sign up SIGN UP search


parenting

6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu

Haikal Luthfi Jumat, 04 Jun 2021 12:16 WIB
anak marah caption
Jakarta -

Apakah buah hati Bunda mudah marah dan tersinggung? Hati-hati, karena perilaku ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mentalnya. Penting bagi orang tua untuk mencari tahu apa penyebabnya.

Gaya parenting keluarga disinyalir sangat memiliki pengaruh terhadap perkembangan emosi anak lho, Bunda. Mengutip buku berjudul Emosi anak usia dini dan strategi pengembangannya (2011), orang tua harus meninjau kembali dan memperbaiki pola asuh yang diterapkan kepada anak, dan menerapkan pola asuh yang bertolak belakang dengan kebiasaan yang dilakukan selama ini.

Sehingga, apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosinya positif, maka perkembangan emosi mereka akan menjadi positif. Sebaliknya, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya negatif seperti melampiaskan kemarahan, maka perkembangan emosi mereka akan menjadi negatif pula.


Menurut psikolog Lynne Kenney dan konsultan kesehatan mental anak usia dini, Wendy Young, dalam buku 50 Panduan Mengasuh Anak yang Sulit Diatur mengatakan bahwa orang tua harus terus memberikan dukungan untuk membantunya menyesuaikan dengan nilai yang diajarkan.

"Setiap kali Anda memberikan bimbingan atau melatih anak Anda secara emosional, Anda sedang membangun jalur baru di otaknya untuk menggantikan perilaku lama yang tidak diinginkan," ujarnya.

Cara mengendalikan emosi

Tidak mudah untuk mengendalikan emosi anak. Bahkan beberapa dari mereka lebih sering atau lebih mudah marah, Bunda.

Kemarahan mereka mungkin begitu kuat sehingga perasaan menjadi tidak terkendali dan menyebabkan mereka bertindak dengan cara yang tidak dapat diterima. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk melakukan kontrol emosi pada mereka, adapun beberapa caranya seperti dikutip laman Very Well Mind sebagai berikut:

anak marahIlustrasi anak emosi/ Foto: iStock

1. Pahami pemicunya

Waspadai apa yang memicu kemarahan anak. Apakah ada waktu-waktu tertentu dalam sehari dimana kemarahan anak tampak memuncak? Apakah ada pola? Terdapat beberapa kemungkinan ketika rasa marah tersebut muncul:

Bunda mungkin memperhatikan bahwa sepulang sekolah adalah waktu yang paling sulit karena anak dapat menurunkan kewaspadaannya dan melepaskan perasaan yang terpendam. Mungkin saat mereka merasa lapar atau lelah. Mungkin ada pemicu yang memicu anak seperti ketika mengalami frustrasi dengan tugas.

2. Intervensi lebih awal

Saat Bunda menjadi lebih sadar akan pemicunya, Bunda dapat mulai melakukan intervensi sebelum kemarahannya memuncak. Jadilah pribadi yang menghadirkan ketenangan.

Jika anak merespons kontak fisik dengan baik, gosok punggung atau lengannya. Dorong mereka untuk menarik napas dalam-dalam dan hitung dari 1 sampai 10. Lakukan ini bersama mereka untuk membantu mendemonstrasikan teknik ini, Bunda.

3. Berikan batas waktu

Batas waktu tidak harus berupa hukuman. Ini adalah cara yang bagus bagi anak untuk melepaskan diri dari situasi negatif untuk meluangkan waktu untuk menenangkan diri.

Dekati mereka setelah batas waktu habis. Pilih waktu ketika anak sedang dalam kondisi tenang dan bicarakan tentang bagaimana menggunakan waktu istirahat. Beri anak rasa kontrol dengan meminta mereka memilih kursi santai yang ditentukan jauh dari hiruk pikuk rumah tangga. Sekarang mereka akan mengerti bagaimana menggunakannya ketika mereka membutuhkannya.

Berikan pujian kepada anak karena dapat menggunakan waktu untuk menenangkan diri, dan kemudian luangkan waktu untuk berbicara tentang apa yang terjadi.

4. Label perasaan

Saat Bunda melihat anak mulai merasa frustrasi, renungkan perasaan mereka. Saat kesadaran mereka meningkat, Bunda dapat membantu anak melabeli perasaannya.

Jika Bunda mendapat kabar terbaru tentangnya, misal bahwa anak mengalami hari-hari yang sulit bersama teman-temannya, habiskan waktu untuk berbicara dengan mereka tentang bagaimana rasanya. Bantu anak untuk mengungkapkan perasaannya dengan menggunakan kata-kata.

5. Tawarkan pilihan

Menawarkan pilihan kepada anak akan memberi mereka rasa kontrol. Jika Bunda tahu bahwa anak mengalami kesulitan dengan transisi emosi, bantu mereka melewati ini dengan menawarkan pilihan.

Pastikan untuk membatasi jumlah pilihan menjadi dua atau tiga. Terlalu banyak pilihan dapat membuat anak merasa kewalahan atau terlalu terstimulasi.

6. Cukup tidur

Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan tidur. Ketika anak-anak tidak cukup tidur, mereka lebih mudah marah dan murung, lebih sulit mentoleransi stres, lebih mudah frustrasi. Oleh sebab itu, pastikan anak cukup tidur demi mengurangi rasa stres pada diri mereka, Bunda.

(haf/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi