sign up SIGN UP search


parenting

Serunya Permainan Congklak, Ajarkan Anak Kesabaran dan Atur Strategi

Kinan   |   Haibunda Kamis, 19 Aug 2021 11:12 WIB
Ilustrasi permainan tradisional congklak, dakon, dhakon, dhakonan, dentuman lamban, Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang, Nogarata, Mancala. caption

Gadget saat ini kerap menjadi mainan idola anak-anak, yang membuat mereka enggan memainkan permainan tradisional. Padahal ada banyak permainan tradisional yang tak kalah seru, salah satunya permainan congklak.

Permainan congklak memiliki banyak nama sesuai budaya masing-masing daerah. Di Jawa misalnya, permainan congklak dikenal juga dengan nama dhakon. Congklak sendiri lebih populer dikenal di Sumatra, sementara khususnya di Lampung lebih dikenal dengan nama lamban.

Sementara itu, permainan congklak dikenal dengan nama maggaleceng. Ada pula yang menyebutnya dengan istilah makaotan, nagorata, gunungan atau aggalacang.


Selain oleh orang dewasa, permainan congklak juga dapat dimainkan oleh anak-anak, lho.

Sejarah permainan congklak

Dikutip dari laman Indonesia.go.id, permainan congklak sudah lama berkembang di Asia, khususnya kawasan Melayu. Menurut sejarahnya, permainan congklak kali pertama masuk Indonesia dibawa oleh bangsa Arab yang datang untuk berdagang dan berdakwah.

Maka dari itu, sering kali anak yang suka bermain congklak maka jiwa berdagang dan ketajaman berpikirnya akan lebih terasah. Sebab, permainan congklak juga merangsang kemampuan anak berhitung dan mengatur strategi untuk memiliki jumlah biji lebih banyak.

Dipercaya bahwa dulunya permainan congklak dimainkan oleh gadis-gadis muda bangsawan Jawa. Kemungkinan besar para pedagang asing yang datang ke Indonesia lebih dekat dengan masyarakat kelas atas, sehingga lebih awal  permainan congklak diperkenalkan kepada kalangan ini.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, popularitas congklak semakin berkembang sehingga mulai  banyak dimainkan oleh masyarakat awam juga. Jika awalnya di sebagian besar wilayah permainan congklak terbatas pada anak perempuan dan remaja putri, kini permainan ini juga dapat dimainkan oleh laki-laki.

Pernah juga dipercaya di Jawa Tengah, bahwa permainan congklak dimanfaatkan petani untuk memprediksi waktu menanam dan memanen. Perbedaan budaya ini yang kemudian membuat makna dan sebutan permainan congklak di Indonesia berbeda-beda. 

Arkeologi dan beberapa ahli percaya bahwa congklak berasal dari Timur Tengah, lalu menyebar ke Afrika. Bahkan banyak pula ahli yang berpendapat bahwa permainan congklak mungkin merupakan papan permainan tertua yang pernah ada di dunia. Wow!

Cara bermain permainan congklak

Congklak dimainkan oleh dua orang berhadapan, dengan menggunakan papan kayu/plastik dengan panjang sekitar 40-50 cm. Papan tersebut memiliki 14 lubang kecil saling berhadapan dan 2 lubang besar di kedua sisinya (sisi kanan dan kiri). Masing-masing pemain memiliki 7 lubang kecil dan 1 lubang besar.

Awal mula bermain, lubang-lubang kecil diisi 5-7 biji yang terbuat dari kerang atau biji sawo. Sementara itu, lubang besar dibiarkan kosong. 

Dua pemain bergantian memilih isi dari satu lubang kecil dipindahkan ke satu per satu lubang kecil lainnya  searah jarum jam, hingga biji yang ada di genggaman habis.

Permainan akan berakhir ketika semua lubang kecil kosong dan semua biji berada di lubang besar. Kemenangan ditentukan dari jumlah biji terbanyak yang ada di lubang besar masing-masing pemain.

Makna dan nilai positif bermain permainan congklak untuk anak

Meski terlihat sederhana, permainan congklak bisa membentuk karakter anak dengan baik. Selain mengasah otak dan belajar mengatur strategi, bermain congklak juga mengajarkan anak untuk jujur dan taat aturan.

Dilansir Good News from Indonesia, saat memindahkan biji congklak satu per satu, kejujuran dilatih dengan memastikan tidak ada biji yang dipindahkan lebih dari satu alias sekaligus. 

Sebab saat memindahkan biji maka bisa saja anak curang dengan sengaja menjatuhkan lebih dari satu saat lawannya sedang lengah alias tidak melihat. Nah, di sinilah kejujuran anak akan benar-benar diuji, Bunda.

Permainan congklak juga melatih anak tertib dan bersabar menunggu giliran saat teman sedang bermain. Tidak boleh menyerobot atau marah jika lawan bisa berstrategi dengan baik sehingga waktu bermainnya lebih lama.

Ingat, jika kalah, maka biasakan anak harus bisa menerima dengan lapang dada dan tetap bergembira, ya. Dengan demikian, permainan bisa dilakukan kembali dengan lebih seru dan tidak perlu bermusuhan apabila kalah.

Nah, demikian ulasan tentang congklak dan nilai positif yang bisa dipelajari anak dari permainan tradisional ini. Ingatlah untuk tetap melestarikan budaya Indonesia ya, salah satunya lewat permainan tradisional seperti congklak.

Simak juga aktivitas fisik untuk batita dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(som/som)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!