sign up SIGN UP search


parenting

Menyikapi Anak yang Telanjur 'Akrab' dengan Kata-kata Kasar

Amelia Sewaka Selasa, 26 Sep 2017 12:17 WIB
Kata-kata kasar yang diucapkan anak kadang bisa melukai perasaan. Gimana menyikapinya ya. caption
Jakarta - Di usianya yang masih belia, tentu nggak disangka-sangka akan keluar kata kasar dari mulutnya. Tapi ini bisa saja terjadi, lho. Bagaimana sebaiknya menyikapinya, ya?

Ya, kalau sesekali saja anak berkata kasar, masih mudah kita arahkan untuk berkata lebih baik. Tapi ada juga anak yang sudah terbiasa berkata-kata kasar.

Nah, berikut beberapa hal yang perlu Bunda lakukan jika anak telanjur berkata kasar atau kotor.


1. Katakan Secara Terbuka

Ketika anak sudah telanjur akrab dengan kata-kata kasar atau kotor sehingga sering melakukan hal tersebut, sampaikan ketidaksukaan kita, Bun. Tapi ingat, tetap sampaikan dengan cara yang pantas ke anak. Jadi jangan lantas mengomeli, tapi lebih baik mengatakan, 'Nak, ibu nggak suka kamu ngomong seperti itu. Itu nggak pantas lho didengar'.

Bisa juga jika anak berkata kasar, kita bisa minta ganti subjeknya. Contohnya saat anak mengumpat dengan nama binatang untuk umpatan, kita ajak anak untuk mengganti subjek dengan sesuatu yang lebih manis. Misalnya dengan menyebut nama-nama buah seperti mangga, jeruk, dan sebagainya sehingga lebih enak didengar.

Menurut psikolog Anna Surti Ariani, MPsi, itu bisa menjadi cara untuk membantu anak mengeskpresikan kemarahannya dengan cara yang baik tanpa harus mengeluarkan kata-kata kasar.

2. Lakukan 'Pengabaian'

Pengabaian di sini bukan dengan mendiamkan anak saat ia berkata tidak pantas lho, Bun. Dalam metode ini orang tua 'pura-pura' tidak mendengar kata kotor tersebut.

"Bukan berarti diamkan itu cuekin dan membiarkan ya. Ketika kita mengabaikan anak saat mereka berkata kotor atau kasar, anak akan mulai merasa bahwa perhatian sang orang tua nggak teralihkan ketika ia bicara kasar," papar psikolog yang akrab disapa Nina ini.

"Pengabaian di sini juga bukan seperti ibu yang sibuk cek HP, nonton televisi atau sibuk di laptopnya. Di sini ibu hanya 'berpura-pura' tidak mendengar, namun diam-diam tetap memperhatikan si kecil," lanjut Nina.

Ketika anak sadar perhatiannya tidak dibalas sang orang tua, kemungkinan anak akan bertanya, meminta maaf atau lebih lagi bisa bagus berjanji tidak akan mengulangi. Nah, jangan lupa ketika itu hargai anak atas perilaku baiknya Bun.

Baca juga: Menyikapi Balita yang Tiba-tiba Mengucapkan Kata-kata Kasar

3. Apresiasi Anak

Metode ini wajib banget dilakukan setelah teknik pengabaian sudah dilaksanakan. Misal ketika anak sudah lelah berteriak-teriak kasar atau kotor dan dia mulai diam atau duduk manis kita bisa banget Bun katakan, 'Eh akhirnya duduk tenang juga, udah marahnya?' atau 'Eh pinter nih anak Bunda, ngomongnya udah nggak kotor atau kasar lagi, gitu dong, Nak'.

"Teknik pengabaian akan gagal ke anak jika teknik apresiasi ini tidak diikutsertakan. Maka itu penting banget hargai anak ketika ia mulai belajar untuk mengubah kata kasar atau kotornya," tutur Nina.

4. Bawa ke Ahlinya

Jika kebiasaan berkata kasar atau kotor ini memang sudah di luar batas dan orang tua sudah tidak sanggup mengatasinya, Nina menyarankan untuk membawa anak ke ahlinya, seperti psikolog, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Jangan pernah malu untuk datang ke ahlinya ya Bun. Karena biar bagaimana pun perilaku ini sangat tidak baik untuk si kecil. Jika hal ini terus dibiarkan akan berbahaya bagi si kecil karena pada masa keemasan ini merupakan masa di mana perilaku terbentuk.

Baca juga: Yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua Saat Anak Remajanya 'Hobi' Berkata Kasar (aml)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi