Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

16 Pelajaran Hidup Paling Penting untuk Anak Menurut Psikolog

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Feb 2026 18:40 WIB

16 Pelajaran Hidup Paling Penting untuk Anak Menurut Psikolog
Ilustrasi Pelajaran Hidup Paling Penting untuk Anak Menurut Psikolog/Foto: Getty Images/iStockphoto/fizkes
Daftar Isi
Jakarta -

Sebagai orang tua kita suka merasa khawatir, apakah cara mendidik anak sudah tepat untuk masa depannya? Lalu, apa saja sebenarnya pelajaran hidup yang paling penting untuk Si Kecil?

Menurut seorang psikolog dari Debra Simon Center for Integrative Behavioral Health & Wellness di Hackensack University Medical Center, Dr. Carol A. Friedman, Ph.D., peran orang tua sangatlah penting dalam proses tumbuh kembang anak.

"Orang tua sangat penting dalam mendidik anak-anak. Mereka berperan sebagai guru pertama dan terus berperan sebagai mentor seumur hidup," tutur Carol A. Friedman, dikutip dari laman Parade.

Artinya, Bunda tidak perlu memiliki keahlian tertentu untuk mengajarkan hal penting kepada anak. Banyak pelajaran hidup justru mereka pelajari dari kebiasaan yang Bunda lakukan setiap harinya.

Oleh karena itu, para psikolog anak membagikan beberapa pelajaran hidup yang penting dikenalkan sejak dini.

Pelajaran hidup paling penting untuk anak menurut psikolog

Dikutip dari Parade, ada sejumlah pelajaran hidup yang dinilai paling penting untuk diajarkan kepada anak menurut para psikolog.

1. Mengatur emosi

Mengajarkan anak cara mengatur emosi adalah salah satu pelajaran hidup yang penting, Bunda. Hal ini berarti mendampingi mereka dengan empati saat sedang marah, sedih atau merasa terluka.

Anak-anak sering kali belum tahu harus berbuat apa ketika emosinya memuncak. Sejalan dengan ini, psikolog yang berbasis di New York City dan pemilik Clarity Therapy NYC, Dr. Mikki Lee, Psy.D., turut memberikan pandangannya.

"Anak-anak tidak dilahirkan dengan pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan ketika mereka merasa marah, sedih, atau terluka," jelas Lee.

2. Percaya diri dan emosi yang stabil

Membantu anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri juga jadi pelajaran hidup yang tak kalah penting, Bunda. Saat anak punya emosi yang stabil, ia akan lebih percaya diri mengenali siapa dirinya dan apa yang bisa ia lakukan.

Menurut Friedman, peran orang tua sangat penting dalam melihat dan menghargai kemampuan anak. Enggak cuma itu, Bunda juga perlu membimbing anak agar bisa berpikir sehat dan saat menghadapi stres maupun masa sulit.

"Orang tua perlu mengenali kemampuan dan prestasi anak mereka, serta membantu mereka mengembangkan respons adaptif dan strategi penanggulangan yang tangguh untuk digunakan saat menghadapi stres dan masa-masa sulit," ungkapnya.

3. Rasa ingin tahu

Rasa ingin tahu adalah bekal penting agar anak terus semangat belajar dan mengenal dirinya sendiri. Nah dari rasa penasaran itulah, anak perlahan memahami apa yang ia suka, apa yang bisa ia lakukan, dan siapa dirinya.

Psikolog klinis asal Amerika Serikat sekaligus pendiri Digital Citizen Academy, Dr. Lisa Strohman, Ph.D., mengajak orang tua untuk terlibat aktif dalam proses belajar anak sehari-hari.

"Orang tua dapat mendorong anak-anak mereka untuk memiliki rasa ingin tahu dengan mengajukan pertanyaan, belajar bersama anak, dan menunjukkan minat pada proses pembelajaran," jelas Strohman.

"Mendorong anak-anak untuk bertanya 'Mengapa' dan 'Bagaimana' membantu mereka berpikir kritis dan mengembangkan apresiasi terhadap pembelajaran," ujarnya.

4. Belajar bangkit saat gagal

Tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan harapan dan itu juga akan dialami anak, Bunda. Dari sinilah mereka belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses tumbuh.

Anak perlu mengerti bahwa gagal bukanlah akhir dari segalanya. Dengan cara pandang yang tepat, ia justru bisa melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk mencoba lagi dan belajar lebih baik.

Bunda bisa mulai dengan memberi apresiasi pada usahanya, bukan hanya pada hasil akhirnya. Selain itu, sebaiknya kita juga tidak perlu langsung memperbaiki masalahnya, ya.

5. Memiliki keinginan memperbaiki kesalahan

Setiap anak pasti pernah melakukan kesalahan, dan itu hal yang wajar ya, Bunda. Nah, karena kegagalan tidak bisa dihindari, anak perlu belajar bagaimana menyikapinya dengan cara yang sehat.

Bunda bisa memberi contoh lewat sikap dalam keseharian, misalnya berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Nantinya, anak akan paham bahwa bahkan orang dewasa yang ia kagumi sekalipun tidak selalu sempurna, dan itu tidak apa-apa.

6. Cara meminta dan menerima maaf

Meminta maaf bukan sekadar ucapan, tetapi cara untuk mengakui kesalahan dan memperbaiki hubungan. Anak perlu mengerti bahwa kata maaf memiliki makna dan tanggung jawab di baliknya.

Seorang psikolog klinis di Amerika Serikat, Dr. Angela Celio Doyle, Ph.D., mengatakan bahwa mengajarkan anak-anak untuk menerima permintaan maaf sama pentingnya, karena mereka akan melihat bahwa hubungan yang sempat ada masalah tetap bisa diperbaiki.

7. Bijak menggunakan kata-kata

Ucapan kita yang keluar setiap harinya ternyata punya dampak yang sangat besar pada tumbuh kembang dan rasa percaya diri anak lho, Bunda.

Oleh karena itu, orang tua perlu menggunakan kata-kata dengan bijak, termasuk saat berbicara tentang diri sendiri maupun kepada anak. Cara Bunda menyampaikan sesuatu akan menjadi contoh yang anak tiru.

8. Belajar berinteraksi dengan baik

Kemampuan berinteraksi dengan orang lain adalah bekal penting untuk anak, Bunda. Sejak kecil, anak perlu belajar bagaimana bersikap saat bersama teman dan orang di sekitarnya.

9. Empati

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Keterampilan ini akan sangat membantu anak dalam berbagai hubungan sepanjang hidupnya.

Perlu diketahui bahwa anak belajar empati dari sikap orang tuanya yang juga menunjukkan kepedulian dan pengertian. Saat Bunda membiasakan anak peka terhadap perasaan orang lain, ia pun akan belajar menanggapinya dengan lebih bijak.

10. Mengenal makanan dengan cara sehat

Cara anak melihat makanan itu penting dibentuk sejak kecil lho, Bunda. Anak perlu tahu bahwa makanan bukan sebagai 'alat' untuk memberi hadiah, tetapi memang dibutuhkan tubuh supaya bisa tumbuh dengan sehat.

Saat makanan manis diberi label 'buruk' atau 'tidak baik', anak bisa merasa takut atau bersalah saat memakannya. Lambat laun, pola pikir seperti ini bisa membuat hubungan anak dengan makanan menjadi tidak sehat.

11. Tubuhmu adalah hakmu

Sejak kecil, anak perlu mengerti bahwa ia punya kendali atas tubuhnya sendiri, Bunda. Pelajaran ini menjadi dasar untuk memahami tentang batasan diri.

Artinya, anak boleh lho mengatakan 'tidak' saat sedang merasa tidak nyaman, misalnya ketika diminta memeluk seseorang. Menghargai perasaan mereka dalam situasi ini akan membuatnya merasa aman dan dihargai.

12. Nilai diri bukan dari penampilan atau prestasi

Anak harus tahu bahwa harga dirinya tidak ditentukan oleh hal-hal di luar dirinya, Bunda. Standar kecantikan, nilai sekolah, atau pencapaian tertentu bukan satu-satunya ukuran dirinya berharga.

Dalam hal ini, kita perlu lebih sering memuji usaha, kebaikan hati, dan keberanian anak dalam mencoba hal baru. Maka dari itu, mereka pun akan belajar bahwa proses dan sikapnya jauh lebih berarti daripada sekadar hasil akhir.

13. Belajar bersikap baik pada diri sendiri

Seiring bertambahnya usia, anak akan mulai berbicara pada dirinya sendiri dalam hati. Suara batin ini bisa menjadi penyemangat, tetapi juga bisa jadi 'pengkritik' bagi mereka.

Jika Bunda terbiasa bersikap sabar, memberikannya semangat, dan menunjukkan kebaikan kepada anak, ia pun akan meniru hal yang sama pada dirinya.

14. Anak mampu menghadapi hal sulit

Dalam proses tumbuh, anak pastinya akan menemui permasalahan, Bunda. Di momen seperti itu, ia perlu diyakinkan bahwa dirinya mampu melewati hal-hal yang terasa sulit.

Sebagai orang tua, kadang kita ingin langsung membantu agar semuanya cepat selesai. Niatnya baik, tetapi terlalu sering mengambil alih justru bisa membuat mereka kurang terlatih dalam menghadapi masalah.

15. Belajar lewat contoh dalam keseharian

Anak belajar bukan hanya dari nasihat saja, tetapi dari apa yang ia lihat setiap harinya. Oleh karena itu, cara terbaik mengajar sejatinya adalah dengan memberi contoh secara langsung.

Dari keseharian Bunda, anak bisa belajar tentang kasih sayang, kesabaran, dan kerendahan hati. Suatu hari nanti, nilai-nilai itu bisa ia teruskan saat menjadi teladan bagi teman-temannya bahkan untuk keluarganya sendiri.

16. Bertanggung jawab

Meski gaya parenting terus berubah, mengajarkan tanggung jawab tetap jadi hal yang tidak boleh terlewat. Anak perlu dibiasakan untuk memahami bahwa setiap tindakan itu punya konsekuensi.

Bunda juga bisa menetapkan aturan yang wajar dan konsisten dengan konsekuensinya. Saat anak mulai menunjukkan sikap tanggung jawab, berikan kepercayaan lebih supaya ia semakin mandiri dari waktu ke waktu.

Itulah ulasan mengenai beberapa pelajaran hidup paling penting untuk anak menurut psikolog. Semoga bisa menambah wawasan baru, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda