PARENTING
5 Kesalahan Orang Tua yang Bisa Memperpendek Usia Anak, Sering Dianggap Sepele
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Kamis, 21 May 2026 16:50 WIBSetiap orang tua tentu ingin anak tumbuh sehat dan bisa menjalani hidup dengan baik hingga dewasa nanti. Banyak Bunda dan Ayah yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Si Kecil setiap harinya.
Namun tanpa disadari, ada kebiasaan dalam pengasuhan yang ternyata bisa berdampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang. Mungkin saja orang tua merasa sudah menjaga anak dengan baik, mulai dari makanan hingga kebiasaan di rumah.
Seorang dokter spesialis anak bersertifikat di Amerika Serikat, dr. Amanda Furr, membagikan pandangannya terkait kebiasaan yang dapat berpengaruh pada kesehatan anak dalam jangka panjang.
Kondisi ini bukan berarti orang tua sengaja membahayakan anak ya, Bunda. Justru karena tampak sepele, banyak orang tua tidak sadar bahwa kebiasaan tersebut bisa berpengaruh pada kesehatan anak di masa depan.
5 Kesalahan orang tua yang bisa memperpendek usia anak
Terdapat kesalahan orang tua yang tanpa disadari bisa berdampak pada kesehatan anak. Berikut penjelasan lengkapnya yang dikutip dari laman New York Post:
1. Menggunakan car seat menghadap ke depan
Orang tua kini banyak yang mengubah posisi car seat anak dari menghadap belakang menjadi menghadap depan saat mereka sudah memenuhi batas tinggi atau berat tertentu.
Biasanya, perubahan ini dilakukan ketika anak mulai terlihat lebih besar atau kakinya tampak tertekuk di car seat. Padahal, kondisi tersebut belum tentu menandakan anak siap duduk menghadap depan.
Dokter Furr mengatakan penggunaan car seat menghadap depan dapat meningkatkan risiko cedera pada anak. Sebab, posisi menghadap belakang bisa mengurangi tekanan benturan pada bagian punggung, kepala, dan leher anak.
Menurutnya, anak sebaiknya tetap menggunakan posisi menghadap belakang selama car seat mereka masih memungkinkan untuk digunakan seperti itu. Pasalnya, tulang belakang anak, terutama balita, masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan mengalami cedera.
"Posisi menghadap ke belakang jauh lebih aman dan anak-anak harus tetap menghadap ke belakang selama car seat mereka memungkinkan," kata dr. Furr.
"Tergantung pada anak dan kursinya, biasanya hingga usia 2 hingga 4 tahun, dan terkadang lebih lama. Tulang belakang balita masih dalam tahap perkembangan dan kecelakaan saat menghadap ke depan memberikan tekanan yang sangat besar pada struktur yang rapuh tersebut," sambungnya.
2. Terlalu menuruti anak yang pilih-pilih makan
Menghadapi anak yang pilih-pilih makanan memang jadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Tak sedikit orang tua yang akhirnya menuruti kemauan anak supaya waktu makan tidak penuh dengan drama.
Padahal, dr. Furr mengatakan bahwa terlalu sering mengikuti penolakan makan anak bisa berdampak pada kebutuhan nutrisi mereka, Bunda.
Menurutnya, masa balita menjadi waktu terbaik untuk membentuk kebiasaan makan anak sejak dini. Pada tahap ini, anak mulai mengenal berbagai rasa, tekstur, dan jenis makanannya.
"Masa balita merupakan periode kritis untuk membentuk preferensi makanan, keragaman mikrobioma usus, dan pola nutrisi yang dapat bertahan seumur hidup," ungkapnya.
Furr juga menjelaskan otak anak yang sedang berkembang membutuhkan asupan nutrisi dari beragam makanan sehat. Mulai dari buah, sayur, ikan berlemak, biji-bijian, hingga kacang-kacangan yang bagus untuk dukung tumbuh kembangnya.
Lebih lanjut, orang tua juga perlu membatasi konsumsi jus pada anak karena sebagian besar kandungannya adalah gula. Jika tetap diberikan, jumlahnya sebaiknya tidak berlebihan.
"Jus sebagian besar terdiri dari gula. Anak-anak tidak membutuhkan jus, tetapi jika ditawarkan, sebaiknya dibatasi hingga empat ons per hari," katanya.
Untuk menghadapi anak yang susah makan, dr. Furr menyarankan Bunda untuk tetap mengenalkan berbagai jenis makanan tanpa memaksa anak. Menurutnya, anak perlu dikenalkan makanan baru beberapa kali sebelum akhirnya mau mencoba dan menyukainya.
"Saya merekomendasikan paparan berulang dan tanpa tekanan terhadap berbagai macam makanan tanpa paksaan atau suap. Ingat, mungkin dibutuhkan 10 hingga 15 kali paparan sebelum anak menerima sesuatu yang baru, jadi teruslah menawarkannya," tuturnya.
3. Kurang mengawasi penggunaan media sosial anak
|
|
Media sosial kini sudah menjadi bagian dari kehidupan banyak anak dan remaja, setuju tidak, Bunda? Namun, penggunaan yang berlebihan ternyata memberi dampak kurang baik bagi kesehatan mental mereka.
Dokter Furr menyampaikan bahwa media sosial dapat memengaruhi pola tidur, rasa percaya diri, hingga kondisi emosional anak. Terlebih jika mereka sering membandingkan dirinya dengan orang lain di dunia maya.
"Penggunaan media sosial yang berlebihan dikaitkan dengan gangguan tidur, perbandingan sosial, perundungan, serta berkurangnya waktu untuk melakukan aktivitas yang bisa membangun rasa percaya diri dan mental yang sehat," katanya.
Menurutnya, angka kecemasan, depresi, hingga perilaku menyakiti diri sendiri pada anak remaja juga mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, Bunda.
"Angka kecemasan, depresi, perilaku melukai diri sendiri, dan bunuh diri di kalangan remaja, terutama perempuan, telah meningkat tajam sejak awal tahun 2010-an. Hal ini juga bertepatan dengan meluasnya penggunaan gadget dan munculnya platform seperti Instagram dan TikTok di kalangan remaja," ujar dr. Furr.
Selain itu, kebiasaan menggunakan gadget sejak usia dini juga berdampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang. Anak yang sudah memiliki gadget sebelum usia 12 tahun bahkan disebut lebih berisiko mengalami obesitas dan gangguan tidur.
Karena itu, dokter Furr menyarankan orang tua untuk menunda penggunaan media sosial pada anak hingga usia mereka mencapai 16 tahun.
"Secara pribadi, saya tidak mengizinkan anak-anak saya menggunakan media sosial sampai mendekati usia 16 tahun," kata Furr.
Namun, jika anak sudah punya gadget sendiri, sebaiknya gadget tersebut tidak dibawa ke kamar tidur saat malam hari.
4. Jadwal anak yang dibuat terlalu padat
Banyak orang tua ingin memberikan aktivitas terbaik untuk anak, mulai dari les, olahraga, hingga berbagai kegiatan lainnya. Namun, jadwal yang terlalu padat ini membuat anak kehilangan waktu bermain yang sebenarnya bagus untuk tumbuh kembangnya.
Menurut dr. Furr, bermain penting sekali untuk mendukung pertumbuhan otak, perkembangan emosi hingga kesehatan mental anak dalam jangka panjang, Bunda.
"Hal ini penting untuk pertumbuhan otak yang sehat, pengaturan emosi, perkembangan fisik, dan kesehatan mental jangka panjang," katanya.
Para ahli juga menilai anak yang terlalu sibuk dengan jadwal padat lebih rentan mengalami stres berkepanjangan. Kondisi ini terlihat dari anak yang mudah cemas hingga sulit tidur.
5. Menunda vaksinasi anak
Selain pengasuhan dalam keseharian, ada hal penting lainnya yang juga perlu diperhatikan orang tua, yaitu soal vaksinasi anak. Sebagian orang tua mungkin masih ragu atau memilih menunda vaksin karena berbagai alasan tertentu.
Dokter Furr menegaskan bahwa menunda atau melewatkan vaksinasi justru membuat anak rentan terkena penyakit berbahaya. Menurutnya, vaksin diberikan untuk melindungi anak pada usia ketika tubuh mereka masih sangat rentan.
"Saya ingin berterus terang. Menunda atau melewatkan vaksinasi anak yang direkomendasikan tidak membuat anak-anak lebih aman. Justru membuat mereka lebih rentan," jelasnya.
Ia pun menyadari, ada banyak informasi keliru tentang vaksin yang bikin orang tua menjadi khawatir. Padahal, jadwal vaksinasi sudah disusun untuk membentuk kekebalan tubuh anak pada waktu yang tepat.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa menunda vaksinasi bisa menimbulkan dampak bagi kesehatan anak. Beberapa penyakit yang kerap dianggap ringan bahkan bisa menyebabkan komplikasi hingga mengancam nyawa.
Itulah kesalahan orang tua yang sering dianggap sepele, tetapi ternyata bisa berdampak pada kesehatan anak dalam jangka panjang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Balita Cukup 1 Jam Screen Time, Ini Alasannya
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
10 Perubahan setelah Menjadi Orang Tua dari Mental hingga Hubungan dengan Pasangan
Tak Hanya Bunda, Otak dan Tubuh Ayah Juga Alami Perubahan Setelah Punya Anak
Ayah Ikut Terlibat Pengasuhan Bikin Anak Sukses di Sekolah, Ini Alasan Uniknya
Bunda, Rajin Minum Jus Buah Sejak Kecil Pengaruhi Pola Makan Anak saat Remaja
TERPOPULER
5 Kesalahan Orang Tua yang Bisa Memperpendek Usia Anak, Sering Dianggap Sepele
10 Ciri Kepribadian Orang yang Memilih Diam saat Marah dan Kecewa
3 Spot Rumah yang Diam-Diam Paling Kotor
Sempat Turun, Harga Emas Antam Logam Mulia Tembus Rp2,8 Juta Lagi
5 Resep Bumbu Sate Kambing Sebelum Dibakar yang Enak & Mudah
REKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Sterilizer Botol Bayi Terbaik, Ada yang Low Watt
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
10 Panci Kukus Terbaik dari Ukuran Kecil Hingga Besar
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Bumbu Tongseng Instan yang Enak & Terbaik untuk Masak Daging Kambing
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eyeshadow Palette yang Bagus untuk Pemula
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Panci Presto Terbaik untuk Memasak Beragam Makanan Cepat & Mudah
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Deretan Publik Figur yang Tengah Berbahagia Jadi Ayah Baru, Al Ghazali hingga Pangeran Mateen
3 Spot Rumah yang Diam-Diam Paling Kotor
5 Resep Bumbu Sate Kambing Sebelum Dibakar yang Enak & Mudah
5 Kesalahan Orang Tua yang Bisa Memperpendek Usia Anak, Sering Dianggap Sepele
10 Rekomendasi Sterilizer Botol Bayi Terbaik, Ada yang Low Watt
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
5 Drama Korea Rating Tertinggi Minggu Ketiga Mei 2026
-
Beautynesia
5 Trik Mencairkan Ayam Beku dengan Mudah dan Cepat
-
Female Daily
Tontonan Weekend Ini: Bercinta Dengan Maut, Kisah Cinta Segitiga Penuh Intrik!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Bad Bunny Kolaborasi dengan Zara, Rilis Koleksi Bergaya Streetwear
-
Mommies Daily
PCOS Ganti Nama Jadi PMOS, Ini Gejala dan Risiko yang Sering Diremehkan