Sign Up search


parenting

Studi: Pikiran Bunuh Diri Ternyata Sudah Dirasakan Anak 9 Tahun

Annisa Karnesyia Minggu, 08 Mar 2020 19:05 WIB
Studi: Pikiran Bunuh Diri Ternyata Sudah Dirasakan Anak 9 Tahun Ilustrasi anak depresi/ Foto: iStock
Jakarta - Pikiran untuk bunuh diri bukan cuma dirasakan oleh orang dewasa. Studi menemukan, beberapa anak sudah mulai memiliki pikiran untuk bunuh diri di usia 9 dan 10 tahun.

Dikutip dari Study Finds, penulis studi dari Washington University di St. Louis menyimpulkan bahwa dinamika keluarga di rumah, memainkan peran utama dalam timbulnya pikiran bunuh diri pada anak-anak. Faktor-faktor seperti seringnya konflik antar keluarga atau kurangnya pengawasan orang tua biasanya menimbulkan pikiran-pikiran untuk melukai diri sendiri.


Selain itu, di antara anak yang diteliti dan memiliki pikiran untuk bunuh diri, sebagian besar pengasuh tidak tahu. Mereka juga tidak melaporkan bahwa anak tersebut menunjukkan tanda-tanda pernah berpikir ingin mengakhiri hidupnya.


"Sudah ada tekanan tentang ide bunuh diri pada anak dan remaja," kata Deanna Barch, ketua dan profesor Psychological & Brain Sciences dan profesor radiologi di School of Medicine.

"Tapi, hampir tidak ada data tentang ide bunuh diri dalam rentang usia ini dalam sampel populasi besar," sambungnya.

Sebanyak 11.814 anak berusia 9 dan 10 tahun, dianalisis untuk penelitian ini. Semua anak-anak, awalnya mengambil bagian dalam studi nasional yang berfokus pada kesehatan dan perkembangan otak remaja, juga termasuk pola asuh mereka.

Setelah memeriksa hasilnya, tim peneliti mencatat bahwa 2,4 sampai 6,2 persen anak-anak mengakui bahwa mereka pernah punya pikiran untuk bunuh diri. Pikiran itu seperti, 'berharap aku mati' atau menyusun rencana bunuh diri tetapi tidak dilakukan.

Sebanyak 0,9 persen responden mengatakan, telah mencoba bunuh diri. Sedangkan 9,1 persen menyatakan bahwa telah mencederai diri namun tidak sampai mengancam nyawa. Barch juga menyebutkan, dia bahkan telah melihat pemikiran bunuh diri pada anak-anak prasekolah di penelitian sebelumnya.

Ilustrasi anak depresiIlustrasi anak depresi/ Foto: thinkstock

Studi ini juga mencatat beberapa perbedaan menarik antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki cenderung memiliki pikiran untuk bunuh diri lebih sering, daripada anak perempuan. Hal tersebut berbanding terbalik saat memasuki usia remaja dan dewasa.

"Kami tidak benar-benar tahu penyebabnya. Pada saat remaja, lajunya naik untuk semua orang, tetapi naik secara tidak proporsional untuk anak perempuan. Perbedaan itu benar-benar tidak terduga," ujar Barch.

Sebagian besar orang tua tidak pernah berpikir untuk berbicara dengan anak-anak mereka tentang bunuh diri sampai usia remaja. Penulis penelitian mengatakan, temuan ini menunjukkan bahwa orang tua harus menghadapi masalah ini secara langsung.

"Anak-anak mempunyai pemikiran ini. Mereka tidak di tingkat yang sama dengan orang dewasa, namun bukan berarti tidak dipedulikan. Jika orang tua memiliki anak-anak yang tertekan, kita harus bertanya dan itu dapat membantu mengidentifikasi anak-anak yang mungkin sedang bermasalah," ungkap Barch.

Menurut peneliti klinis Lauren DiMaria, pikiran depresi dan ingin bunuh diri pada anak bisa saling berhubungan. Gejalanya mungkin tidak terlihat jelas, sehingga penting untuk mencari perawatan untuk mengatasinya.

"Seorang profesional kesehatan mental mungkin dapat menangkap isyarat pikiran bunuh diri dengan berbicara dengan anak. Selain itu mereka dapat melakukan tes psikologis, dan menilai faktor risiko individu, seperti upaya bunuh diri sebelumnya dan tingkat keparahan depresi anak," kata DiMaria, dilansir Very Well Mind.

Kalau Bunda memutuskan untuk berbicara dengan anak, mungkin timbul rasa khawatir untuk mengatakan hal yang benar. Namun kenyataannya, dengan berdiskusi secara terbuka dan jujur, kita dapat memberikan anak dukungan yang sangat dibutuhkan.


Terkait bunuh diri, jika Bunda menemukan gejalanya pada orang terdekat, segera hubungi lima rumah sakit yang disiagakan Kementerian Kesehatan untuk melayani panggilan telepon konseling pencegahan bunuh diri, yakni:

1. RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
2. RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025, 8320467
3. RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
4. RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
5. RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444

Ada pula nomor hot line Halo Kemenkes di 1500-567 yang bisa dihubungi untuk mendapatkan informasi di bidang kesehatan, 24 jam.

Bunda, simak juga cerita Tasya Kamila yang menjadi korban mom shamming, di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi