parenting

Kebanyakan Makan Gula Bikin Anak Hiperaktif?

Melly Febrida Sabtu, 12 Jan 2019 09:09 WIB
Kebanyakan Makan Gula Bikin Anak Hiperaktif?
Jakarta - Banyak dipercaya bahwa sering mengonsumsi makanan yang manis alias bergula bisa membuat anak jadi hiperaktif. Sebenarnya, adakah kaitan antara makan gula dengan hiperaktif?

Hiperaktif sendiri merupakan suatu kondisi di mana seorang anak mengalami peningkatan gerakan, energi, dan impulsif yang lebih tinggi. Sarah Ockwell-Smith dalam bukunya The Gentle Discipline Book menyebutkan bahwa gula memang tidak sehat, namun keliru jika menyalahkan gula sebagai penyebab perubahan pada perilaku anak.

"Tubuh itu melepaskan sejumlah pengganti berupa adrenalin sebagai renspons akibat turunnya kadar glukosa darah, yang dikenal dengan hipoglikemia (hypoglycaemia). Peristiwa ini yang menyebabkan perubahan perilaku negatif, sebuah fenomena yang terkadang mengarah kepada 'hangry', kombinasi dari lapar dan marah, yang disebabkan perubahan kadar glukosa dan adrenalin," tulis Sarah.


Menurut Sarah, selain gula ada pula beberapa zat tambahan buatan (artificial additives) lainnya yang juga turut memengaruhi kondisi anak. Pada 2007, sebuah penelitian menemukan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung enam zat tambahan secara signifikan akan meningkatkan perilaku hiperaktif pada anak-anak.

Keenam zat tersebut di antaranya:

1. Sunset yellow (E110)

2. Quinoline yellow (E104)

3. Carmoisine (E122)

4. Allura red (E129)

5. Tartrazine (E102)

6. Ponceau 4R (E124)



Umumnya, enam zat tambahan buatan itu terkandung pada makanan seperti sereal, keripik, permen, fish fingers, jus, dan obat-obatan anak. Kandungan tersebut memang bisa menyebabkan anak hiperaktif.

"Kalau Bunda berpikir anak-anak terpengaruhi, pastikan untuk mengecek daftar bahan di kemasan produk," tegas Sarah.

Namun, Sarah menegaskan, tak hanya zat tambahan buatan yang berdampak negatif terhadap perilaku anak. Kekurangan gizi pada anak-anak juga bisa ikut andil.

Pada 2013, penelitian terhadap hampir 500 anak-anak usia antara 7 - 9 tahun menemukan bahwa rendahnya kadar omega-3, longchain polyunsaturated fats (LC-PUFA) berhubungan dengan meningkatnya masalah perilaku, menurunnya kemampuan membaca dan daya ingat.

LC-PUFA ini bisa ditemukan di minyak ikan seperti makarel, salmon, dan tuna, serta pada flaxseeds yang sering ditambahkan di sereal sarapan. Banyak para ahli nutrisi yang menyarankan jika diet anak rendah LC-PUFA, maka bisa menambahkan suplemen omega-3, terutama jika anak rentan terhadap perilaku hiperaktif.

Ilustrasi gulaIlustrasi gula/ Foto: Thinkstock
"Jika Bunda menduga perilaku anak memburuk karena pemicu pola makan, mulailah membuat buku harian makanan, yang mencatat semua yang dimakan anak dan perilakunya setiap hari selama beberapa pekan," kata Sarah.

Katanya, cara ini bisa membuat Bunda melihat apa ada reaksi negatif dari makanan tersebut, khususnya zat tambahan buatan. Idealnya, semua kebutuhan nutrisi anak itu akan dipenuhi melalui pola makan sehat.

Nutrisionis Jansen Ongko, MSc, RD pernah mengatakan, terlalu banyak mengonsumsi makanan manis atau bergula dapat meningkatkan asupan energi anak. Satu sendok makan gula mengandung sekitar 50 kalori sehingga akan meningkatkan aktivitas anak, karena gula dapat memasuki aliran darah dengan cepat dan menciptakan peningkatan kadar gula darah yang signifikan.

Tubuh anak akan merespons kenaikan gula darah dengan mengirimkan hormon adrenalin yang mempromosikan aktivitas. Oleh karena itu anak menjadi lebih aktif.

"Akan tetapi, gula rafinasi bukanlah satu-satunya makanan yang dapat meningkatkan tingkat aktivitas anak secara signifikan. Makanan yang mengandung karbohidrat sederhana juga bisa memiliki efek yang sama pada tingkat aktivitas anak," kata Jansen, seperti dilansir detikcom.



(rdn/muf)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi