HaiBunda

PARENTING

9 Kebiasaan Tak Terduga Orang Tua yang Bisa Membentuk Anak Jadi Baik Hati Menurut Psikolog

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 14 Jan 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Kebiasaan Tak Terduga Orang Tua yang Bisa Membentuk Anak Jadi Baik Hati Menurut Psikolog/Foto: Getty Images/Korrawin
Jakarta -

Sebagai orang tua, kita sering memberi tahu anak-anak bahwa mereka bisa meraih apa saja. Misalnya ingin jadi dokter, perawat, hingga astronot, tapi pada akhirnya banyak orang tua yang berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik hati.

Meski kita tidak bisa mengontrol sepenuhnya perkembangan anak, kebiasaan sehari-hari ternyata bisa menanamkan kebaikan. Psikolog dari Kanada, Caitlin Slavens, BAACS, MC, R Psych, mengatakan bahwa orang tua bisa menumbuhkan sifat baik lewat cara sederhana dalam keseharian.

"Kebaikan tidak terjadi begitu saja tanpa anak-anak menyaksikannya dalam kehidupan nyata mereka. Anak-anak belajar kebaikan dengan mengamati bagaimana orang dewasa dalam hidup mereka memperlakukan orang lain, mengelola emosi mereka, dan memperbaiki keadaan setelah konflik," ujarnya, dikutip dari laman Parade.


Oleh sebab itu, hal-hal kecil yang kita lakukan bisa memberikan dampak yang begitu besar pada karakter anak. Dari cara kita bersikap, berbicara, hingga menanggapi masalah, semuanya jadi pelajaran berharga bagi mereka, Bunda. 

Simak ulasan selengkapnya berikut ini, yuk.

Kebiasaan orang tua yang bisa membentuk anak jadi baik hati menurut psikolog

Membesarkan anak yang baik hati memang bukanlah hal yang instan. Semua dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang diperlihatkan oleh orang tua kepada anak. Berikut penjelasan selengkapnya seperti dikutip dari laman Parade.

1. Berani mengakui kesalahan

Bunda pasti ingin sekali punya anak tumbuh menjadi pribadi yang santun dan baik hati kepada siapa saja. Ternyata, salah satu kuncinya ialah bagaimana kita sebagai orang tua berani mengakui jika melakukan kesalahan di depan mereka.

Jangan sampai kita merasa paling benar hanya karena status kita sebagai orang tua yang jauh lebih 'dewasa'. Kalau kita bisa mengakui kesalahan, Si Kecil justru akan belajar bahwa setiap manusia itu pasti punya sisi yang tidak sempurna.

"Orang tua dari anak-anak yang baik hati pun membuat kesalahan dan kehilangan kendali emosi seperti orang tua lainnya," kata psikolog sekaligus pemilik Phoenix Health, Emily Guarnotta, Psy.D., PMH-C

Ketika Bunda tidak segan untuk meminta maaf dengan tulus, anak akan melihat contoh tentang arti sebuah tanggung jawab. Pelajaran ini akan membekas di hati anak hingga mereka tumbuh dewasa nanti.

2. Menyelesaikan masalah dengan cara yang baik

Dalam menjalani peran sebagai orang tua, perselisihan dengan pasangan kadang memang sulit untuk kita hindari. Namun, momen-momen saat kita berbeda pendapat di depan Si Kecil sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk mereka belajar.

"Orang tua tidak menghindari perbedaan pendapat, tapi mereka menyelesaikannya dengan cara yang sehat. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan ini belajar bahwa hubungan tetap bisa baik meski ada perbedaan," ujar psikolog Guarnotta.

3. Tidak memaksakan anak untuk meminta maaf

Meskipun meminta maaf saat anak tengah melakukan kesalahan itu perlu, kalau memaksa untuk mengucapkannya ternyata bukan cara yang paling efektif.

Perlu kita ketahui bersama bahwa anak akan lebih memahami arti kata 'maaf' jika diberikan kesempatan untuk melakukannya dengan tulus. Cara ini yang membuat mereka belajar empati dan menghargai perasaan orang lain.

4. Membiarkan anak untuk menetapkan batasannya sendiri

Anak-anak perlu belajar untuk menetapkan batasan pribadi mereka sendiri. Walau kadang kerap membuat orang dewasa merasa tidak nyaman, hal ini penting untuk pertumbuhan mereka, ya.

"Orang tua dari anak-anak yang baik hati mendukung mereka dalam menetapkan batasan mereka sendiri, seperti tidak memeluk kerabat," kata psikolog Emily Guarnotta.

Ketika kita memberi anak ruang untuk menetapkan batasannya, secara tidak langsung Bunda juga mengajarkan mereka tentang harga diri. Anak belajar bahwa kebutuhan mereka itu penting dan layak dihargai.

"Dengan menghormati batasan anak, hal itu mengajarkan anak-anak bahwa kebutuhan mereka juga penting dan, pada gilirannya, membantu mereka menghormati batasan orang lain," tambahnya.

5. Memberi contoh empati lewat perilaku sehari-hari

Ilustrasi/Foto: Getty Images/Nuttawan Jayawan

Anak-anak belajar empati bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang mereka lihat dalam kesehariannya. Perilaku orang tua menjadi 'cermin' bagi mereka untuk memahami perasaan orang lain.

Ketika anak dengan cermat mengamati orang dewasa berpikir dan bersikap empati, mereka pun perlahan akan meniru sikap tersebut.

6. Biasakan bertanya dengan lembut saat anak berbuat salah

Ketika Si Kecil melakukan kesalahan, cobalah biasakan bertanya dengan lembut untuk memahami apa yang terjadi. Dalam hal ini, Bunda juga bisa menahan diri untuk tidak langsung memarahi atau memberi hukuman yang mungkin terasa sangat sulit bagi kita.

7. Tidak terburu-buru membereskan masalah anak

Melihat anak sedang sedih atau kesulitan memang sering membuat hati Bunda merasa tidak tega dan ingin segera menolongnya. Namun, orang tua yang berhasil membesarkan anak baik hati biasanya memberi ruang pada perasaan anak terlebih dahulu, sebelum menawarkan solusi.

Sejalan dengan hal ini, seorang psikolog berlisensi di New York, Tori Broems, Ph.D., menyampaikan bahwa orang tua perlu menghargai perasaan anak saat mereka tengah menghadapi masalah.

"Ketika anak-anak datang kepada kita dengan suatu masalah, memvalidasi pengalaman emosional anak tersebut sangat penting," katanya.

"Saat kita mampu melakukan itu terlebih dahulu, kita menunjukkan kepada anak-anak bahwa mereka penting dan bahwa suara mereka didengar. Hal ini memungkinkan anak-anak untuk merasa dipahami, yang pada gilirannya dapat menumbuhkan empati terhadap orang lain," tambah Broems.

8. Menghargai proses berjuang anak

Bunda yang hebat tidak hanya bersorak saat Si Kecil berhasil meraih juara atau mendapatkan nilai yang sempurna di sekolahnya. Sebaliknya, orang tua yang bijak akan lebih fokus merayakan setiap usaha yang sudah anak lakukan.

Kita juga tidak perlu menutupi fakta bahwa perjalanan mencapai sesuatu itu kadang sulit dan ada tantangan yang melelahkan. Saat Bunda bisa jujur membahas hambatan yang ada, anak pun akan belajar menghargai kerja kerasnya dan tetap berhati baik meski sedang merasa kesulitan.

9. Mengajak Si Kecil berbincang tentang perbedaan di sekitarnya

Terkadang, Bunda suka refleks menyuruh anak untuk diam saat ia tiba-tiba mengomentari kondisi fisik orang lain di tempat umum. Kita kerap merasa tidak enak hati dan takut ucapan jujur mereka akan menyinggung perasaan orang lain.

Bicara soal ini, Bunda bisa ajak mereka berdiskusi secara terbuka, dan jelaskan bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar. Dengan begitu, anak pun belajar menghargai orang lain.

Kebiasaan yang harus dihindari saat membentuk anak jadi baik hati

Kalau sebelumnya kita sudah bahas tentang kebiasaan orang tua yang bisa membentuk anak jadi baik hati, kini juga terdapat beberapa kebiasaan yang sebaiknya Bunda hindari. Simak, yuk.

1. Hindari memberi cap 'anak baik' atau 'anak nakal'

Sebagai orang tua, kita perlu lebih berhati-hati agar tidak sembarangan memberikan label atau sebutan tertentu pada anak. Tanpa kita sadari, sebutan itu akan tertanam kuat pada diri mereka sendiri.

"Memberi label pada anak sebagai 'anak baik' atau 'anak nakal' dapat berbahaya karena ketika seorang anak cukup sering mendengar label tersebut, label itu akan menjadi bagian dari cara mereka memandang diri sendiri," jelas psikolog Emily Guarnotta.

Kalau Si Kecil telanjur merasa dirinya adalah 'anak nakal', ia mungkin akan terus mengulangi perilaku buruk hanya demi mendapatkan perhatian dari Bunda. Maka itu, sebaiknya kita mulai fokus memuji tindakan yang mereka lakukan, ya.

2. Berhenti menggunakan kalimat yang membuat anak malu

Ketika anak berbuat salah, tanpa sadar kita tak jarang melontarkan pertanyaan yang menyudutkan, bukan begitu, Bunda? Padahal, kalimat yang memicu rasa malu ini justru bisa bikin anak merasa tertekan dan memilih untuk menutup dirinya sendiri.

Lebih dari itu, kebiasaan seperti ini juga berisiko membuat mereka terlalu fokus pada rasa sakit hatinya daripada memikirkan orang lain. Hal inilah yang bisa menghambat sifat baik hati Si Kecil, Bunda. 

Itulah ulasan lengkap mengenai berbagai kebiasaan tak terduga orang tua yang bisa membentuk anak menjadi pribadi yang baik hati. Bunda sudah terapkan?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Tak Pernah TK, Apakah Anak Tetap Bisa Daftar SD?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Th Nikah, Arie Kriting Bongkar Kisah Awal Dekati Indah Permatasari hingga Dapat Restu Ayah Mertua

Mom's Life Annisa Karnesyia

Pedagang Tanah Abang Mulai Panen Cuan Berkat Tren Baju Lebaran Gamis Rompi Lepas

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Merasa Sesak Usai Baca Broken Strings, Ternyata Ini Penyebabnya

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Muhammad Prima Fadhilah

Tak di Rumah Sakit, Perempuan Ini Pilih Melahirkan di Tengah Ombak Laut Pasifik

Kehamilan Annisa Karnesyia

100 Kata-kata Semangat untuk Diri Sendiri dalam yang Estetik hingga dalam Bahasa Inggris

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dokter Ungkap Cacar Air Bisa Menular ke 12 Anak, Hati-hati di Sekolah!

9 Manfaat Rebusan Batang Serai, Cegah Risiko Kanker

Pedagang Tanah Abang Mulai Panen Cuan Berkat Tren Baju Lebaran Gamis 'Bini Orang'

5 Th Nikah, Arie Kriting Bongkar Kisah Awal Dekati Indah Permatasari hingga Dapat Restu Ayah Mertua

Tak di Rumah Sakit, Perempuan Ini Pilih Melahirkan di Tengah Ombak Laut Pasifik

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK