HaiBunda

PARENTING

Kasus Anak Mengakhiri Hidup di RI Tertinggi di Asia Tenggara, Ini Kata KPAI

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 17 Feb 2026 12:20 WIB
Kasus Anak Mengakhiri Hidup di RI Tertinggi di Asia Tenggara, Ini Kata KPAI/ Foto: iStock
Jakarta -

Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Kasus anak mengakhiri hidup di Indonesia tengah menjadi sorotan. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus anak yang mengakhiri hidup di Tanah Air termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara, Bunda.

Pernyataan tersebut muncul lantaran baru-baru ini ditemukannya kasus seorang siswa meninggal dunia di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siswa ini diduga mengakhiri hidup karena tidak memiliki uang untuk membeli perlengkapan menulis.


"Kami sangat prihatin. Anak seharusnya mendapatkan hak atas pendidikan, termasuk fasilitas dasar penunjang belajar. Ketika hak tersebut tidak terpenuhi, dampaknya bisa sangat serius bagi kondisi psikologis anak," kata Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, belum lama ini.

KPAI menganggap anak mengakhiri hidup seperti yang terjadi di Ngada tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan kemiskinan. Ada potensi faktor lain yang dapat memengaruhi, seperti pola pengasuhan dan lingkungan sekolah.

"Memang anak ini tidak mampu membeli buku dan pena. Namun, kami juga melihat kemungkinan faktor pengasuhan karena orang tua tidak berada di samping anak. Selain itu, perlu didalami apakah anak juga mengalami bullying di sekolah karena belum memiliki perlengkapan belajar," ujar Diyah.

Menurut KPAI, tingginya kasus anak meninggal karena mengakhiri hidup ini telah masuk ke tahap darurat. Penanganan dari semua pihak sangat dibutuhkan, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah.

Data KPAI setidaknya menunjukkan tren kasus anak mengakhiri hidup terus muncul dari tahun ke tahun. Pada 2023 tercatat 46 kasus, 2024 ada 43 kasus, dan sepanjang 2025 sebanyak 25 kasus. Memasuki awal 2026, sudah ada tiga laporan kasus, termasuk yang terjadi di Ngada, NTT.

"Ini tidak bisa kita normalisasi. Secara garis besar Indonesia berada pada kondisi yang darurat anak mengakhiri hidup," ujar Diyah.

Lantas, apa faktor terbesar yang mendorong anak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya selain tekanan ekonomi dan pola pengasuhan?

TERUSKAN MEMBACA DI SINI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Masalah Kesehatan Mental yang Bisa Dialami Anak SD

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Sebulan Nikah, Ayusitha Akhirnya Umumkan Pernikahan dengan Gerald Situmorang 'Barasuara'

Mom's Life Annisa Karnesyia

7 Tanda Masalah Kesehatan Anak yang Bisa Terlihat dari Kuku

Parenting Angella Delvie Mayninentha & Fauzan Julian Kurnia

Kenapa Saat Imlek Identik Hujan? Ini Fakta Ilmiah dan Mitosnya

Mom's Life Natasha Ardiah

Deretan Artis yang Hamil Bareng Sahabat, Pamer Baby Bump Bareng!

Kehamilan Annisa Karnesyia

Bolehkah Puasa Ramadhan sekaligus Niat Diet?

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Sebulan Nikah, Ayusitha Akhirnya Umumkan Pernikahan dengan Gerald Situmorang 'Barasuara'

7 Tanda Masalah Kesehatan Anak yang Bisa Terlihat dari Kuku

Kenapa Saat Imlek Identik Hujan? Ini Fakta Ilmiah dan Mitosnya

Deretan Artis yang Hamil Bareng Sahabat, Pamer Baby Bump Bareng!

Kecemasan pada Anak Meningkat, Kenali Tanda-tanda dan Cara Membantunya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK