istri terus-menerus dianggap sebagai penyebab masalah, mulai dari persoalan ekonomi, keputusan bekerja, hingga urusan keturunan. Dalam Islam, suami dan istri memiliki hak sekaligus kewajiban yang perlu dijalankan secara seimbang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Suami memang memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga, termasuk memberikan nafkah, namun bukan berarti ia dapat menyalahkan istri tanpa mempertimbangkan keadaan dan tanggung jawabnya sendiri. Persoalan rumah tangga semestinya diselesaikan melalui komunikasi, musyawarah, dan sikap saling menghormati.

Pembahasan mengenai suami yang menyalahkan istri, terutama terkait keputusan bekerja dan belum dikaruniai anak, turut disinggung oleh Ustaz Syamsuddin Nur atau Ustaz Syam dan Habib Nabiel Al-Musawa. Keduanya membahas tanggung jawab suami dalam rumah tangga, termasuk bagaimana menyikapi persoalan yang melibatkan hak istri dan kewajiban suami.

Hukum suami selalu menyalahkan istri menurut Islam

Berikut penjelasan mengenai hukum suami selalu menyalahkan istri menurut Islam.

Suami menyalahkan istri karena bekerja

Dalam rumah tangga, keputusan istri untuk bekerja perlu dibicarakan bersama, terutama ketika pasangan telah menyepakati aturan tertentu mengenai pekerjaan dan kehidupan keluarga. Masalah dapat muncul ketika suami memberikan izin kepada istri untuk bekerja, namun kemudian menjadikan pekerjaan tersebut sebagai alasan untuk menyalahkannya saat menghadapi persoalan rumah tangga.

Ustaz Syam menyoroti ketidakkonsistenan tersebut. Menurutnya, persoalan bukan semata-mata terletak pada istri yang bekerja, melainkan juga pada sikap suami yang sebelumnya telah memberikan persetujuan.

"Yang tidak wajar adalah suami yang mengizinkan, tapi dia yang menyalahkan," ujar Ustaz Syam dalam program Islam Itu Indah di TRANSTV.

Pernyataan itu mengingatkan bahwa keputusan yang diambil bersama seharusnya disertai tanggung jawab dari kedua belah pihak. Suami tidak semestinya menjadikan keputusan yang telah disetujuinya sendiri sebagai alasan untuk terus menyudutkan istri ketika keadaan tidak berjalan sesuai harapan.

Belum punya keturunan bukan berarti istri harus disalahkan

Kehadiran anak menjadi harapan bagi banyak pasangan setelah menikah. Namun tidak semua pasangan langsung dikaruniai keturunan walaupun telah berusaha dan menjalani kehidupan bersama dalam waktu yang lama.

Ustaz Syam mengingatkan bahwa keturunan merupakan ketetapan Allah SWT. Oleh sebab itu, persoalan belum hadirnya anak tidak sepatutnya langsung dibebankan kepada istri, terutama jika penyebabnya belum diketahui.

"Namanya keturunan adalah keputusan Allah SWT disertai usaha maksimal dari manusia," ucap Ustaz Syam.

Ia juga menekankan bahwa kehamilan dan kehadiran anak tidak bisa dipaksakan hanya dengan keinginan manusia. Pasangan perlu terus berusaha, berdoa, dan saling mendukung tanpa menjadikan satu sama lain sebagai sasaran tuduhan.

Jika belum juga dikaruniai anak, Bunda dan suami dapat mempertimbangkan pemeriksaan kesehatan bersama untuk mengetahui kondisi kesuburan masing-masing. Dengan demikian, persoalan dapat dihadapi secara terbuka dan berdasarkan informasi medis, bukan melalui prasangka atau saling menyalahkan.

Suami tidak boleh menjadikan kekurangan ekonomi sebagai alasan untuk merendahkan istri

Kondisi keuangan dapat menjadi salah satu sumber konflik dalam pernikahan. Ketika penghasilan suami belum mencukupi, istri mungkin memilih bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga atau memenuhi kebutuhan pribadinya.

Ustaz Syam menyinggung keadaan ketika istri bekerja karena suami mengizinkannya, termasuk situasi saat istri ikut mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi suami.

Dalam keadaan seperti ini, suami perlu melihat persoalan secara menyeluruh. Kalau pekerjaan istri telah disepakati bersama, kontribusi Bunda semestinya tidak dipakai untuk menyalahkan atau merendahkan dirinya di kemudian hari.

Sebaliknya, pasangan perlu membicarakan kemampuan keuangan, kebutuhan keluarga, dan pembagian tanggung jawab secara terbuka. Suami juga perlu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sesuai kemampuannya, sementara istri tetap berhak menyampaikan kebutuhan dan pendapatnya dengan baik.

Rumah tangga bukan tempat untuk mencari siapa yang paling bersalah, melainkan ruang bagi dua orang untuk saling membantu menghadapi kesulitan.

Suami perlu memahami bahwa nafkah merupakan tanggung jawabnya

Salah satu tanggung jawab suami dalam Islam adalah memberikan nafkah kepada keluarga. Jadi, ketika istri meminta haknya dalam nafkah maka suami jangan langsung menyalahkannya. Kewajiban nafkah mencakup pemenuhan kebutuhan hidup sesuai kemampuan dan ketentuan syariat.

Habib Nabiel Al-Musawa menjelaskan bahwa kedudukan dan tanggung jawab laki-laki dalam rumah tangga berkaitan dengan kewajiban memberikan nafkah kepada perempuan. Ia mengaitkan penjelasan tersebut dengan ayat Al-Qur'an yang membahas tanggung jawab laki-laki dalam keluarga.

"Laki-laki itu dilebihkan dari kaum wanita karena kelebihan di antara laki-laki dibanding wanita dan karena dia menafkahi. Artinya di dalam Islam nafkah itu kewajiban suami. Sekali lagi kewajiban suam. Istri punya tidak punya kewajiban menafkahi," ujar Habib Nabiel Al-Musawa.

Istri juga bisa meminta cerai jika suami tidak mampu memberi nafkah. Meski demikian, Habib Nabiel Al-Musawa, berharap istri juga menghargai suami ketika sudah berusaha.

"Hendaknya istri juga menghargai karena yang namanya uang, nafkah itu tidak sepenuhnya misalnya sesuai keinginan kita, sesuai kemampuan. Kalau dia sudah berusaha, hargai itu," ucapnya.

Menyalahkan istri terus-menerus tidak menyelesaikan masalah rumah tangga

Setiap keluarga dapat menghadapi persoalan yang berbeda, mulai dari ekonomi, pekerjaan, hubungan dengan keluarga besar, hingga kehadiran anak. Namun kebiasaan menyalahkan pasangan tanpa mau mengevaluasi diri dapat memperburuk komunikasi dan membuat konflik semakin sulit diselesaikan.

Dalam Islam, suami dan istri dianjurkan membangun kehidupan rumah tangga dengan cara yang baik. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 19 yang berbunyi;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ۝١٩

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaḫillu lakum an taritsun-nisâ'a kar-hâ, wa lâ ta‘dlulûhunna litadz-habû biba‘dli mâ âtaitumûhunna illâ ay ya'tîna bifâḫisyatim mubayyinah, wa ‘âsyirûhunna bil-ma‘rûf, fa ing karihtumûhunna fa ‘asâ an takrahû syai'aw wa yaj‘alallâhu fîhi khairang katsîrâ

Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Pergaulilah mereka dengan cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya."

Ayat tersebut mengandung tuntunan agar suami memperlakukan istri dengan baik. Oleh sebab itu, perbedaan pendapat atau ketidakpuasan dalam rumah tangga sebaiknya disampaikan melalui komunikasi yang santun, bukan dengan penghinaan, tuduhan berulang, atau tindakan yang merendahkan pasangan.

Suami juga perlu bersedia mendengarkan penjelasan istri dan mengakui kalau dirinya turut memiliki tanggung jawab dalam suatu persoalan. Begitu pula istri, keduanya dapat melakukan evaluasi bersama agar masalah tidak terus berulang.

Jika kebiasaan menyalahkan pasangan telah berkembang menjadi kekerasan verbal, ancaman, atau bentuk kekerasan lainnya, istri berhak mencari bantuan dan perlindungan dari pihak terpercaya.

Hukum suami yang selalu menyalahkan istri perlu dilihat berdasarkan persoalan dan tindakan yang terjadi. Menegur pasangan untuk memperbaiki kesalahan tentu berbeda dengan terus-menerus menuduh, merendahkan, atau membebankan seluruh persoalan kepadanya.

Pada akhirnya, rumah tangga yang sehat membutuhkan komunikasi, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati. Ketika masalah muncul, suami dan istri perlu mencari jalan keluar bersama, bukan terus-menerus mencari pihak yang dapat disalahkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda