Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Stres saat Ujian pada Anak Tingkatkan Risiko Depresi & Self-Harm saat Dewasa

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Minggu, 22 Feb 2026 10:15 WIB

Stres saat Ujian pada Anak Tingkatkan Risiko Depresi & Self-Harm saat Dewasa
Ilustrasi Stres saat Ujian pada Anak Tingkatkan Risiko Depresi & Self-Harm saat Dewasa/Foto: Getty Images/FangXiaNuo
Jakarta -

Ujian kerap dianggap sebagai bagian penting dari perjalanan sekolah anak. Namun, tekanan yang muncul saat ujian ternyata bisa meninggalkan dampak yang lebih panjang.

Dilansir dari laman The Guardian, penelitian menunjukkan bahwa stres ujian di usia 15 tahun dapat meningkatkan risiko depresi dan perilaku melukai diri sendiri alias self-harm. Dampaknya tidak hanya terasa saat sekolah, tetapi bisa terbawa hingga mereka dewasa. 

Tekanan di sekolah memang bisa memengaruhi suasana hati anak, Bunda. Sayangnya, efek dari tekanan ini belum banyak dibahas secara lebih jauh sebelumnya.

Dalam sebuah penelitian, ribuan anak muda dipantau sejak usia remaja hingga dewasa. Tekanan di sekolah diukur sejak usia 15 tahun, lalu kondisi mental mereka dipantau secara berkala hingga usia awal 20-an.

Hasilnya, stres ujian di masa sekolah ternyata berkaitan dengan risiko depresi dan perilaku melukai diri sendiri ketika anak beranjak dewasa.

Dampak stres saat ujian pada kesehatan mental anak

Sebuah studi di jurnal Lancet Child and Adolescent Health menemukan bahwa remaja usia 15 tahun yang merasa tertekan dengan tugas sekolah atau tuntutan keluarga lebih berisiko depresi dan melukai diri sendiri.

Peneliti juga mencatat bahwa setiap tambahan satu poin tekanan di sekolah meningkatkan risiko depresi dan perilaku melukai diri sendiri. Selain itu, tekanan akademis juga berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk. Semakin besar stres yang dirasakan anak, semakin besar pula risiko masalah mental, Bunda.

Profesor epidemiologi psikiatri di University College London, Gemma Lewis, mengatakan bahwa tekanan di sekolah menjadi salah satu sumber stres bagi anak. Banyak remaja merasa tuntutan sekolah menjadi beban dalam kehidupan mereka.

"Kaum muda melaporkan bahwa tekanan akademis adalah salah satu sumber stres terbesar mereka," ungkap Lewis.

"Tekanan tertentu untuk berhasil di sekolah dapat memotivasi, tetapi tekanan yang berlebihan dapat membuat kewalahan dan mungkin berdampak buruk pada kesehatan mental mereka," jelasnya.

Lebih lanjut, laporan tersebut menyarankan sekolah untuk tidak hanya mengajarkan cara anak mengelola stres saja, tetapi juga menurunkan tekanan ujian itu sendiri. Misalnya, lewat program latihan relaksasi supaya anak lebih tenang. 

Stres ujian memicu self-harm pada anak remaja, ini temuan studi

Dikutip dari The Guardian, temuan terbaru memperkuat riset sebelumnya dari Young Minds yang menunjukkan tekanan ujian sangat berat bagi anak remaja. Hampir dua pertiga remaja usia 15-18 tahun mengaku sulit menghadapi stres menjelang ujian.

Sekitar seperempat remaja melaporkan mengalami serangan panik dan dua perlima lainnya mengatakan kesehatan mental mereka memburuk. Bahkan, satu dari delapan remaja mengaku menyakiti dirinya sendiri.

Kepala urusan eksternal dan penelitian di Young Minds, Inggris, Paul Noblet, mengatakan bahwa tekanan akademis dapat berdampak serius pada anak muda, Bunda.

"Bukti-bukti yang ada sangat jelas, tekanan akademis merusak kesehatan mental kaum muda," ungkapnya.

"Sekolah perlu mengurangi fokus pada ujian dan mulai menggunakan cara penilaian lainnya. Berapa lama lagi anak muda harus mengatakan mereka kesulitan sebelum perubahan yang benar-benar berarti dilakukan?" jelasnya.

Itulah penjelasan mengenai stres saat ujian pada anak yang dapat meningkatkan risiko depresi dan self-harm saat dewasa.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda