Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Brainrot: Kenali Arti, Gejala, Dampak Berbahaya, dan Cara Mengatasinya

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Rabu, 13 May 2026 09:30 WIB

Gejala dan bahaya brain rot anak
Gejala dan bahaya brain rot anak/ Foto: Getty Images/graphicnoi
Daftar Isi

Brainrot menjadi istilah yang belakangan ini makin sering muncul di media sosial, terutama lewat berbagai konten viral dan brainrot meme yang ramai dibicarakan. Namun, tak sedikit Bunda yang mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa itu brainrot dan apakah kondisi ini hanya sekadar tren internet biasa?

Yuk, simak informasi selengkapnya tentang brainrot di bawah ini. Dengan mengenali gejala serta dampaknya sejak awal, Bunda dapat lebih bijak dalam mendampingi anak maupun mengatur penggunaan media sosial sehari-hari.

Apa itu brainrot

Mengutip dari laman WebMD, brainrot atau brain rot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang, termasuk anak kecil, terlalu sering melihat konten internet yang kurang bermanfaat atau hanya sekadar hiburan singkat tanpa adanya jeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan ini bisa membuat seseorang, khususnya anak kecil jadi sulit fokus, cepat bosan, mudah lelah saat belajar, hingga lebih susah berkonsentrasi setelah terlalu lama bermain gadget atau menonton video di media sosial.

Fenomena brainrot semakin dikenal luas setelah dipilih sebagai Oxford Word of the Year 2024. Oxford University Press mendefinisikan istilah ini sebagai penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat terlalu sering melihat konten internet yang kurang bermanfaat dan hanya menjadi hiburan sesaat.

Menurut seorang pakar psikiatri dari Hackensack University Medical Center, Gary Small, MD, brainrot lebih merujuk pada penurunan fungsi kognitif pada otak yang terasa ketika seseorang terlalu banyak menikmati konten internet yang tidak memberikan stimulasi berarti pada otak. Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat lelah, sulit fokus, pikiran terasa kosong, bahkan tubuh tetap lesu meski sudah cukup lama beristirahat.

“Istilah ini merujuk pada penurunan mental atau kognitif yang tampaknya terjadi ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak konten yang tidak menantang atau sepele secara online,” jelas Gary Small, MD.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa brainrot bukan sekadar istilah tren di media sosial, tetapi juga menggambarkan dampak dari kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan tanpa kontrol.

Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk mulai membatasi penggunaan gadget dan memilih tontonan yang lebih bermanfaat agar kesehatan mental serta kemampuan fokus anak tetap terjaga dengan baik.

Gejala brainrot

Bunda, brainrot bisa dialami oleh siapa saja yang terlalu sering terpapar internet dan media sosial, termasuk anak-anak hingga remaja. Kondisi ini umumnya muncul secara perlahan lewat perubahan kebiasaan sehari-hari yang sering tidak disadari.

Masih dari sumber yang sama, berikut ini gejala brainrot yang sering muncul dan dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa:

  • Lebih fokus bermain handphone dibanding menikmati waktu bersama orang sekitar.
  • Tidak bisa jauh dari gadget meski sedang belajar.
  • Berkali-kali membuka ponsel hanya untuk mengecek pesan atau notifikasi.
  • Pikiran terasa penuh karena terlalu banyak melihat informasi yang sebenarnya tidak penting.
  • Jam tidur mulai berantakan dan lebih sulit tidur di malam hari.
  • Mata terasa pegal, cepat lelah, atau kepala terasa pusing setelah terlalu lama menatap layar gadget. 

Bagaimana brainrot bisa terjadi? 

Hingga saat ini, para ahli kesehatan masih meneliti bagaimana brainrot bisa terjadi, tetapi salah satu faktor yang diduga berperan adalah hormon dopamin atau hormon yang memunculkan rasa senang. Saat anak terus-menerus bermain gadget, khususnya scrolling media sosial, otak dapat menerima lonjakan dopamin yang membuat suasana hati terasa lebih menyenangkan untuk sementara waktu.

Namun, paparan konten digital tanpa jeda juga bisa membuat otak anak bekerja terlalu keras dan mudah lelah. Kebiasaan menggunakan gadget setiap hari dalam waktu lama, diduga dapat memicu stres berkepanjangan yang akhirnya berkaitan dengan munculnya brainrot.

Cara mencegah brain rot atau brainrot

Dikutip dari laman detikcom, seorang pakar sekaligus dosen divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Melly Latifah, membagikan enam cara yang dapat dilakukan Bunda dan Ayah untuk membantu melindungi Si Kecil dari pengaruh buruk konten aneh dan tidak masuk akal seperti fenomena brainrot anomali, yaitu:

1. Perkuat pemahaman digital anak

Bunda dan Ayah sebaiknya membantu Si Kecil untuk lebih memahami bahwa banyak konten di internet dibuat dengan bantuan teknologi AI atau kecerdasan buatan. Dengan begitu, anak bisa mengerti bahwa tidak semua hal yang muncul di media sosial benar-benar nyata.

2. Atur dan batasi penggunaan gadget

Batasi waktu bermain gadget agar anak tidak terlalu lama terpapar konten digital setiap hari. Bunda juga dapat mengaktifkan mode pembatas dan mengurangi penggunaan gadget menjelang waktu tidur.

3. Ajak anak berdiskusi tentang konten

Saat anak menonton konten aneh atau absurd, cobalah mengajak mereka berpikir kritis daripada hanya menonton secara pasif saja. Misalnya, Bunda bisa bertanya bagian mana yang terasa tidak masuk akal dari video tersebut.

4. Cognitive Anchoring

Ketika Bunda melihat anak sedang menonton konten yang dirasa aneh, Bunda bisa bantu mereka untuk memahami kenyataan atau fakta yang sebenarnya. Seperti, “Cappucino adalah sebuah minuman, bukan ballerina”. Cara seperti ini dapat membantu anak membedakan antara hiburan dan fakta nyata.

5. Jelaskan dampak buruk menonton konten berlebihan

Bunda juga bisa berikan penjelasan bahwa terlalu sering menonton konten tidak jelas dapat memengaruhi fokus, pola pikir, hingga kesehatan mental anak. Pemahaman ini penting agar anak lebih bijak saat menggunakan media sosial.

6. Digital detox

Jika penggunaan internet pada anak mulai sulit dikendalikan, Bunda bisa mengajak anak untuk rehat sementara dari gadget selama beberapa hari. Gantilah waktu tersebut dengan aktivitas fisik, bermain secara langsung, atau melakukan kegiatan seru lainnya bersama keluarga.

Dampak berbahaya brain rot atau brainrot

Kebiasaan terlalu lama menonton konten-konten aneh di sosial media tanpa kontrol dapat memengaruhi kesehatan mental dan fungsi otak anak. Dilansir Healthline, berikut ini dampak brainrot yang perlu Bunda waspadai:

  • Otak terasa sangat penuh dan sulit fokus
  • Emosi menjadi kurang peka
  • Muncul pikiran negatif terhadap diri sendiri
  • Daya ingat menurun
  • Sulit mengambil keputusan
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Risiko cemas dan depresi meningkat.

Cara mengatasi brain rot atau brainrot

Jika anak mulai merasa sulit fokus atau terlalu bergantung pada gadget, penting bagi Bunda untuk segera mencari cara mengatasi brainrot. Dengan kebiasaan yang tepat, kondisi brainrot pada anak dapat perlahan dikurangi agar pikirannya terasa lebih tenang dan bisa produktif kembali.

Masih bersumber dari situs yang sama, berikut beberapa cara mengatasi brainrot yang bisa dicoba:

1. Batasi penggunaan gadget

Bunda harus menentukan waktu khusus agar anak bisa berhenti bermain media sosial atau menonton konten-konten aneh supaya otak mereka bisa mendapatkan waktu istirahat.

2. Coba istirahat sejenak dari gadget dan teknologi lainnya

Mengurangi penggunaan gadget dan internet untuk sementara waktu juga dapat membantu pikiran anak terasa lebih segar dan tidak mudah lelah.

3. Lakukan aktivitas yang melatih otak

Bunda juga bisa mengajak anak untuk Isi waktu luang dengan aktivitas fisik secara langsung, seperti membaca, bermain puzzle, menulis, atau kegiatan lain yang dapat merangsang konsentrasi dan kreativitas Si Kecil. 

Apakah brainrot pada anak bisa sembuh? 

Setelah mengetahui penjelasan mengenai brainrot, pasti banyak dari Bunda yang bertanya-tanya, apakah brainrot bisa sembuh atau tidak. Berikut ini penjelasannya menurut laman WebMD, Bun. 

Brainrot sebenarnya bukan penyakit medis. Jadi, tidak ada obat khusus untuk mengatasinya brain rot. Meski begitu, kondisi brainrot ini tetap bisa membaik jika anak mulai mengurangi waktu bermain gadget dan media sosial.

Agar brainrot perlahan berkurang, anak bisa diajak melakukan kegiatan yang lebih positif dan melatih otak. Misalnya seperti membaca buku, mencoba hobi baru, bermain permainan yang mengasah otak, atau lebih sering beraktivitas di luar rumah.

Bagaimana brainrot dapat memengaruhi kesehatan anak?

Kebiasaan terlalu sering mengonsumsi konten digital tanpa kontrol dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar dan memahami sesuatu. Dalam Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar oleh Firzani, kondisi brainrot disebut dapat membuat kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah menjadi menurun.

Selain itu, anak juga bisa menjadi lebih bergantung pada gadget dan mulai jarang berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Jika terjadi terus-menerus, brainrot bahkan berisiko menghambat perkembangan kognitif anak sesuai tahap pertumbuhannya, Bun. 

Kapan orang tua harus mencari bantuan profesional jika anak alami brainrot?

Bunda sebaiknya mulai mencari bantuan dari para ahli dan tenaga profesional jika kebiasaan brainrot pada anak sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Misalnya anak menjadi sulit fokus saat belajar, mudah marah, susah lepas dari gadget, hingga mulai menarik diri dari lingkungan sekitar.

Selain itu, bantuan dari ahli juga diperlukan bila kondisi ini membuat pola tidur, emosi, atau prestasi anak berubah cukup drastis dalam waktu lama. Dengan penanganan yang tepat, anak bisa dibantu untuk kembali memiliki kebiasaan yang lebih sehat dan seimbang.

Konten anomali bikin anak brainrot, begini saran dampak dan saran akademisi

Fenomena brainrot anomali kini semakin sering muncul di media sosial dan mudah diingat anak-anak. Kontennya biasanya menampilkan hal-hal absurd seperti karakter manusia berbentuk pentungan kayu (Tung-Tung-Tung sahur), hiu memakai sepatu, hingga gabungan cappuccino dan balerina yang disebut balerina cappucina.

Sekilas, konten seperti ini memang terlihat lucu dan menghibur. Namun jika ditonton terus-menerus, konten brainrot dikhawatirkan dapat memengaruhi cara anak memahami realitas dan lingkungan sekitarnya.

Pakar IPB University sekaligus dosen divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Melly Latifah, juga menjelaskan bahwa anak usia dini masih berada pada tahap perkembangan praoperasional berdasarkan teori Piaget. Pada fase ini, anak masih belajar memahami dunia sehingga belum sepenuhnya mampu membedakan fantasi dan kenyataan.

“Visual yang 'hiper-absurd' dapat memicu pelepasan dopamin secara berlebihan, yang berdampak pada fokus dan emosi,” ujar Melly dikutip dari laman IPB University.

Selain itu, beberapa konten brainrot anomali juga memakai narasi yang acak dan tidak saling berkaitan. Kondisi ini dinilai bisa memengaruhi kemampuan anak dalam memahami susunan bahasa dengan baik.

Tak hanya itu, konten anomali brainrot juga disebut dapat mengurangi rasa empati pada anak dan remaja. Pasalnya, banyak konten ditampilkan tanpa konteks emosional yang jelas sehingga anak menjadi kurang peka terhadap perasaan orang lain.

Bunda, itulah penjelasan mengenai pengertian brainrot, gejala, hingga dampak yang ditimbulkan dan bisa berakibat negatif untuk anak. Semoga informasi di atas sangat membantu ya, Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda