parenting

Pelajaran Soal Parenting dari Drama Korea SKY Castle

Maya Sofia Selasa, 16 Apr 2019 16:04 WIB
Pelajaran Soal Parenting dari Drama Korea SKY Castle Drama Korea SKY Castle/ Foto: JTBC
Jakarta - Dirilis pada November 2018, drama Korea Selatan (drakorSKY Castle sukses membetot perhatian para pencinta drakor. Drama black comedy dengan 20 episode ini bahkan berhasil memecahkan rekor dalam sejarah TV kabel di Negeri Ginseng tersebut.

Mengutip dari detikcom, berdasarkan data statistik di Nielsen Korea, episode terakhir SKY Castle, yang ditayangkan 1 Februari lalu, memecahkan rekor penonton dengan rating 23,78 persen.


Kenapa drama ini begitu menyita perhatian? SKY Castle rupanya bukan sekadar drama Korea yang menyajikan kisah romantis, Bunda.

SKY Castle merupakan drama satire yang menyoroti sisi gelap dari masyarakat Korea Selatan. Jalan cerita dalam drama ini dianggap menyindir sistem pendidikan Korea yang sangat kompetitif.

Drama SKY Castle bercerita tentang empat keluarga dari kalangan atas, yang tinggal di sebuah lingkungan elite yang juga bernama SKY Castle.

Menariknya, SKY dalam SKY Castle sebetulnya singkatan dari tiga universitas terbaik di Korea Selatan, yaitu Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University.

Dalam drama ini, keempat keluarga kaya raya tersebut memiliki keinginan yang sama, yakni agar anak-anak mereka diterima di Sekolah Kedokteran Seoul National University. Namun sayangnya, cara yang dilakukan beberapa keluarga tersebut tak patut ditiru, Bunda.

Di antaranya ada yang sangat ambisius, hingga rela menghalalkan segala cara agar sang anak lolos di universitas bergengsi tersebut. Mulai dari memaksa anaknya belajar hingga menyewa trainer khusus.

Drama Korea SKY Castle/Drama Korea SKY Castle/ Foto: Instagram @jtbcdrama
Mirisnya, sikap keras yang dilakukan para orang tua dalam drama ini justru membuat anak tertekan dan menderita. Drama SKY Castle pada akhirnya, seolah ingin memberi tahu kepada orang tua agar tidak terlalu keras dalam mendidik anak agar mereka berprestasi.

Sebab, memaksa anak untuk berprestasi justru bisa berdampak buruk pada anak itu sendiri. Seperti terlihat dalam penelitian yang dilakukan para peneliti dari University of Singapore selama lima tahun, terhadap anak-anak SD Singapura.

Hasil penelitian menunjukkan, anak dengan orang tua yang terlalu ikut campur dalam hidup mereka memiliki kecenderungan lebih tinggi bersikap terlalu kritis terhadap diri mereka sendiri. Dan kecenderungan ini meningkat selama bertahun-tahun.

Selain itu, anak-anak yang menunjukkan tingkat kritis pada diri sendiri yang tinggi dilaporkan mengalami peningkatan gejala depresi serta kecemasan.

"Ketika orang tua terlalu ikut campur dalam kehidupan anak-anak mereka, hal tersebut memberi sinyal kepada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan tak pernah cukup baik. Akibatnya, anak mungkin menjadi takut membuat kesalahan sedikit pun dan akan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak 'sempurna'," ucap Asisten Profesor Ryan Hong yang memimpin penelitian ini, dikutip dari Science Daily.

Seiring waktu, lanjut Hong, perilaku yang juga dikenal sebagai perfeksionisme maladaptif itu dapat meningkatkan risiko anak mengalami gejala depresi, kecemasan dan dalam kasus yang sangat serius bisa melakukan bunuh diri.

Tak bisa dimungkiri bahwa setiap orang tua memiliki harapan yang tinggi terhadap anak-anak mereka. Namun, Hong, menyarankan kepada orang tua untuk lebih hati-hati agar tidak memberi tekanan pada anak.

"Anak-anak harus diberikan lingkungan kondusif untuk belajar, dan bagian dari pembelajaran adalah membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut. Ketika orang tua ikut campur, lingkungan kondusif tersebut bisa hilang," katanya.


Jika anak ternyata tidak mendapatkan nilai bagus dalam ujian, orang tua juga sebaiknya menahan diri untuk tidak menyalahkan sang anak. Sebagai gantinya, orang tua harus terlebih dahulu memuji anak atas prestasinya, sebelum membuka percakapan tentang kesalahan yang mereka lakukan.

Selain itu, orang tua bisa memanfaatkan momen ini sebagai pembelajaran dibandingkan melakukan evaluasi. Dengan demikian, orang tua dapat membantu anak belajar dari kesalahannya.

[Gambas:Video Haibunda]



(som/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi