PARENTING
Psikolog Peringatkan Cara Mendisiplinkan yang Bisa Merusak Emosi Anak
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Senin, 02 Mar 2026 17:10 WIBMengasuh Si Kecil memang tidak pernah lepas dari urusan aturan dan disiplin. Di balik setiap keputusan yang diambil, ada proses belajar panjang bagi orang tua maupun anak.
Pembahasan soal time-out, aturan rumah atau kewajiban meminta maaf kerap jadi bagian dari keseharian, bukan begitu, Bunda? Setiap keluarga tentunya punya pendekatan berbeda, mulai dari yang tegas hingga lebih fleksibel, sesuai nilai yang diyakini.
Saat Si Kecil tantrum atau emosinya lagi meledak, situasinya bisa terasa menantang. Di saat seperti itu, cara orang tua merespons sangat berpengaruh pada bagaimana anak belajar memahami dan mengatur perasaannya sendiri.
Dikutip dari laman Parade, hal ini juga disoroti oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat sekaligus penulis buku Validation: How the Skill Set That Revolutionized Psychology Will Transform Your Relationships, Increase Your Influence, and Change Your Life, Dr. Caroline Fleck. Ia menjelaskan tentang kesalahan yang sebaiknya dihindari saat mendisiplinkan anak.
Lebih dari itu, Fleck juga memaparkan dampaknya terhadap kondisi emosi anak serta langkah yang bisa dilakukan orang tua. Simak penjelasan selengkapnya.
Kesalahan orang tua saat mendisiplinkan anak yang bisa merusak emosi menurut psikolog
Dalam proses mendisiplinkan anak, ada hal yang sering kali luput dari perhatian, Bunda. Bukan soal aturan rumahnya, tapi tentang bagaimana kita menyikapi perasaan anak saat ia sedang emosi.
Menurut Fleck, kesalahan yang perlu dihindari adalah penolakan emosional. Ia menyoroti bahwa mengabaikan atau meremehkan perasaan anak bisa berdampak serius pada perkembangan emosinya.
Penolakan emosional terjadi ketika perasaan anak terus diabaikan atau dianggap tidak penting. Sekilas tampak seperti bagian dari proses disiplin ya, tapi efeknya bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan, lho.
"Penelitian tentang penolakan emosi sangat mengkhawatirkan, anak-anak yang terpapar penolakan emosi yang meluas, di mana emosi mereka secara konsisten dan rutin diabaikan, diremehkan, atau dihukum secara signifikan, lebih mungkin mengalami gejala depresi dan kecemasan," ujarnya.
Selain itu, Fleck menuturkan bahwa dampaknya tidak berhenti di situ saja. Dalam jangka panjang, pola ini bisa berpengaruh pada cara anak memandang dirinya sendiri.
"Penolakan emosi dipercaya bisa berkaitan erat dengan perilaku menyakiti diri sendiri. Intinya, jika orang tua sering menolak atau mengabaikan perasaan anak, anak pun bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak mampu menerima dan memahami emosinya sendiri," tuturnya.
Mengapa orang tua tanpa sadar melakukannya?
Ketika Si Kecil menunjukkan perilaku yang dianggap salah, wajar kalau Bunda ingin segera turun tangan. Naluri kita sebagai orang tua memang ingin melindungi anak dari hal yang bisa membahayakan dirinya.
"Kita secara naluriah terprogram untuk melindungi anak-anak kita, jadi ketika kita melihat mereka berperilaku dengan cara yang dapat membahayakan keselamatan, tujuan, atau hubungan mereka, kita ingin ikut campur," kata Fleck.
Ia juga menjelaskan bahwa kita memang cenderung lebih cepat melihat hal-hal yang dianggap bermasalah. Jadi, perhatian sering langsung tertuju pada perilaku anak yang terlihat 'salah', bukan pada alasan atau perasaan yang ada di baliknya, Bunda.
"Lebih buruk lagi, kita memang punya kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan hal-hal yang terlihat 'salah' atau bermasalah, baik kita orang tua atau bukan. Perilaku yang bermasalah memang lebih mudah menarik perhatian kita," ungkapnya.
Karena itulah, reaksi anak yang meledak-ledak biasanya terasa lebih menonjol dibandingkan dengan perasaan takut atau sedih yang sebenarnya ia rasakan. Kita jadi lebih fokus pada amukannya, bukan pada emosi yang sedang ia coba sampaikan.
Cara memberikan validasi emosional pada anak
Dilansir dari Parade, berikut ini ada beberapa cara yang dapat Bunda lakukan untuk membantu anak mengenali dan memahami perasaannya dengan lebih baik.
1. Bedakan perasaan dan perilaku anak
Saat Si Kecil sedang marah atau kesal, sebaiknya Bunda tidak langsung menyamakan emosi dengan perilakunya. Kita bisa belajar melihat mana perasaan yang wajar dan mana tindakan yang memang perlu diluruskan.
Artinya, tidak semua respons anak itu salah, ya. Perilakunya mungkin saja kurang tepat, tetapi emosinya tetap perlu diakui supaya anak merasa lebih dipahami.
Oleh karena itu, yang perlu ditegur adalah tindakannya, bukan perasaannya, Bunda. Dengan cara ini, anak akan belajar bahwa merasa marah itu boleh saja, tetapi tetap ada batas dalam bersikap.
2. Akui emosi dan atur responsnya
Dalam memberikan validasi, Bunda juga perlu ingat bahwa emosi anak pada dasarnya selalu 'valid'. Meski kadang suka terlihat berlebihan atau tidak sesuai situasi, perasaan itu tetap 'ada' bagi mereka.
Namun, mengakui emosi bukan berarti membiarkannya tanpa arahan, ya. Bunda tetap bisa memberi dukungan dan membantu anak menenangkan diri dengan cara yang lebih tepat.
Nah, itulah penjelasan mengenai cara mendisiplinkan anak yang bisa merusak emosinya berdasarkan penjelasan dari psikolog. Semoga informasinya bisa jadi pengingat agar kita dapat lebih bijak dalam menghadapi perasaan anak, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Tanda Anak Tumbuh Bahagia Berkat Pola Asuh Orang Tua yang Hebat
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Cara Ajarkan Anak Kenali Emosinya agar Tidak Sering Tantrum
Rahasia Mendidik Anak Tanpa Perlu Sering Memberi Larangan, Bunda Perlu Tahu
6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Pentingnya Ajarkan Pengendalian Emosi Anak Sejak Dini, Bunda Perlu Tahu
TERPOPULER
Cara Mengenali Orang yang Belum Dewasa Secara Emosional dari Sikapnya Sehari-hari
Potret Adzam Anak Nathalie Holscher di Pernikahan Ibunda, Curi Perhatian Netizen
12 Jenis Penyakit Kelamin yang Mengintai Laki-laki dan Perempuan
Penyakit Tha'un yang Mewabah pada Zaman Rasulullah, Ini Penyebab dan Kisah di Baliknya
Alasan Menyentuh Adam Sandler Kirim Bunga ke Jennifer Aniston Setiap Hari Ibu
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Dispenser Air Dingin Hemat Listrik, Praktis untuk Cuaca Panas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Perlengkapan Jahit Lengkap yang Wajib Dimiliki Pemula
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Baju Tidur Bayi Baru Lahir yang Nyaman Dipakai
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Notebook untuk Journaling yang Simple, Aesthetic, hingga Vintage
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Hair Oil untuk Rambut Kering agar Lebih Halus, Mudah Diatur & Penumbuh Rambut
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Cara Mengenali Orang yang Belum Dewasa Secara Emosional dari Sikapnya Sehari-hari
12 Jenis Penyakit Kelamin yang Mengintai Laki-laki dan Perempuan
Potret Adzam Anak Nathalie Holscher di Pernikahan Ibunda, Curi Perhatian Netizen
Penyakit Tha'un yang Mewabah pada Zaman Rasulullah, Ini Penyebab dan Kisah di Baliknya
Rumah 'Berhantu' Ditinggal 30 Tahun Laku Terjual Rp39 Miliar, Jadi Rebutan Banyak Pembeli
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Plastik Klip, Zipper Pouch, atau Travel Pouch: Mana yang Cocok Buat Kebutuhanmu?
-
Beautynesia
4 Manfaat Tidur Pakai Kaus Kaki Menurut Ahli
-
Female Daily
Koleksi Leather Goods Terbaru PEGGY HARTANTO Hadir dengan Siluet Baru dan Warna Pastel yang Chic!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Demi Moore Jadi Cameo di MV KATSEYE 'Animal', Gaya Elegan Curi Atensi
-
Mommies Daily
MD New Parents 101: Review Essential Oil untuk Bayi dan Anak, Cessa dan Rumah Atsiri