PARENTING
6 Cara Mendidik Anak Tangguh Tanpa Harus Terlalu Keras
Kinan | HaiBunda
Rabu, 10 Jun 2026 18:50 WIBSetiap orang tua tentu ingin kelak anak bisa tumbuh menjadi sosok yang kuat dan percaya diri. Nah, bagaimana cara mendidik anak tangguh yang tepat?
Karakter tangguh sebenarnya tidak muncul begitu saja lho, Bunda. Untuk mencapainya, anak perlu belajar menghadapi kekecewaan, kegagalan, serta situasi yang tidak sesuai harapan.
Situasi ini dapat dibangun dan dilatih sejak dini melalui pola asuh, hubungan yang hangat dengan orang tua, serta pengalaman sehari-hari.
Apa itu ketangguhan untuk anak?
Dikutip dari Raising Children, tangguh atau resilience adalah kemampuan untuk bangkit kembali setelah menghadapi tantangan dan masa-masa sulit.
Hal ini juga berarti kemampuan untuk beradaptasi dengan tantangan dan keadaan sulit yang tidak dapat diubah, serta tetap berjalan terus meski sulit menghadapinya.
Tingkat ketangguhan anak dapat naik dan turun pada waktu yang berbeda. Mereka juga mungkin lebih mampu bangkit kembali dari beberapa tantangan dibandingkan tantangan lainnya.
Secara garis besar, anak bisa melatih ketangguhannya saat memiliki faktor-faktor berikut:
- Hubungan yang kuat dan suportif dari orang tua dan lingkungan terdekat
- Keterampilan emosional
- Pola pikir dan sikap yang positif
Bagi anak-anak, tantangan dan masa sulit dapat berupa pengalaman seperti mulai bersekolah, pindah ke sekolah atau rumah baru, serta saat menyambut kehadiran adik dalam keluarga.
Tantangan juga dapat berupa pengalaman yang lebih serius seperti perundungan (bullying), masalah dalam keluarga, atau kematian anggota keluarga.
Mengapa membangun ketangguhan penting untuk anak?
Anak yang memiliki jiwa tangguh mampu pulih dari kegagalan dan kembali menjalani kehidupannya dengan lebih cepat.
Ketika anak berhasil mengatasi masalah, hal tersebut akan membangun rasa percaya diri mereka dan membantu mereka merasa lebih mampu menghadapi masalah berikutnya.
Selain itu, ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan dan anak merasa cemas, sedih, kecewa, atau takut, ketangguhan membantu mereka memahami bahwa emosi tersebut tidak akan berlangsung selamanya.
Mereka juga cenderung tidak menghindari masalah atau menghadapinya dengan cara yang tidak sehat, seperti bersikap defensif atau agresif.
Cara mendidik anak agar tangguh
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan agar anak tumbuh menjadi sosok yang tangguh:
1. Bangun rasa aman anak
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan pengasuhan yang hangat, responsif, dan konsisten akan mengembangkan kemampuan regulasi emosi serta keterampilan menghadapi masalah yang lebih baik seiring waktu.
"Rasa aman memberikan anak landasan yang stabil untuk memandang hubungan dalam hidup mereka sebagai sesuatu yang lebih dapat diprediksi," kata psikolog Joseph Laino, PsyD, dikutip dari Parents.
Hal ini juga menumbuhkan tingkat kepercayaan yang sehat terhadap diri sendiri dan orang lain, meningkatkan rasa percaya diri, serta membantu regulasi emosi yang lebih baik.
Ketika anak merasa aman, mereka lebih berani mengambil risiko yang sesuai dengan usianya, seperti mencoba bergabung dalam tim olahraga sekolah, mengerjakan tugas yang menantang, atau menghadapi konflik sosial.
Bunda bisa membangun bonding dengan anak dengan menatap mata mereka saat mengobrol, memvalidasi perasaan mereka alih-alih meremehkannya, serta konsisten dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
2. Dorong anak agar percaya diri
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal American Psychologist tentang growth mindset menunjukkan tentang pentingnya percaya diri bagi anak.
Anak yang percaya kemampuannya dapat berkembang melalui usaha, akan lebih mampu bertahan setelah mengalami kegagalan. Mereka juga cenderung melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar.
"Growth mindset mengubah cara pandang terhadap tantangan menjadi sebuah peluang," kata Laino.
Orang tua dapat menumbuhkan pola pikir ini dengan berfokus pada usaha, strategi, dan ketekunan, bukan hanya kemampuan bawaan anak.
Ketika anak percaya bahwa dirinya bisa berkembang, mereka akan jauh lebih mungkin mencoba lagi setelah mengalami kekecewaan, yang merupakan salah satu komponen utama dari ketangguhan.
3. Beri kesempatan anak untuk gagal
Melihat anak gagal atau kesulitan memang tidak mudah ya, Bunda? Namun faktanya terlalu cepat orang tua turun tangan, ini justru dapat menghambat perkembangan ketangguhan anak.
"Membangun ketangguhan bukan berarti menyelamatkan anak dari situasi sulit dan menyelesaikan semua masalah mereka," pesan Laino.
Jika demikian, anak sulit mengembangkan kekuatan emosional yang diperlukan untuk menghadapi tantangan hidup lainnya.
Di sisi lain, ini juga bukan berarti membiarkan anak menghadapi semuanya sendirian. Orang tua perlu berusaha menemukan keseimbangan di antara kedua hal tersebut.
"Intinya adalah belajar menyeimbangkan kebutuhan anak untuk berupaya mencari solusi, sambil tetap memberikan dukungan agar mereka tidak merasa sendirian dalam proses tersebut," sambungnya.
4. Tanggapi rasa kecewa anak
Ketika anak sedang kecewa, misalnya karena gagal dalam ujian atau kalah dalam pertandingan, orang tua sering kali terburu-buru mencoba memperbaiki perasaannya dengan langsung mengambil kesimpulan.
Padahal mengabaikan atau meremehkan kekecewaan tanpa disadari dapat mengajarkan anak untuk juga menekan emosinya sendiri.
"Ketika anak mengalami kegagalan atau kekecewaan, jangan menyangkal pengalaman mereka atau langsung masuk ke mode pemecahan masalah," ujar Laino.
Sebaliknya, mulailah dengan empati. Katakan seperti 'Hasilnya tidak seperti yang kamu harapkan, ya? Pasti rasanya sangat mengecewakan.'
Pendekatan yang dikenal sebagai active listening ini membantu anak merasa dipahami dan didukung.
Setelah intensitas emosinya mulai menurun, Bunda dapat perlahan mengajak mereka untuk merefleksikan pengalaman tersebut dengan mengajukan pertanyaan seperti rencana berikutnya.
Dengan memvalidasi emosi terlebih dahulu dan baru kemudian mencari solusi, Bunda mengajarkan anak bahwa perasaan dapat dikelola dan bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari.
5. Menjadi contoh yang sehat
Anak akan selalu memperhatikan bagaimana orang tua dan orang dewasa di sekitarnya merespons masalah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Psychology menunjukkan bahwa contoh yang diberikan orang tua sangat memengaruhi cara anak mengatur emosinya sendiri.
Misalnya saat Bunda sedang stres, sampaikan bahwa Bunda sedang butuh waktu istirahat sebentar. Tapi Bunda akan bangkit kembali nanti.
Sikap ini memberikan contoh yang dapat diserap dan diterapkan oleh anak. Seiring waktu, suara Bunda bahkan bisa menjadi suara batin mereka.
6. Atur keseimbangan rutinitas anak
Ketangguhan tidak hanya dibangun melalui momen-momen emosional yang besar, tapi juga melalui kebiasaan sehari-hari.
"Menjaga kualitas tidur yang baik, mengonsumsi makanan bergizi secara teratur, dan rutin berolahraga dapat menjadi fondasi yang kuat untuk anak menghadapi berbagai tekanan sehari-hari," sambung Laino.
Rutinitas yang dapat diprediksi juga memberikan rasa stabil bagi anak, terutama saat mereka sedang menghadapi perubahan. Di waktu senggang, Bunda bisa mengajak anak bermain permainan kooperatif seperti mainan balok, kartu, atau board game.
Permainan seperti ini dapat membantu anak berlatih bergiliran dan belajar menghadapi rasa kekecewaan, tapi dalam lingkungan yang aman.
"Seperti banyak hal lainnya dalam hidup, kuncinya adalah menemukan keseimbangan dan mempelajari cara-cara adaptif untuk menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul," pesan Laino.
Itulah penjelasan tentang cara-cara mendidik anak tangguh tanpa harus terlalu keras. Ingatlah bahwa ketangguhan tidak terbentuk dengan menghilangkan semua pemicu stres, tapi terbentuk ketika anak merasa didukung, mampu, dan dipercaya saat belajar menghadapi berbagai tantangan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)