HaiBunda

PARENTING

Mengapa Anak Mudah Terpengaruh Influencer di Media Sosial? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kinan   |   HaiBunda

Sabtu, 04 Jul 2026 20:10 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/charnsitr
Jakarta -

Media sosial saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk pada anak. Oleh sebab itu, anak mudah terpengaruh oleh para influencer. Bagaimana penjelasan ilmiahnya?

Ya, influencer bisa dengan mudah berpengaruh besar terhadap cara anak berpikir, berperilaku, bahkan membuat keputusan.

Konten yang dilihat anak dapat membentuk persepsi mereka tanpa disadari, serta memengaruhi tren dan gaya hidupnya.


Saat anak ingin menjadi influencer

Ketika anak senang menonton konten tentang influencer di media sosial, banyak orang tua mengira bahwa anak mereka kelak juga ingin menjadi influencer. 

Namun nyatanya, penelitian-penelitian banyak menemukan bahwa orang tua yang justru memulai hal tersebut. Mereka membiasakan anak untuk menonton influencer, lalu kemudian mengarahkan anak.

"Penelitian terbaru di Eropa menunjukkan bahwa hampir semua akun influencer anak sebenarnya dikelola oleh orang tua. Jadi, meskipun akun tersebut terlihat dikelola oleh anak, pada kenyataannya anak tidak memiliki akses langsung terhadap akun tersebut," ungkap peneliti di Ghent University, Belgia, Liselot Hudders, PhD, dikutip dari laman Children and Screens.

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika seorang anak memutuskan ingin menjadi influencer, keinginan tersebut mungkin dipengaruhi oleh dorongan orang tua. 

Jika anak terpengaruh dan ingin menjadi influencer, orang tua perlu mengajak anak berdiskusi mengenai peran dan tanggung jawab tersebut. Bahas juga batasan dan aturan penting yang harus dipatuhi dalam keluarga.

Orang tua perlu berhati-hati menggunakan media sosial

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Western University menemukan bahwa di balik pilihan karier yang sedang tren ini, terdapat sisi gelap yang perlu diwaspadai.

Menurut peneliti studi tersebut, Daniel Clark, pengaruh influencer awalnya tampak sangat sederhana. 

Anak ingin juga menjadi influencer, tujuan awalnya hanya punya banyak pengikut dan bisa berinteraksi. Proses ini biasanya berkembang secara alami di tahap-tahap awal. 

"Lalu, seiring waktu, semuanya terus berkembang hingga pada akhirnya berjalan layaknya sebuah perusahaan," ungkap Clark, dikutip dari CBC.

Penelitian Clark menemukan bahwa orang tua selalu memegang kendali atas konten, serta pendapatan yang dihasilkan.

Oleh karena itu, orang tua perlu berhati-hati dalam membagikan foto atau video anak di media sosial, terutama jika akun orang tua memiliki banyak pengikut.

"Dalam jangka panjang, membagikan informasi tentang anak di internet turut membentuk identitas digital mereka, sehingga anak kehilangan kesempatan untuk membangun identitasnya sendiri," pesannya.

Alasan anak mudah terpengaruh influencer di media sosial

Menurut peneliti di University of South Florida, Kelli S. Burns, PhD, influencer memengaruhi anak melalui pesan-pesan yang dapat dijelaskan berdasarkan perpaduan tiga proses.

Pertama, saat menjelajahi media sosial, anak cenderung memproses informasi secara aktif. Pengalaman ini berbeda dengan ketika mereka hanya menonton iklan di televisi.

Kedua, konten yang dibuat influencer sering kali sulit dibedakan dari konten yang diunggah oleh pengguna biasa. Ketiga, influencer yang dianggap 'dekat' dan menarik oleh anak akan menjadi sumber informasi yang mereka percaya.

Kombinasi antara pemrosesan informasi secara aktif, sulitnya membedakan konten influencer dengan konten biasa, serta tingginya tingkat kepercayaan terhadap influencer membuat mereka mampu memengaruhi berbagai pilihan yang diambil anak.

Ciri-ciri anak banyak terpengaruh oleh influencer

Untuk hal ini, Bunda perlu lebih memperhatikan sikap dan perilaku anak. Perhatikan apakah ada perubahan pada perilaku sehari-hari mereka.

Sebagai contoh, anak mungkin mulai menjalani pola makan tertentu atau mengikuti tren baru. Bunda bisa melihat apakah mungkin ada hal serupa yang 'dicontohkan' oleh tontonan mereka.

Dikutip dari Children and Screens, orang tua pun disarankan menggunakan platform media sosial yang sama dengan anak.

"Orang tua tidak harus mengikuti akun anak, tetapi dengan menggunakan platform yang sama, mereka dapat memahami konten apa saja yang sedang tren di sana," ungkap Burns.

Perhatikan jika sedang ada tren-tren yang termasuk berbahaya atau membawa pengaruh buruk bagi karakter anak. Misalnya seperti tren membuat prank atau bullying.

Apakah menonton influencer bisa memengaruhi perkembangan sosial anak?

Tanpa disadari, menonton influencer di media sosial dapat membawa berbagai perasaan dan emosi seseorang. Bahkan jika tidak disaring dengan tepat, ini juga bisa memengaruhi pola pikir dan refleksi diri.

Sebagai contoh, anak di usia praremaja dan remaja mungkin lebih rentan secara emosional. Oleh sebab itu, terlalu banyak menonton influencer tanpa pendampingan bisa membentuk pola pikir jangka pendek.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam menetapkan batasan, mengajarkan cara berinteraksi secara sehat di media sosial, mendorong anak memberikan kontribusi yang positif, serta menciptakan waktu khusus tanpa gadget untuk bermain, membaca, dan menjalani hobi lainnya.

Apakah anak sudah boleh menggunakan media sosial dan mengikuti influencer?

Ilustrasi/ Foto: Getty Images/Natee Meepian

Melissa Hunt, PhD, peneliti dari University of Pennsylvania, mengingatkan bahwa mengikuti orang asing, termasuk influencer dan selebriti, berisiko membuat seseorang merasa rendah diri terhadap dirinya sendiri maupun kehidupannya.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam tingkat terbatas dapat membuat anak merasa lebih bahagia dan lebih terhubung dengan teman-temannya.

Sebaliknya, penggunaan media sosial secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, rasa tidak percaya diri, kecemasan sosial, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih baik.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut?

Sebelum terburu-buru menyimpulkan hal yang buruk, cobalah melihat beberapa unggahan dari influencer yang diikuti anak terlebih dahulu. Ini penting agar Bunda bisa belajar memahami alasan mengapa anak begitu menyukainya.

Buka obrolan santai dengan anak tentang influencer tersebut. Bunda bisa mengajukan pertanyaan seperti, 'hal apa yang paling kamu sukai dari orang ini?' atau 'kalau temanmu di dunia nyata bersikap seperti ini, apakah menurutmu dia akan menjadi teman yang bisa dipercaya?'.

Berikut beberapa tips penting mendampingi anak yang rentan terpengaruh influencer:

1. Rutin ajak anak berdiskusi 

Sampaikan kepada anak bahwa influencer tidak perlu selalu dianggap serius. Termasuk dalam memperhatikan barang yang digunakan oleh para influencer ini.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika anak melihat orang tuanya turut hadir, keinginan mereka untuk memiliki berbagai barang konsumtif akan berkurang.

Lalu arahkan perhatian anak pada nilai-nilai yang lebih penting, seperti kreativitas dan kepedulian terhadap sesama.

Orang tua yang memiliki anak usia lebih kecil dianjurkan membatasi waktu mereka menonton video atau unggahan populer yang tampak tidak berbahaya di berbagai platform.

Sementara itu, untuk anak usia lebih besar Bunda dapat secara berkala mengajak mereka berdiskusi tentang video yang diunggah oleh para influencer.

2. Jadilah contoh bagi anak

"Pertimbangkan untuk membuat akun media sosial bersama, lalu ikuti beberapa akun yang dapat dilihat dan didiskusikan bersama anak," imbuh psikoterapis anak, Joanna Fortune.

Tunjukkan rasa ingin tahu Bunda terhadap pesan yang disampaikan dalam unggahan, proses penyuntingan foto, serta ajak anak membedakan mana yang nyata dan mana yang telah dikurasi dengan cermat.

Dengan terlibat aktif dalam percakapan seperti ini, orang tua dapat memastikan bahwa bimbingan moral dari merekalah yang menjadi pegangan utama anak, bukan pengaruh dari influencer.

3. Bantu anak memahami konsep 'iklan'

Influencer biasanya memiliki tagar tertentu yang menunjukkan bahwa suatu unggahan merupakan konten berbayar.

Bantu anak memahami bahwa ketika mereka melihat tagar seperti itu, influencer mungkin tidak sedang menyampaikan pendapat yang benar-benar murni, melainkan sedang mempromosikan suatu produk atau layanan.

4. Ajarkan anak untuk berpikir kritis

Sangat penting bagi orang tua untuk mendorong anak berpikir kritis mengenai unggahan para influencer. Ajak anak mengobrol tentang baik dan buruk hal-hal yang diunggah oleh influencer, dengarkan pendapatnya tanpa terkesan menggurui.

Itulah penjelasan tentang penjelasan ilmiah mengapa anak mudah terpengaruh influencer di media sosial. Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Ide Liburan Hemat di Rumah Bareng Anak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Terbaru Aleesya Anak Kiki Amalia, Makin Cantik dan Sering Disebut Kembaran Sang Bunda

Parenting Nadhifa Fitrina

Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp37 Miliar per Lembar, Kok Bisa?

Mom's Life Amira Salsabila

Bolehkah Masturbasi saat Program Hamil? Ini Penjelasan Dokter

Kehamilan Melly Febrida

9 Kalimat yang Tak Pernah Diucapkan Laki-Laki dengan Kecerdasan Emosional Matang

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Mengapa Anak Mudah Terpengaruh Influencer di Media Sosial? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Parenting Kinan

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Potret Terbaru Aleesya Anak Kiki Amalia, Makin Cantik dan Sering Disebut Kembaran Sang Bunda

Bolehkah Masturbasi saat Program Hamil? Ini Penjelasan Dokter

Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus Rp37 Miliar per Lembar, Kok Bisa?

Mengapa Anak Mudah Terpengaruh Influencer di Media Sosial? Ini Penjelasan Ilmiahnya

9 Kalimat yang Tak Pernah Diucapkan Laki-Laki dengan Kecerdasan Emosional Matang

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK