PARENTING
Hari Pertama Anak Sekolah: Kenali Ciri-Ciri Separation Anxiety Sesuai Usia
Kinan | HaiBunda
Senin, 13 Jul 2026 08:50 WIBDi hari pertama anak sekolah, mereka rentan rewel karena mengalami fase separation anxiety. Apa itu dan bagaimana ciri-cirinya sesuai usia anak?
Perlu dipahami oleh orang tua bahwa hari pertama masuk sekolah merupakan momen besar bagi anak. Wajar jika sebagian anak merasa cemas, menangis, atau sulit berpisah dengan orang tua.
Hal ini karena mereka sedang menghadapi lingkungan, orang, dan rutinitas yang benar-benar baru. Ya, kecemasan berpisah atau separation anxiety menjadi salah satu bagian normal dari perkembangan anak.
Namun dengan persiapan yang tepat dan dukungan yang konsisten dari sekitar, anak diharapkan mampu beradaptasi dan merasa lebih nyaman menjalani aktivitas di sekolah.
Apa itu separation anxiety?
Menurut praktisi pendidikan anak usia dini, Katrina Green, bagi anak sumber utama kecemasan saat mulai masuk sekolah adalah karena mereka sama sekali tidak tahu apa yang akan mereka hadapi.
"Mereka telah menghabiskan 3-4 tahun pertama kehidupannya mempelajari aturan dan rutinitas dalam keluarga. Karena itu, mereka benar-benar belum mengenal aturan maupun rutinitas baru yang akan mereka temui di sekolah," ungkap Green, seperti dikutip dari Parents.
Ia menyarankan orang tua untuk meluangkan waktu sebelum hari pertama sekolah untuk membantu anak beradaptasi secara bertahap.
Ciri-ciri separation anxiety sesuai usia
Separation anxiety bisa terjadi dalam berbagai rentang usia anak, bahkan sejak usia dini. Berikut ciri-ciri separation anxiety sesuai usia anak seperti dikutip berbagai sumber:
1. Bayi
Dikutip dari Healthy Children, separation anxiety mulai berkembang setelah bayi memahami konsep object permanence (kesadaran bahwa suatu benda atau orang tetap ada meskipun tidak terlihat).
Begitu bayi menyadari bahwa Bunda benar-benar pergi saat tidak terlihat, mereka mungkin akan merasa gelisah.
Meskipun beberapa bayi mulai menunjukkan pemahaman tentang object permanence dan separation anxiety sejak usia 4 hingga 5 bulan, sebagian besar mengalami kecemasan yang lebih kuat sekitar usia 9 bulan.
2. Balita
Banyak anak tidak mengalami separation anxiety saat masih bayi, tetapi mulai menunjukkannya ketika berusia sekitar 15 hingga 18 bulan. Perpisahan biasanya menjadi lebih sulit ketika anak lapar, lelah, atau sedang sakit.
Seiring berkembangnya kemandirian pada masa balita, mereka menjadi semakin sadar akan adanya perpisahan dengan orang tua. Akibatnya, reaksi mereka saat berpisah bisa berupa tangisan keras dan sulit ditenangkan.
3. Usia prasekolah
Bagi anak yang belum pernah bersekolah sebelumnya, konsep 'sekolah' masih terasa abstrak.
Mereka menganggap sekolah sebagai tempat dengan aturan baru, rutinitas baru, dan juga orang-orang baru yang belum dikenal. Semua ini tidak dapat diprediksi dan membuat mereka tak merasa aman.
Sebagian anak prasekolah juga masih mengalami separation anxiety yang berkepanjangan, dan hal ini sepenuhnya normal.
Anak usia dini yang mengalami kecemasan terhadap sekolah dapat menunjukkan berbagai gejala. Misalnya sering membicarakan ketakutannya terhadap sekolah dan terus-menerus meminta kepastian untuk ditemani.
Selain itu, mungkin bisa muncul keluhan fisik seperti sakit perut atau sakit kepala, bahkan mengamuk saat Bunda bersiap pergi.
4. Usia sekolah dasar
Kecemasan berpisah pada anak usia sekolah dasar dapat disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya adalah tekanan dari tuntutan belajar di kelas.
Sistem pendidikan saat ini mungkin terasa terlalu 'menuntut' bagi sebagian anak, bahkan di usia yang semakin muda.
Anak mungkin mengalami gejala fisik seperti sakit kepala, mual, diare, sulit tidur, dan sebagainya yang muncul menjelang hari sekolah.
Sebagian anak juga mungkin mengalami school refusal, yaitu ketakutan terhadap sekolah yang begitu kuat sehingga mereka tidak dapat dibujuk bahkan untuk memasuki gedung sekolah.
Kalaupun akhirnya berhasil sampai di sekolah, mereka mungkin menangis, mengeluhkan berbagai rasa sakit, dan sulit ditenangkan oleh guru maupun staf sekolah.
Penting untuk diketahui bahwa anak yang mengalami kecemasan terkait sekolah umumnya mengalaminya hampir setiap hari. Kondisi ini biasanya tidak muncul hanya sesekali lalu menghilang keesokan harinya.
Tips untuk mengatasi separation anxiety
Lalu apa saja hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk bantu mengatasi separation anxiety jelang masuk sekolah? Intip tipsnya berikut ini, Bunda:
1. Lakukan 'ritual' perpisahan yang singkat
Usahakan untuk memiliki momen berpisah yang berkesan dan bisa menyemangati Si Kecil. Namun, pastikan ritual tersebut dilakukan dengan singkat saja.
Biasanya, semakin lama Bunda menunda perpisahan, maka akan semakin lama pula proses transisinya. Kecemasan anak pun bisa semakin meningkat.
2. Bersikap konsisten
Pastikan juga proses mengantar anak dilakukan dengan cara dan waktu yang sama setiap hari, agar tidak ada perubahan yang tidak terduga.
Rutinitas yang konsisten dapat mengurangi kesedihan saat berpisah, sekaligus membantu anak membangun rasa percaya terhadap kemandiriannya maupun kepada Bunda.
3. Berikan perhatian sepenuhnya
Saat berpamitan, berikan perhatian penuh kepada anak, tunjukkan kasih sayang, dan peluk atau cium mereka.
Setelah itu, ucapkan selamat tinggal dengan cepat meskipun anak menangis atau meminta Bunda untuk tetap tinggal.
4. Tepati janji
Anak akan semakin percaya diri dan mandiri ketika mereka yakin bahwa Bunda akan benar-benar kembali menjemputnya sesuai janji. Meski khawatir, sebaiknya hindari menunggu di sekolah atau bahkan mengintip di jendela kelas anak.
Tindakan tersebut justru memperpanjang separation anxiety, bahkan membuat proses perpisahan harus dimulai dari awal lagi. Perpisahan kedua ini bahkan rentan memicu reaksi yang lebih sulit bagi psikis anak.
5. Lakukan persiapan sedini mungkin
Menurut psikiater anak, Sucheta Connolly, sebisa mungkin sediakan waktu untuk mengajak anak berkunjung ke sekolah beberapa hari sebelumnya. Bicarakan bersama juga rutinitas baru yang akan dijalani dengan terbuka dan penuh antusias.
Jika anak biasanya kesulitan menghadapi situasi sosial yang baru, cobalah mengatur waktu bermain bersama beberapa calon teman sekelas sebelum sekolah dimulai.
6. Bermain peran di rumah
Bunda juga dapat mencoba bermain peran di rumah. Banyak anak sebenarnya sudah siap secara kognitif untuk bersekolah, tetapi masih kesulitan menyesuaikan diri dalam situasi sosial.
Gunakan boneka tangan atau boneka binatang untuk memperagakan situasi sosial yang membuat anak cemas, misalnya saat pertama kali bertemu guru atau teman baru.
7. Validasi perasaan anak
Jika kondisi fisik anak sehat, cobalah mengajak mereka membicarakan perasaan dan emosinya.
Akui dan validasi perasaan mereka, tetapi tekankan bahwa perasaan negatif seperti gugup bukan berarti mereka tidak akan menikmati pengalaman di sekolah.
Itulah penjelasan tentang ciri-ciri separation anxiety sesuai usia. Jika Bunda khawatir anak belum mampu beradaptasi dan menunjukkan reaksi berkepanjangan, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Anak Bosan Saat Libur? Coba 7 Mainan Tanpa Gadget Ini!
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Ramai Masukkan Anak ke Sekolah Mahal Disebut karena Gengsi Ortu, Ini Penjelasan Psikolog
5 Penyebab Separation Anxiety pada Anak Jelang Masuk Sekolah
Merencanakan Pendidikan Anak Sebaiknya sejak Si Kecil Lahir, Simak Alasannya Bun
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
TERPOPULER
Cara Orang Tua Norwegia Mendidik Anak agar Mandiri dan Percaya Diri Sejak Kecil
Cara Membuat Pengharum Ruangan Alami, Rumah Wangi Sepanjang Hari
Jepang Gelar Lomba Tidur Berhadiah Rp233 Juta, Pemenang Ditentukan dari Ini
Potret Raline Shah yang Baru Saja Mundur dari Jabatan Stafsus Menkomdigi
Gangguan Mental Disebut Jadi Komplikasi Kehamilan Nomor Satu, Ini Penjelasannya
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Stick Foundation Terbaik untuk Makeup Flawless dan Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Wadah Beras Terbaik, Kedap Udara dan Anti Beras Apek
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Potret Raline Shah yang Baru Saja Mundur dari Jabatan Stafsus Menkomdigi
Cara Membuat Pengharum Ruangan Alami, Rumah Wangi Sepanjang Hari
Gangguan Mental Disebut Jadi Komplikasi Kehamilan Nomor Satu, Ini Penjelasannya
Cara Orang Tua Norwegia Mendidik Anak agar Mandiri dan Percaya Diri Sejak Kecil
Jepang Gelar Lomba Tidur Berhadiah Rp233 Juta, Pemenang Ditentukan dari Ini
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Tampil Elegan di Pesta? Ini Cara Memilih Kalung Liontin yang Tepat
-
Beautynesia
Wilayahnya Dipenuhi Asap, Ini Sederet Respon Negara Tetangga tentang Kebakaran Hutan Kalimantan
-
Female Daily
Siena Made Perkenalkan Sleepless in Siena, Koleksi Kedua dengan Sentuhan Romantis
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Ramalan Zodiak Cinta 15 Oktober: Aries Beda Pendapat, Gemini Sulit Disatukan
-
Mommies Daily
Biaya Masuk SD di Jawa Tengah Tahun Ajaran 2027/2028: Kisaran Uang Pangkal dan SPP, Ada yang Rp300 Ribuan per Bulan