HaiBunda

PARENTING

Pesan Kementerian PPPA agar Tak Langgar Hak Anak Saat Kampanye

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Senin, 18 Mar 2019 15:59 WIB
Pesan Kementerian PPPA agar Tak Langgar Hak Anak Saat Kampanye/ Foto: Kemen PPPA
Jakarta - Jelang pemilu 2019, beberapa orang tua melibatkan anak-anak pada kampanye politik. Padahal, anak belum paham dengan makna politik. Pada Minggu (17/3/2019) pagi, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menggelar kegiatan Deklarasi Kampanye Aman untuk Anak.

Kegiatan tersebut merupakan inisiasi kementerian bersama Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Komisi Perlindungan Anak (KPAI). Kurang lebih 400 anak telah berkumpul di kantor Bawaslu. Kedatangan anak-anak tersebut untuk menyuarakan perlindungan anak dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik.

Deklarasi tersebut dihadiri oleh sekretaris Kemen PPPA, Pribudiarta N Sitepu, Ketua KPU Arief Budiman, Ketua KPAI Susanto, anggota Bawaslu M. Afifuddin, beberapa guru dan tentunya anak-anak. Kemen PPPA berpesan untuk kita para orang tua, bersama-sama membangun komitmen untuk melindungi anak di masa-masa kampanye politik. Ia menegaskan untuk tidak melibatkan anak di bawah 18 tahun dalam kampanye.


"Kita bersama-sama membangun komitmen melalui deklarasi untuk perlindungan anak terutama di masa-masa kampanye politik. Anak yang berusia di bawah 18 tahun harus mendapatkan hak untuk perlindungan," ujar Pribudiarta, dikutip dari siaran pers yang diterima HaiBunda.
Pesan Kementerian PPPA agar Tak Langgar Hak Anak Saat Kampanye/ Foto: Kemen PPPA

Mengacu pada laporan masyarakat, Pribudiarta menerangkan jika menjelang pemillihan umum (pemilu) anak kerap dilibatkan dalam aktivitas kampanye politik.

"Informasi dari KPAI, tahun 2014 ada 248 kasus dengan 15 jenis modus kampanye yang melibatkan anak. Jadi kita menghadapi suatu situasi yang memang cukup serius terkait dengan pelibatan anak-anak dalam pemilu," ungkap Pribudiarta.

Pelibatan anak dalam kampanye bukan hanya merenggut hak anak. Namun, diakui salah satu orang tua yang hadir di deklarasi, Marini, hal itu sebuah bentuk eksploitasi terhadap anak. Ia tidak setuju anak dilibatkan kampanye.

"Saya banyak melihat anak dilibatkan kampanye politik. Kasihan, itu eksploitasi anak," terang ibu satu anak ini.

Di sisi lain, anak bahkan belum paham dengan makna politik. Beberapa anak yang hadir juga tak mengerti saat ditanya tentang arti kampanye pemilu dan politik. Diharapkan dengan kegiatan ini, peserta pemilu, masyarakat, orang tua serta pemangku kepentingan lainnya tidak melibatkan anak dalam kegiatan politik termasuk kampanye.

[Gambas:Video 20detik]

(aci/rap)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bukan "Aku sedang Sibuk", Ini 7 Kalimat yang Dipakai Orang Tidak Suka Basa-basi Dalam Obrolan Sehari-hari

Mom's Life Annisa Karnesyia

Benarkah Ada Tanaman yang Bisa Meringankan Siksa Kubur? Ini Pandangan Islam

Mom's Life Arina Yulistara

Momen Leony Ajak Tunangan Bule Bertemu Sahabat hingga Keluarga Besar

Mom's Life Amira Salsabila

Potret Stefan Anak Vika Kolesnaya & Billy Syahputra yang Baru Ultah Pertama, Wajah Masih Disembunyikan

Parenting Annisa Karnesyia

9 Kalimat yang Diucapkan Orang Cerdas saat Hadapi Konflik

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Bukan "Aku sedang Sibuk", Ini 7 Kalimat yang Dipakai Orang Tidak Suka Basa-basi Dalam Obrolan Sehari-hari

Benarkah Ada Tanaman yang Bisa Meringankan Siksa Kubur? Ini Pandangan Islam

Sosok Sophia Dasser, Jurnalis Berhijab di Balik Terungkapnya Kasus Dugaan Pemerkosaan di Cornell

Potret Stefan Anak Vika Kolesnaya & Billy Syahputra yang Baru Ultah Pertama, Wajah Masih Disembunyikan

10 Pekerjaan yang Cocok untuk Orang Ekstrovert, dari Marketing hingga Public Relations

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK