HaiBunda

PARENTING

Usia yang Tepat untuk Mulai Mendisiplinkan Anak, Benarkah Harus Sejak Bayi?

Annisya Asri Diarta   |   HaiBunda

Minggu, 02 Aug 2026 13:35 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/tampatra
Jakarta -

Mendisiplinkan anak sering kali menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orang tua dalam proses tumbuh kembangnya. Di tengah derasnya informasi seputar pola asuh yang mudah diakses, banyak orang tua bertanya-tanya kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan disiplin kepada anak.

Di sisi lain, masih banyak anggapan bahwa disiplin harus diterapkan sedini mungkin agar anak tumbuh menjadi pribadi yang patuh dan bertanggung jawab. Bahkan, muncul pandangan bahwa proses tersebut sebaiknya dimulai sejak anak masih bayi.

Namun, benarkah bayi sudah siap menerima disiplin? Faktanya, orang tua memang dapat mulai mengenalkan batasan sejak anak masih berusia sangat dini.


Profesor Madya Bidang Perkembangan Anak dan Studi Keluarga di Universitas Purdue, Amerika Serikat, Judith Myers-Walls, Ph.D., mengatakan bahwa orang tua perlu menetapkan batasan untuk Si Kecil agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

"Bunda perlu membuat batasan untuk Si Kecil agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti menarik rambut," ujarnya, dikutip dari Parents.

Disiplin bukan sekadar mengajarkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga membantu anak belajar mengendalikan diri, memahami batasan, serta mengenali konsekuensi dari setiap perilaku. Oleh karena itu, penerapannya perlu disesuaikan dengan kemampuan anak dalam memahami dan memproses informasi.

Selain mempertimbangkan usia, orang tua juga perlu memahami bahwa perkembangan emosional, kognitif, dan sosial anak berlangsung secara bertahap. Setiap fase membawa perubahan yang mempengaruhi cara anak memahami arahan maupun merespons aturan.

Usia berapa bayi mulai bisa diajarkan untuk disiplin?

Bayi belum memahami makna disiplin seperti yang dipahami oleh anak yang lebih besar. Pada tahap ini, aktivitas mereka masih didominasi oleh makan, tidur, dan secara bertahap belajar mengenal lingkungan, sehingga belum mampu memahami instruksi atau aturan yang diberikan orang tua.

Ketika bayi menangis atau rewel, umumnya mereka sedang berusaha menyampaikan suatu kebutuhan, seperti ingin disusui, popoknya diganti, merasa tidak nyaman, atau membutuhkan pelukan dan ketenangan agar dapat kembali tidur.

Oleh karena itu, yang paling dibutuhkan bayi pada masa ini adalah perhatian serta pengasuhan yang konsisten dan penuh kasih sayang.

Orang tua tidak disarankan menerapkan hukuman kepada anak yang berusia di bawah 15 hingga 18 bulan, apa pun kondisinya. Pada usia tersebut, pendekatan yang lebih tepat adalah memenuhi kebutuhan anak sekaligus memberikan rasa aman sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya.

Memasuki usia sekitar 18 bulan, Bunda dapat mulai mengenalkan disiplin secara bertahap dengan menunjukkan sikap yang tegas sekaligus penuh kasih sayang. Hal ini dapat dilakukan dengan bersikap konsisten terhadap aturan yang telah dibuat serta menepati apa yang telah disampaikan kepada Si Kecil.

Berbeda dengan anggapan yang kerap muncul dalam berbagai literatur pengasuhan, pendekatan yang tegas namun hangat tidak akan membahayakan balita atau membuatnya menjadi agresif. Sebaliknya, cara ini dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan merasa aman.

Tahapan usia untuk mendisiplinkan anak

Dikutip dari Parents, Bunda dapat mulai menetapkan batasan untuk Si Kecil sesuai dengan setiap tahap perkembangannya. Simak selengkapnya.

Usia 8 hingga 12 bulan

Pada usia 8 hingga 12 bulan, Si Kecil mulai belajar merangkak dan semakin aktif mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Pada tahap ini, Bunda dapat mulai menetapkan batasan dengan menciptakan lingkungan yang aman, misalnya menjauhkan benda-benda berbahaya dari jangkauan anak, seperti barang di atas meja samping tempat tidur atau gulungan tisu toilet yang berada di bawah wastafel kamar mandi.

Jika Bunda tidak ingin Si Kecil menyentuh suatu benda, sebaiknya letakkan benda tersebut di luar jangkauannya dengan menerapkan pengamanan di rumah. Sebaliknya, biarkan benda-benda yang aman untuk anak menjadi pusat perhatiannya.

Menurut para ahli, cara ini lebih efektif untuk membantu Si Kecil terhindar dari bahaya sekaligus memudahkannya mengikuti batasan yang telah ditetapkan.

Banyak orang tua menganggap mengatakan "tidak" sudah cukup ketika melihat anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Padahal, cara tersebut belum tentu efektif untuk mendisiplinkan anak pada usia ini.

Si Kecil mungkin dapat membedakan nada suara saat Bunda mengatakan "tidak" dengan ungkapan penuh kasih sayang seperti "Aku sayang kamu", tetapi mereka belum mampu memahami makna sebenarnya dari kata tersebut. Akibatnya, anak cenderung belum dapat menghubungkan larangan itu dengan perilaku yang harus dihentikan.

Sebagai alternatif, Bunda dapat menggunakan isyarat atau suara yang konsisten untuk mengalihkan perhatian Si Kecil.

Usia 12 hingga 24 bulan

Ilustrasi/Foto: Getty Images/LordHenriVoton

Memasuki usia ini, kemampuan berkomunikasi Si Kecil mulai berkembang sehingga Bunda dapat mulai mengenalkan aturan-aturan sederhana, seperti tidak menarik ekor kucing. Bunda juga dapat menggunakan kata "tidak" secara bijak, terutama dalam situasi yang benar-benar penting.

Pasalnya, jika terlalu sering diucapkan, kata tersebut dapat kehilangan maknanya sehingga anak cenderung tidak lagi memberikan respons.

Di sisi lain, perkembangan fisik anak juga meningkat dengan pesat. Si Kecil umumnya mulai berjalan dan menikmati kemandirian yang baru dimilikinya. Namun, pada saat yang sama, mereka juga mudah merasa frustrasi karena belum mampu melakukan semua hal yang diinginkan sendiri.

Saat Si Kecil mulai memasuki fase tantrum, Bunda perlu meresponsnya dengan tenang dan tepat. Luapan emosi ini merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak, bukan tanda bahwa orang tua perlu menerapkan disiplin yang lebih keras, seperti mencabut hak istimewa atau mengirim anak ke kamar sebagai bentuk hukuman.

Spesialis perkembangan anak di Amerika Serikat, Claire Lerner, mengatakan bahwa orang tua perlu memahami penyebab tantrum yang dialami Si Kecil agar dapat menentukan cara terbaik untuk membantunya mengelola emosi.

"Bunda juga perlu mengenal Si Kecil ketika tantrum agar mudah untuk mencarikan solusi dalam mengatasi emosinya," ujarnya, dikutip dari Parents.

Beberapa anak dapat lebih cepat tenang ketika perhatiannya dialihkan, sementara yang lain membutuhkan pelukan dan pendampingan.

Jika tantrum berlangsung cukup lama, Bunda dapat mengajak Si Kecil menjauh dari situasi yang memicu emosinya, kemudian menjelaskan dengan lembut apa yang terjadi, misalnya, "Kita tidak bisa tetap di toko jika kamu terus berteriak," setelah ia mulai tenang.

Sebenarnya, rasa frustrasi pada anak sering kali muncul karena mereka belum mampu mengungkapkan keinginan atau perasaannya secara efektif. Kondisi ini dapat memicu perilaku seperti memukul atau menggigit.

Ketika menghadapi situasi tersebut, Bunda dapat mendisiplinkan Si Kecil dengan memberikan penjelasan singkat dan jelas mengenai perilaku yang tidak boleh dilakukan, kemudian mengalihkan perhatiannya ke aktivitas yang lebih tepat.

Sebagai contoh, jika Si Kecil memukul karena Bunda menghentikan permainannya untuk mengganti popok, Bunda dapat mengatakan, "Kita tidak boleh memukul karena itu bisa menyakiti orang lain."

Setelah itu, berikan mainan yang dapat dimainkan selama proses mengganti popok agar perhatiannya beralih dan mereka lebih mudah bekerja sama.

Usia 24 hingga 36 bulan

Pada usia dua hingga tiga tahun, Si Kecil biasanya mulai memasuki lingkungan prasekolah dan berinteraksi lebih banyak dengan teman sebaya untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. Namun, tahap ini juga membawa tantangan baru bagi Bunda dalam menerapkan disiplin.

Kemampuan untuk berbagi mainan, waktu, maupun perhatian masih menjadi hal yang perlu dipelajari oleh anak pada usia tersebut. Kehadiran orang-orang di luar keluarga juga dapat membuat proses belajar ini menjadi lebih kompleks. Tidak jarang, Bunda justru menemukan Si Kecil mengalami kesulitan dalam berbagi atau mengambil barang milik temannya.

Memasuki usia balita, anak mulai memiliki kemampuan untuk memahami arahan sederhana, mengenali perasaan orang lain, serta memahami hubungan sebab dan akibat. Kemampuan ini dapat menjadi dasar bagi Bunda untuk mulai mengenalkan konsep disiplin dengan cara yang lebih mudah dipahami.

Misalnya, ketika Si Kecil mengambil krayon milik temannya, Bunda dapat mengatakan, "Kita tidak boleh mengambil barang milik orang lain. Kalau kamu mengambil krayon Billy, perasaannya bisa sedih." Setelah itu, Bunda dapat memberikan krayon lain agar Si Kecil tetap dapat bermain.

Dalam mendisiplinkan balita maupun anak prasekolah, Bunda sebaiknya menyampaikan aturan secara sederhana dan jelas. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Susan G. O'Leary, Ph.D., profesor psikologi di The State University of New York at Stony Brook, menunjukkan bahwa teguran yang panjang cenderung kurang efektif dibandingkan dengan teguran yang singkat, jelas, dan langsung pada inti masalah.

Itulah usia yang tepat untuk mulai mendisiplinkan anak. Semoga bermanfaat untuk tumbuh kembang Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Anak Bosan Saat Libur? Coba 7 Mainan Tanpa Gadget Ini!

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ini Dia Negara Paling Jujur dan Paling Tidak Jujur di Dunia, Indonesia Masuk Mana?

Mom's Life Amira Salsabila

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Parenting Annisa Karnesyia

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

Parenting Tim HaiBunda

Darah Haid Menggumpal seperti Daging Hati Ayam, Apakah Normal?

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

4 Kode Warna dan Abjad Nutri-Level di Produk Pangan Olahan

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa

Bayi Minum ASI Banyak Hari Ini tapi Besok Sedikit, Normalkah?

5 Potret Andy /rif Bersama Kedua Putranya, Beda Postur Tubuh Ayah-Anak Jadi Sorotan

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK