Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Beban Kerja Makin Berat, 61% Pekerja Harus Kerjakan Tugas di Luar Job Desc

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Jumat, 23 Oct 2026 17:55 WIB

Stress, anxiety and multitasking business woman with headache from workload and laptop deadline in office. Burnout, frustration and overwhelmed lady exhausted, procrastination in toxic workplace
Ilustrasi pekerja harus kerjakan tugas di luar job desc / Foto: Getty Images/Jacob Wackerhausen
Daftar Isi

Ancaman badai PHK membuat banyak karyawan kerja lebih keras. Bahkan sebagian besar pekerja mengaku bekerja di luar job desc mereka.

Beban kerja karyawan memang semakin meningkat di tengah upaya perusahaan melakukan efisiensi dan mengurangi jumlah tenaga kerja. Bukannya membuat pekerjaan berkurang, kebijakan pemangkasan karyawan justru berpotensi membuat pekerja yang bertahan harus mengambil alih tanggung jawab lebih banyak, bahkan mengerjakan tugas di luar deskripsi pekerjaan atau job desc mereka.

Mengutip Fortune, kondisi ini terungkap dalam laporan Workforce 2026 yang dirilis perusahaan konsultan perusahaan dan sumber daya manusia Korn Ferry pada September 2026. Berdasarkan survei terhadap lebih dari 16 ribu profesional di 11 pasar global, sebanyak 61 persen responden mengaku menjalankan tanggung jawab lebih dari satu posisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sementara itu, 62 persen mengatakan beban kerja mereka meningkat signifikan selama dua tahun terakhir. Tak hanya menghadapi pekerjaan yang menumpuk, hampir separuh responden atau 45 persen mengaku terlalu sibuk untuk menghasilkan pekerjaan bermakna yang dapat mendukung pertumbuhan perusahaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja belum tentu membuat perusahaan menjadi lebih produktif.

Mari bahas mengenai fenomena karyawan yang harus bekerja di luar job desc demi bertahan di masa ekonomi sekarang.

Pekerja menanggung tanggung jawab lebih dari satu posisi

Korn Ferry menyebut fenomena ketika karyawan harus menjalankan pekerjaan dari beberapa posisi sekaligus sebagai two-job job. Istilah ini menggambarkan situasi ketika seseorang tetap menjalankan tugas utamanya, namun juga harus mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya menjadi tanggung jawab karyawan lain.

Kondisi tersebut muncul ketika perusahaan merampingkan struktur organisasi dan mengurangi jumlah pekerja. Pekerjaan yang sebelumnya ditangani beberapa orang tidak menghilang setelah posisi mereka dipecat.

Sebaliknya, tugas-tugas itu sering kali dialihkan kepada karyawan yang masih bekerja sehingga tanggung jawab mereka semakin luas. Dalam sejumlah kasus, pekerja juga harus menangani penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di luar pekerjaan rutin.

Teknologi yang diharapkan membantu meningkatkan efisiensi justru dapat menambah tuntutan baru kalau penerapannya tidak disertai pembagian tugas dan dukungan yang memadai.

Pemangkasan manajer bikin karyawan kehilangan arah

Pengurangan tenaga kerja juga berdampak pada struktur kepemimpinan di perusahaan. Laporan Korn Ferry menemukan bahwa 42 persen perusahaan telah memangkas posisi manajemen selama setahun terakhir.

Dari para manajer yang masih bertahan, sebanyak persen mengaku mengalami kelelahan. Sementara itu, 39 persen pekerja mengatakan berkurangnya jumlah manajer membuat mereka merasa kehilangan arah dalam menjalankan pekerjaan.

Manajer memiliki peran penting dalam membantu tim menyelesaikan masalah, menentukan prioritas, dan mengoordinasikan pekerjaan. Ketika jumlah manajer berkurang tanpa penyesuaian sistem kerja, karyawan bisa menghadapi lebih banyak tanggung jawab sekaligus kehilangan pendampingan yang dibutuhkan.

Pengurangan manajer belum tentu tingkatkan produktivitas

Peter Cappelli, profesor manajemen George W. Taylor di Wharton School, mempertanyakan anggapan bahwa memangkas posisi manajer otomatis membuat perusahaan lebih produktif.

“Tidak lebih efisien dalam hal produktivitas jika memangkas manajer,” ujar Cappelli kepada Fortune.

Menurutnya, manajer membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang memungkinkan anggota tim menyelesaikan pekerjaan mereka. Oleh sebab itu, pengurangan posisi manajerial belum tentu membuat proses kerja menjadi lebih efektif walaupun dapat menekan pengeluaran perusahaan.

Cappelli juga membedakan antara menghapus pekerjaan dan mengurangi jumlah karyawan. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan yang sudah ada tetap harus diselesaikan oleh orang-orang yang tersisa.

“Pekerjaan yang sama tetap harus ditangani oleh karyawan yang tersisa,” katanya.

Dengan demikian, pengurangan jumlah pekerja tidak selalu berarti perusahaan telah menghilangkan pekerjaan yang tidak diperlukan. Dalam praktiknya, perusahaan bisa saja hanya memindahkan beban pekerjaan kepada lebih sedikit orang.

Penggunaan AI justru tambah beban bagi sebagian pekerja

Kecerdasan buatan sering dipandang sebagai solusi untuk mempercepat pekerjaan dan mengurangi beban karyawan. Namun pengalaman pekerja di lapangan menunjukkan bahwa manfaat teknologi tersebut belum dirasakan secara merata.

Data Korn Ferry memperlihatkan kesenjangan antara pimpinan perusahaan dan karyawan pelaksana. Sebanyak 79 persen CEO melaporkan peningkatan efisiensi berkat AI, sedangkan angka itu hanya mencapai 51 persen di kalangan individual contributor, yakni pekerja yang berfokus pada pelaksanaan tugas tanpa tanggung jawab manajerial.

Situasinya bahkan lebih menantang bagi kelompok pekerja yang disebut AI-weary atau mulai merasa lelah dengan penggunaan AI. Sebanyak 52 persen dari kelompok ini mengatakan pemanfaatan teknologi tersebut justru meningkatkan beban kerja mereka.

Hal ini dapat terjadi karena penggunaan AI tidak selalu menghilangkan tahapan pekerjaan. Karyawan mungkin tetap harus memeriksa hasil yang dihasilkan teknologi, memperbaiki kesalahan, menyesuaikan keluaran dengan kebutuhan perusahaan, dan memastikan hasil akhirnya sesuai standar.

Tanpa pembagian tanggung jawab yang jelas, penerapan AI berisiko menambah lapisan pekerjaan baru di atas tugas utama karyawan.

Motivasi karyawan turun di tengah beban kerja yang meningkat

Persoalan beban kerja bukan hanya berkaitan dengan jumlah tugas yang harus diselesaikan, namun juga dapat memengaruhi motivasi karyawan. Data Korn Ferry menunjukkan bahwa tingkat motivasi pekerja turun dari 71 persen pada 2024 menjadi 61 persen di 2026.

Penurunan tersebut menjadi perhatian bagi perusahaan yang mengandalkan produktivitas karyawan untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Karyawan yang terus-menerus menghadapi pekerjaan tambahan tanpa dukungan memadai berisiko kehilangan semangat dan kesulitan memberikan hasil terbaik.

Lesley Uren, CEO Korn Ferry Consulting, menekankan bahwa pertumbuhan bisnis tidak cukup dicapai dengan meminta karyawan bekerja lebih banyak.

“Pertumbuhan tidak datang hanya dengan meminta orang melakukan lebih banyak,” ujar Uren saat laporan dirilis.

Ia menjelaskan bahwa pemangkasan biaya dan restrukturisasi memang dapat menghasilkan penghematan. Namun langkah itu belum tentu mampu membangun antusiasme karyawan yang diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan perusahaan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda