Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

7 Kalimat 'Kuno' Orang Tua yang Masih Digunakan Sampai Sekarang Menurut Psikolog

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Selasa, 03 Mar 2026 14:35 WIB

7 Ungkapan 'Kuno' Orang Tua dalam Pengasuhan yang Masih Digunakan hingga Kini Menurut Psikolog
Ilustrasi Ungkapan 'Kuno' Orang Tua dalam Pengasuhan yang Masih Digunakan hingga Kini Menurut Psikolog/Foto: Getty Images/Panadda Phiakhamen
Daftar Isi
Jakarta -

Seiring bertambahnya usia, anak semakin peka menyerap berbagai hal di sekitarnya, termasuk ucapan dari orang tua. Kata-kata yang kerap terdengar bisa membekas kuat di ingatan anak, Bunda.

Apa yang mereka dengar dari orang tuanya tak sekadar lewat saja, tetapi bisa ikut terbawa hingga dewasa nanti. Cara kita berbicara turut membentuk cara anak memandang dirinya sendiri.

Meski begitu, pola asuh kerap dipengaruhi oleh zaman saat orang tua dibesarkan. Hal ini juga terlihat dalam peran orang tua maupun kakek-nenek yang membawa kebiasaan dari generasi sebelumnya.

Menurut seorang psikolog berlisensi di Thriveworks, Amerika Serikat, Dr. Crystal Saidi, Psy.D., pola pengasuhan seharusnya harus ikut berubah mengikuti perkembangan zaman.

"Pengasuhan anak harus berkembang seiring dengan budaya, norma masyarakat, dan perkembangan psikologis," ungkap Saidi, dikutip dari Yahoo Life.

"Saat ini, kita lebih memahami dari sebelumnya bahwa bahasa membentuk bagaimana anak-anak merasakan rasa aman dan koneksi. Kita harus beradaptasi dan lebih memperhatikan kata-kata yang kita gunakan dengan anak-anak," tuturnya.

Generasi Baby Boomer atau generasi yang lahir di antara tahun 1946 dan 1964, dahulu dibesarkan dengan nilai kerja keras dan ketahanan yang kuat. Namun, kalimat yang digunakan terdengar meremehkan bagi anak di masa sekarang, Bunda.

Kalimat 'kuno' orang tua dalam pengasuhan yang masih digunakan hingga kini menurut psikolog

Dalam pembahasannya, psikolog Saidi membagikan contoh ungkapan pengasuhan yang dinilai sudah ketinggalan zaman dan perlu Bunda dan Ayah pertimbangkan kembali. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari Yahoo Life.

1. "Karena saya bilang begitu"

Bunda mungkin pernah refleks mengucapkan kalimat ini saat Si Kecil terus membantah. Kata-kata ini rasanya sudah mendarah daging karena kita pun sering mendengarnya dari orang tua zaman dahulu.

Menurut Saidi, kebiasaan ini sebenarnya cara orang tua dahulu menunjukkan kekuasaan agar rumah tetap tertib. Bagi mereka, anak yang patuh adalah bentuk keberhasilan dalam mendidik.

"Ungkapan ini digunakan untuk menegakkan otoritas, terutama di rumah tangga di mana kepatuhan dikaitkan dengan ketertiban," jelasnya.

Namun, cara bicara seperti ini sekarang terasa kurang tepat karena bisa membuat anak merasa pendapatnya tidak dihargai. Anak-anak zaman sekarang lebih butuh penjelasan yang 'logis' agar mereka bisa mengerti maksud baik kita.

2. "Kamu baik-baik saja"

Orang tua tak jarang langsung mengatakan "kamu baik-baik saja," saat melihat anak jatuh atau menangis. Kalimat ini mungkin terdengar menenangkan, meski kondisi mereka tak selalu langsung membaik.

Menurut Psikolog Saidi, orang tua zaman dahulu kerap menggunakan kalimat ini untuk mengajarkan anaknya jadi pribadi yang tangguh. Tujuannya baik, yaitu agar anak tidak terlalu berlebihan dalam bereaksi.

"Generasi Baby Boomer sering menggunakan ini untuk mendorong ketahanan dan mencegah anak-anak bereaksi berlebihan," jelasnya.

Namun, niat baik tersebut justru berisiko membuat anak merasa emosi atau rasa sakitnya diabaikan. Akibatnya, anak bisa mulai meragukan perasaannya yang sebenarnya mereka rasakan dalam hati.

3. "Orang lain punya nasib yang lebih buruk"

Sering kali kita bermaksud mengajarkan Si Kecil untuk lebih bersyukur dengan membandingkan hidup mereka dengan orang lain. Sayangnya, ungkapan seperti ini justru bikin perasaan anak yang sebenarnya malah terabaikan.

Psikolog Saidi mengatakan bahwa ungkapan ini dahulu sangat populer untuk menumbuhkan rasa syukur, terutama saat kondisi ekonomi keluarga sedang sulit.

"Ungkapan ini digunakan untuk mendorong rasa syukur dan perspektif, terutama di era ekonomi yang tidak stabil," ujarnya.

"Namun, secara emosional, ungkapan ini seolah mengabaikan rasa sakit yang sebenarnya memberi kesan, bahwa perasaan sakit baru dianggap valid jika berada pada tingkat yang paling parah," jelasnya.

4. "Berhentilah menangis"

Melihat anak menangis terkadang membuat kita merasa tidak nyaman atau ingin masalahnya cepat selesai. Hal ini wajar saja karena banyak dari kita tumbuh dengan teguran serupa saat menunjukkan emosi di masa kecil.

Orang tua dahulu mengajarkan anaknya untuk mengendalikan diri agar terlihat lebih dewasa. Menahan perasaan dianggap sebagai sikap yang kuat, sementara menangis dinilai sebagai tanda kelemahan.

Namun, di masa sekarang, melarang anak menangis justru bisa bikin mereka merasa malu dengan perasaannya sendiri, Bunda.

"Anak-anak didorong untuk 'menjadi lebih kuat,' dan menangis dianggap sebagai kelemahan. Saat ini, ungkapan ini dapat terasa memalukan bagi anak-anak dan mengajarkan mereka bahwa emosi mereka tidak dapat diterima," kata Saidi.

5. "Jangan terlalu sensitif"

Bunda mungkin sesekali merasa anak terlalu mudah terbawa perasaan saat menghadapi masalah yang sepele. Namun, memberi 'label' tersebut justru bisa membuat mereka merasa ada yang salah dengan perasannya, Bunda.

Psikolog Saidi menjelaskan bahwa orang tua zaman dahulu menggunakan kalimat ini agar anak-anak mereka lebih kuat menghadapi kehidupan yang saat itu terasa begitu keras.

6. "Begitulah kehidupan"

Kalimat ini tentu sudah akrab di telinga Bunda saat sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan. Ungkapan tersebut kerap digunakan sebagai cara cepat untuk mengakhiri percakapan ketika menghadapi kenyataan yang pahit.

Bagi generasi terdahulu, kalimat ini berguna untuk membiasakan diri dengan kesulitan hidup agar bisa lebih menerima keadaan. Namun, jika terlalu sering diucapkan, dikhawatirkan nantinya bisa menghalangi anak dalam belajar mengenali perasaannya sendiri, Bunda.

7. "Jangan menangis, nanti Bunda bikin kamu nangis beneran"

Kalimat yang satu ini mungkin terdengar keras dan bisa meninggalkan bekas luka di hati anak. Bukannya menenangkan, ucapan ini justru menggunakan rasa takut sebagai cara untuk memaksa mereka berhenti menunjukkan perasaannya.

Psikolog Saidi menjelaskan bahwa ungkapan ini muncul dari cara mendidik lama yang mengandalkan ketakutan agar anak mau patuh, Bunda.

Dampaknya bisa terbawa hingga mereka dewasa, di mana anak akan merasa bahwa menunjukkan emosi adalah sesuatu yang tidak aman untuk dilakukan.

Itulah berbagai ungkapan pengasuhan orang tua yang dianggap 'kuno' dan masih digunakan hingga kini menurut psikolog. Apa Bunda atau Ayah masih menggunakannya?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda