PARENTING
Kenali Parentification, Saat Anak Dipaksa Dewasa & Memikul Peran Orang Tua
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Minggu, 17 May 2026 21:00 WIBTidak semua anak bisa menikmati masa kecilnya dengan tenang. Ada anak yang sejak kecil justru merasa harus kuat, mengalah, dan mengurus banyak hal di rumah.
Dalam beberapa keluarga, posisi anak dan orang tua bisa berubah tanpa disadari. Anak akhirnya mendapati dirinya menjadi penengah masalah, menjaga adik, hingga ikut memikirkan kondisi emosional orang tuanya.
Situasi ini dikenal dengan istilah parentification atau parentifikasi. Kondisi ini terjadi ketika anak memikul tanggung jawab yang seharusnya menjadi tugas orang dewasa di rumah.
Psikolog klinis berlisensi di New York City, Becky Kennedy, menjelaskan bahwa anak yang mengalami parentification tumbuh dengan perasaan bahwa kebutuhan dan emosinya sendiri merupakan sebuah ancaman.
"Anak belajar bahwa perasaan dan kebutuhan mereka sendiri adalah ancaman," jelas Kennedy, dikutip dari laman Parents.
Karena terbiasa memendam perasaan, anak bisa jadi pribadi yang selalu mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri. Simak selengkapnya berikut ini.
Jenis-jenis parentification
Dikutip dari laman Parents, parentification terjadi ketika orang tua terlalu bergantung pada anak. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari satu juta anak muda di Amerika Serikat mengalami kondisi parentification.
Co-Direktur Program Terapi Kognitif-Perilaku Anak di Massachusetts General Hospital, Aude Henin, menjelaskan dalam hubungan yang sehat, orang tua seharusnya menjadi sosok yang merawat dan mendukung anak.
"Dalam hubungan orang tua-anak yang sehat, orang tua merawat anak dan menawarkan dukungan instrumental (makanan, tempat tinggal, struktur harian) dan dukungan emosional tanpa syarat (cinta, kasih sayang, bimbingan, aturan)," kata Henin.
Namun, ketika orang tua tidak mampu memberikan hal tersebut, anak bisa mengambil alih peran yang bukan tanggung jawabnya. Akhirnya, mereka harus menjaga dan merawat orang tuanya sendiri.
Menurut para ahli, parentification sendiri terbagi menjadi dua jenis, yaitu emosional dan instrumental. Berikut penjelasannya:
Parentification emosional
Anak yang mengalami parentification emosional kerap terlibat dalam urusan perasaan orang dewasa di rumah. Mereka bisa menasihati orang tua, meredakan konflik keluarga, atau menghibur saudara saat kesulitan.
Namun, mereka biasanya tidak mendapat dukungan emosional yang sama dari orang tuanya. Psikolog Kennedy menjelaskan bahwa orang tua bisa saja justru menjadikan anak sebagai tempat curhat.
"Orang tua menceritakan rahasia kepada anak mereka atau mendatangi anak mereka untuk mendapatkan kenyamanan emosional, bukan sebaliknya," ujar Kennedy.
Parentification instrumental
Pada parentification instrumental, anak diberi tanggung jawab untuk mengerjakan berbagai pekerjaan di rumah. Misalnya seperti membayar tagihan, memasak, belanja kebutuhan, mengatur janji dokter, hingga menyiapkan adik untuk sekolah.
Namun, tidak semua tugas rumah tangga bisa disebut parentification, Bunda. Co-Direktur Henin menjelaskan orang tua perlu melihat dua hal, yaitu "kebutuhan siapa yang dipenuhi?" dan "apakah tugas itu sesuai dengan usia anak?".
Henin menambahkan memberikan tugas yang sesuai usianya justru baik untuk anak. Mengapa demikian? Hal ini bisa membantu anak untuk belajar tanggung jawab dan meningkatkan keterampilannya, Bunda.
"Memberikan tugas-tugas rumah tangga yang sesuai dengan usia anak adalah hal yang sehat untuk membangun rasa kompetensi dan tanggung jawab serta meningkatkan keterampilan mereka," kata Henin.
Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa tanggung jawab sesekali dalam situasi tertentu masih wajar saja, misalnya saat orang tua sakit. Namun, berbeda dengan kondisi jika anak terus-menerus dibebani tugas layaknya orang dewasa.
Dampak negatif parentification terhadap anak
Mengurus tanggung jawab orang tua setiap harinya tentu bukanlah hal yang mudah. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada perkembangan mereka.
Psikolog Kennedy menjelaskan bahwa anak bisa tumbuh dengan keyakinan yang "keliru" tentang dirinya sendiri.
"Anak-anak belajar bahwa kebutuhan dan perasaan mereka sendiri merupakan ancaman bagi sistem keterikatan mereka, atau keselamatan mereka," jelas Kennedy.
Karena tidak mendapatkan "ruang" untuk mengekspresikan perasaannya, anak jadi terbiasa memendam semuanya sendiri. Mereka pun sering ragu dengan kemampuan dirinya.
Tekanan yang terus-menerus ini juga bisa memicu masalah lain, Bunda. Mulai dari kecemasan, depresi, hingga gangguan kesehatan mental lainnya.
Lebih dari itu, parentification juga dikaitkan dengan perilaku agresif, masalah di sekolah hingga kesulitan dalam bersosialisasi. Dampak ini bisa berlangsung lama dan tentu saja dapat berpengaruh pada kehidupan anak hingga dewasa.
Cara mengatasi parentification pada anak
Anak-anak yang mengalami parentification tidak selalu membutuhkan perawatan yang khusus, Bunda. Namun jika mereka menderita efek negatif, misalnya kecemasan atau depresi, ada baiknya berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.
Biasanya, terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi keluarga menjadi pilihan untuk membantu kondisi ini. Henin menjelaskan bahwa semakin cepat hubungan orang tua dan anak yang tidak sehat dikenali, semakin baik pula hasilnya bagi anak.
"Semakin dini dinamika hubungan orang tua-anak yang tidak sehat dapat diidentifikasi, semakin baik bagi anak," kata Henin.
Ia juga menyampaikan pentingnya melihat kondisi keluarga tanpa menyalahkan siapa pun. Setiap keluarga biasanya sudah berusaha melakukan yang terbaik, meskipun hasilnya belum tentu maksimal.
"Penting untuk mendekati situasi ini tanpa menghakimi anak atau orang tua, dan menyadari bahwa keluarga biasanya melakukan yang terbaik yang mereka bisa untuk mengatasi situasi tersebut, meskipun hasilnya tidak sehat," pungkasnya.
Itulah penjelasan mengenai parentification, ketika anak dipaksa dewasa dan memikul peran orang tua lebih cepat dari seharusnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Cara Tepat Hadapi Pubertas Anak
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
3 Dampak Buruk Tak Menjaga Kesehatan Mental Anak
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
5 Potret Xavier Anak Rini Yulianti Berwajah Korea Seperti Sang Ayah
Kenali Parentification, Saat Anak Dipaksa Dewasa & Memikul Peran Orang Tua
Kumpulan Arti Mimpi Diri Sendiri Hamil
Zodiak yang Paling Ramah dan Tidak Pernah Bersikap Sombong
Ciri-Ciri Kepribadian Orang Lebih Suka Ngemil Sepanjang Hari
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Vacuum Cleaner Wet and Dry, Sedot Debu Sekaligus Mengepel Lantai
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Wajan Penggorengan Stainless Steel Bahan Tebal & Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Highlighter & Contour Stick Terbaik, Mudah Dipakai Cocok untuk Pemula
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Buku untuk Ibu Hamil yang Berikan Banyak Tips Bermanfaat
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kipas Angin Air Cooler Terbaik untuk Cuaca Panas Terik
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
5 Potret Xavier Anak Rini Yulianti Berwajah Korea Seperti Sang Ayah
Kumpulan Arti Mimpi Diri Sendiri Hamil
Kenali Parentification, Saat Anak Dipaksa Dewasa & Memikul Peran Orang Tua
Ciri-Ciri Kepribadian Orang Lebih Suka Ngemil Sepanjang Hari
Black Garlic, Si Hitam Manis Kaya Manfaat! Ini Cara Mudah Bikinnya di Rumah
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Fix! Jackie Chan Bintangi Armour of God IV Setelah 40 Tahun
-
Beautynesia
5 Tanda Orang Menggantungkan Kebahagiaan pada Orang Lain
-
Female Daily
LIEBESKIND Berlin Comeback ke Indonesia, Hadirkan Tas Kulit Premium dengan Desain Timeless!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Potret Tasya Farasya Recreate Gaya Anne Hathaway, Tampil Beda Berponi
-
Mommies Daily
5 Dampak Kecanduan Video Pendek pada Anak: Fokus Menurun hingga Emosi Tidak Stabil