HaiBunda

PARENTING

6 Kebiasaan Orang Tua dengan Kecerdasan Emosional Tinggi dalam Mendidik Anak

Kinan   |   HaiBunda

Selasa, 02 Jun 2026 13:20 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/triloks
Jakarta -

Kecerdasan emosional dengan kecerdasan emosional yang baik bisa menjadi contoh positif bagi Si Kecil. Anak bisa belajar kelola emosi dan tumbuh jadi pribadi yang tangguh.

Orang tua menjadi role model utama bagi anak. Mereka belajar dari melihat perilaku orang tua terhadap masalah sehari-hari. 

Misalnya ketika anak sedang kewalahan dengan pekerjaan rumah, sedang sakit, atau saat sedang rewel. 


Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional tidak hanya fokus mengendalikan perilaku anak, tapi mereka juga memperhatikan perasaan yang ada di balik perilaku tersebut.

Respons orang tua membentuk seberapa aman, didengar, dan dipahami perasaan seorang anak.

"Kecerdasan emosional adalah keterampilan yang dapat diajarkan kepada anak-anak. Semua dapat dimulai sejak mereka masih balita, terutama dari cara orang tua memberi respons," ujar psikolog pendidikan, Michele Borba, dikutip dari Huffington Post.

Manfaat memperkenalkan anak dengan kecerdasan emosional

Berbagai penelitian menemukan bahwa kecerdasan emosional memberikan banyak manfaat yang akan berguna bagi anak sepanjang hidupnya. Berikut beberapa manfaat kecerdasan emosional untuk anak:

1. Mampu mengelola emosi

Penelitian dari jurnal Personality and Individual Differences menunjukkan bahwa kecerdasan emosional atau EQ (Emotional Quotient) sangat penting.

Hal ini merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri, serta mengenali dan memengaruhi emosi orang lain. 

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kemampuan kognitif, lingkungan sosial, dan nilai keluarga. 

2. Mampu berteman dengan baik

Kemampuan kecerdasan emosional membantu anak mengelola konflik dan meningkatkan kemampuan mereka untuk punya persahabatan yang lebih erat.

Orang dewasa dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi juga berpotensi memiliki hubungan yang lebih baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam bekerja.

3. Potensi akademik yang lebih baik

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health menemukan bahwa kemampuan sosial dan emosional anak saat taman kanak-kanak dapat memprediksi kesuksesan jangka panjang mereka.

Anak-anak yang mampu berbagi, bekerja sama, dan mengikuti arahan pada usia 5 tahun punya potensi secara akademik lebih baik nantinya.

4. Kesehatan mental lebih terjaga

Penelitian dari jurnal Frontiers in Psychology menemukan bahwa tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi dapat menurunkan risiko gangguan mental seperti depresi.

Kebiasaan yang dimiliki orang tua dengan kecerdasan emosional tinggi

Nah, lalu apa saja contoh kebiasaan-kebiasaan orang tua dengan kecerdasan emosional tinggi dalam mendidik anak? Berikut yang bisa diterapkan, Bunda:

1. Berpikir sebelum bereaksi

Dikutip dari Times of India, orang tua yang memiliki kecerdasan emosional memahami bahwa reaksi pertama tidak selalu menjadi reaksi terbaik.

Sebelum memberi respons dengan 'meledak-ledak', mereka akan berhenti sejenak, menarik napas, lalu memikirkan respons yang tepat saat itu juga. 

Jeda kecil tersebut memiliki dampak yang besar lho, Bunda. Hal ini mengajarkan anak bahwa emosi tidak harus selalu langsung dilampiaskan dengan amarah. Cara ini juga menunjukkan bahwa bahkan dalam situasi tegang, pengendalian diri tetap perlu dilakukan. 

2. Berusaha memahami perasaan anak

Anak-anak sering kali belum mampu mengungkapkan perasaan mereka dengan jelas. Keluhan yang muncul sering kali bisa berkaitan dengan rasa sakit hati, takut, iri, lelah, atau bahkan malu.

Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional akan berusaha mendengarkan lebih dalam tentang perasaan anak, daripada sekadar menilai dari ekspresi anak saja. 

Alih-alih terburu-buru mengoreksi atau mengabaikan, mereka mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. 

Langkah ini membantu anak merasa dipahami, bukan dihakimi. Seiring waktu, anak jadi belajar mengenali dan menyebutkan emosinya dengan lebih jelas.

3. Tidak selalu melindungi anak dari situasi sulit

Dikutip dari Parent Map, selalu melindungi anak dari situasi sulit justru menghalangi mereka belajar menghadapi emosi yang sulit.

Dalam sebuah penelitian, peneliti menemukan bahwa anak-anak yang terpapar konflik memiliki kecerdasan emosional lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa berbicara kepada anak tentang emosi dapat  membantu memperkuat kecerdasan emosional anak.

Namun Bunda tetap perlu berhati-hati, ya. Terutama jika anak memiliki tingkat kecemasan yang tinggi.

Secara bertahap, kenalkan anak pada situasi yang memicu emosi, temani mereka dalam situasi sulit sebelum perlahan mengurangi pendampingan.

Saat Bunda menunjukkan kepada anak bahwa emosi adalah hal yang normal dan dapat dikelola, mereka pada akhirnya akan belajar mengendalikan emosinya sendiri.

4. Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf

Tidak ada orang tua yang selalu benar setiap hari. Nah, orang tua yang memiliki kecerdasan emosional tidak bereaksi berlebihan dan bisa memperbaikinya.

Misalnya dengan permintaan maaf sederhana, percakapan yang lebih tenang, atau pengakuan jujur pada anak. 

Anak memperoleh banyak manfaat dari hal ini. Mereka belajar bahwa mengakui kesalahan dan meminta maaf adalah sikap bertanggung jawab, bukan tanda kelemahan.

5. Mereka memberi ruang bagi anak

Orang tua yang memiliki kecerdasan emosional tidak menganggap emosi sebagai masalah yang harus dihilangkan. Mereka memberi ruang bagi anak untuk merasa sedih, marah, kecewa, dan juga khawatir. 

Namun di saat yang sama, mereka juga tidak membiarkan setiap emosi mengendalikan seluruh suasana rumah.

Perbedaan ini penting karena anak membutuhkan validasi sekaligus batasan. Ketika semua emosi diabaikan, anak mungkin merasa ditinggalkan secara emosional.

Pola asuh yang sehat mengajarkan bahwa emosi bisa diakui, tapi tetap harus dikendalikan. Anak belajar bahwa mereka perlu bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan menjalani kewajiban sehari-hari.

6. Memberi contoh perilaku yang ingin diajarkan

Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang dilakukan orang tua, dibandingkan dari apa yang mereka katakan. 

Jika Bunda ingin anak belajar tenang, jujur, berempati, dan tangguh, maka tunjukkan sikap tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah penjelasan tentang contoh-contoh kebiasaan orang tua dengan kecerdasan emosional tinggi dalam mendidik anak. Pastikan Bunda memberikan contoh positif agar Si Kecil bisa punya EQ yang tinggi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Cara Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

3 Cara Mengenali Orang Cerdas saat Diajak Mengobrol Santai

Mom's Life Azhar Hanifah

Hanggini Umumkan Kelahiran Anak Pertama usai Sebulan Dirahasiakan dari Publik

Kehamilan Annisa Karnesyia

6 Kebiasaan Orang Tua dengan Kecerdasan Emosional Tinggi dalam Mendidik Anak

Parenting Kinan

MAJ Jakarta 2026 Resmi Digelar: Bawa Kolaborasi Budaya Kreatif Jepang-Indonesia

Haibunda Squad Tim HaiBundaa

Dua Lipa & Callum Turner Resmi Menikah, Berawal dari Baca Buku yang Sama

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Misteri Rumah Fia di Sleman 73 Kali Kebakaran dalam 10 Hari, Ternyata Karena...

MAJ Jakarta 2026 Resmi Digelar: Bawa Kolaborasi Budaya Kreatif Jepang-Indonesia

3 Cara Mengenali Orang Cerdas saat Diajak Mengobrol Santai

Hanggini Umumkan Kelahiran Anak Pertama usai Sebulan Dirahasiakan dari Publik

6 Kebiasaan Orang Tua dengan Kecerdasan Emosional Tinggi dalam Mendidik Anak

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK