HaiBunda

PARENTING

Kenali Kondisi Enuresis Nokturnal atau Ngompol pada Anak, Penyebab dan Cara Mencegahnya

Prof. Dr. dr. Irfan Wahyudi, Sp.U K   |   HaiBunda

Senin, 19 May 2025 12:20 WIB
Anak Ngompol/ Foto: Getty Images/baona
Jakarta -

Mengompol pada anak adalah hal yang cukup sering ditemui, terutama di usia balita. Namun, jika kebiasaan ini terus berlanjut hingga mereka besar, Bunda dan Ayah perlu memeriksakannya ke dokter.

Sebagai bagian dari proses tumbuh kembang, kemampuan anak untuk mengontrol buang air kecil sebenarnya terbentuk secara bertahap. Di usia dini, anak belum memiliki kesadaran penuh terhadap kebutuhan buang air kecil, sehingga mereka perlu dibantu dengan toilet training.

Biasanya, kontrol buang air kecil saat bangun tidur lebih dulu terbentuk, setelahnya kontrol saat tidur malam pun mulai terbentuk.


Namun, jika anak masih sering mengompol di malam hari setelah melewati usia lima tahun, mereka mungkin mengalami kondisi enuresis nokturnal.

Pengertian enuresis nokturnal

Enuresis adalah kondisi di mana pada saat tidur, terutama di malam hari, anak akan mengompol tanpa disadari. Perlu disadari bahwa untuk mencapai kemampuan menahan tidak mengompol, anak akan melewati beberapa fase.

Awalnya, anak akan mengompol di pagi maupun siang hari karena tidak menyadarinya. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai bisa mengontrol kemihnya pada siang hari atau pada saat dia bangun.

Proses ini bisa dibantu dengan toilet training, Bunda. Karena itu, biasanya anak-anak dianjurkan mulai melakukan toilet training di usia dua tahun.

Sementara itu, kemampuan seorang anak untuk tidak mengompol di malam hari atau pada saat tidur itu akan muncul belakangan. Waktunya pun berbeda-beda, mulai dari usia dua tahun atau tiga tahun.

Namun, batas usia anak dianggap mampu memiliki kemampuan untuk tidak mengompol adalah usia lima tahun, Bunda. Ketika di usia ini mereka masih mengompol di malam hari, mereka dianggap mengalami masalah enuresis.

Penyebab enuresis nokturnal

Ada beberapa hal yang dianggap menjadi faktor utama penyebab enuresis nokturnal ini, Bunda. Berikut ini deretannya:

1. Kurangnya produksi hormon antidiuretik

Kurangnya produksi hormon antidiuretik, menjadi salah satu faktor utama anak mengompol di malam hari. Ini merupakan hormon yang menyebabkan produksi urine di malam hari menjadi lebih sedikit dibandingkan saat anak terjaga.

Kondisi ini menjadi kontributor utama anak masih mengompol di malam hari. Angkanya bahkan mencapai 75 persen, Bunda.

2. Kapasitas kantong kencing yang kecil

Tidur di malam hari memerlukan waktu yang lebih lama daripada tidur siang, yakni sekitar tujuh atau delapan jam. Jika kantong kencingnya kecil, maka akan menyebabkan proses mengompol di malam hari.

3. Kedalaman tidur

Kedalaman tidur anak juga menjadi salah satu faktor enuresis nokturnal. Biasanya, dalam kondisi ini Si Kecil akan sangat sulit dibangunkan.

Jenis-jenis enuresis nokturnal

Enuresis nokturnal sendiri dibagi menjadi dua jenis. Berikut ini ulasannya:

  • Enuresis monosymptomatic, yakni kondisi anak mengompol hanya saat tidur dan tidak mengompol saat terjaga.
  • Enuresis non-monosymptomatic, yakni kondisi anak mengompol saat tidak tidur ataupun tidak mengompol namun memiliki keluhan berkemih yang lain.

Tanda-tanda enuresis anak yang perlu diwaspadai

Hal pertama yang perlu diwaspadai pada kondisi enuresis pada anak adalah ketika frekuensi mengompolnya cukup sering. Misalnya dalam waktu satu minggu, kondisi mengompol hampir setiap malam terjadi.

Perlu diwaspadai juga ketika anak mengalami enuresis non-monosymptomatic. Jadi, anak tidak hanya mengalami masalah mengompol, namun juga masalah berkemih di siang hari.

Tata laksana enuresis pada anak

Biasanya, dokter akan melakukan evaluasi atau semacam pengisian diary, Bunda. Di mana, ketika anak minum dan berkemih mulai dari bangun tidur hingga esok harinya, Bunda perlu mencatat jumlah serta frekuensinya.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui seperti apa frekuensi berkemih anak terganggu atau tidak, volume urine cukup, kurang, atau berlebih, serta frekuensi mengompol di malam hari dalam satu minggu.

Risiko enuresis pada anak jika dibiarkan

Ketika enuresis pada anak dibiarkan, mereka akan menjadi lebih sulit merespons terhadap terapi yang diberikan kelak. Tidak hanya itu, Si Kecil mungkin juga akan mengalami masalah pada psikologis serta aspek sosialnya.

Ketika seorang anak, terlebih yang sudah mulai berinteraksi dengan teman-temannya, melakukan suatu acara yang mengharuskan mereka menginap di rumah temannya ataupun di sekolah, tentu anak akan mengalami rasa was-was. Hal ini juga akan berdampak pada kepercayaan dirinya.

Ada baiknya segera mencari bantuan ahli untuk mengatasi enuresis ini. Bawa Si Kecil memeriksakan diri ke dokter sehingga bisa cepat ditangani sesuai dengan kondisinya.

Jika dibiarkan terlalu lama bahkan sampai mereka berada di jenjang SD atau SMP, kondisinya justru akan semakin sulit disembuhkan.

Pencegahan enuresis pada anak

Salah satu cara pencegahan yang bisa Bunda lakukan adalah dengan memberikan terapi alarm. Ini merupakan terapi di mana ketika celana dalam Si Kecil basah, alarm akan berbunyi sehingga mereka akan menyadarinya secara mandiri.

Cara ini juga bisa membiasakan anak untuk mengetahui sensasi kantong kencing yang penuh ketika mereka tertidur. Dengan begitu, anak akan terhindar dari mengompol.

Selain terapi alarm, Bunda juga bisa memberikan nasihat-nasihat kepada Si Kecil. Misalnya dengan tidak mengkonsumsi air terlalu banyak di malam hari, dan sebagainya.

Demikian ulasan mengenai ngompol pada anak. Simak tanda-tanda anak perlu dibawa ke dokter, dan kenali penyebab anak ngompol terus-menerus.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(mua/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Sudah saatnya Anak Melepas Popok, Ini 5 Tips Melakukan Toilet Training

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Th Nikah, Arie Kriting Bongkar Kisah Awal Dekati Indah Permatasari hingga Dapat Restu Ayah Mertua

Mom's Life Annisa Karnesyia

Pedagang Tanah Abang Mulai Panen Cuan Berkat Tren Baju Lebaran Gamis Rompi Lepas

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Merasa Sesak Usai Baca Broken Strings, Ternyata Ini Penyebabnya

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Muhammad Prima Fadhilah

Tak di Rumah Sakit, Perempuan Ini Pilih Melahirkan di Tengah Ombak Laut Pasifik

Kehamilan Annisa Karnesyia

100 Kata-kata Semangat untuk Diri Sendiri dalam yang Estetik hingga dalam Bahasa Inggris

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dokter Ungkap Cacar Air Bisa Menular ke 12 Anak, Hati-hati di Sekolah!

9 Manfaat Rebusan Batang Serai, Cegah Risiko Kanker

Pedagang Tanah Abang Mulai Panen Cuan Berkat Tren Baju Lebaran Gamis 'Bini Orang'

5 Th Nikah, Arie Kriting Bongkar Kisah Awal Dekati Indah Permatasari hingga Dapat Restu Ayah Mertua

Tak di Rumah Sakit, Perempuan Ini Pilih Melahirkan di Tengah Ombak Laut Pasifik

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK