HaiBunda

PARENTING

5 Cara Membicarakan AI dengan Anak, Bunda Perlu Tahu

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 27 Jul 2026 08:50 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/ronnachaipark
Jakarta -

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini kian bergerak cepat. Supaya tak kebablasan, orang tua perlu tahu cara membicarakan AI dengan anak.

Ya, sebelumnya platform AI harus dicari secara khusus. Namun kini berbagai fitur AI sudah terintegrasi dalam mesin pencari, media sosial, bahkan ada di aplikasi yang sering digunakan anak.

Oleh sebab itu, pembatasaan screen time saja sudah tak lagi cukup. Bunda perlu membangun komunikasi terbuka agar anak memahami manfaat, risiko, serta batasan dalam menggunakan AI. 


Diharapkan hal ini juga bisa menjadi bekal bagi anak, agar seiring bertambah usia mereka dapat memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Kata pakar tentang dampak AI pada anak

Peneliti teknologi dan AI dari University of Pittsburgh, Elise Silva, mengamati pentingnya orang tua berdiskusi secara terbuka dengan anak tentang hal ini.

"Menurut saya, tidak membicarakan AI kepada anak sama seperti memberikan mereka kunci mobil tanpa petunjuk cara menggunakannya," ujar Silva, seperti dikutip dari CBS News.

Silva mengatakan bahwa orang tua tidak harus menjadi ahli teknologi untuk dapat berdiskusi mengenai AI. 

Bunda bisa memulai obrolan santai dengan pertanyaan seperti, "Apa yang kamu ketahui tentang teknologi ini? Apakah teman-temanmu menggunakannya? Untuk apa mereka memakainya?".

Sampaikan bahwa AI bukanlah sesuatu yang bersifat pasti. AI tidak memberikan kebenaran, tapi menghasilkan apa yang menurut sistem merupakan perkiraan terbaik mengenai respons berikutnya. 

Ketika anak menggunakan platform AI, maka tanpa sadar ia sedang 'menukar' data pribadinya. Menurut Silva, data tersebut bisa saja digunakan oleh perusahaan untuk terus melatih model AI mereka sekaligus mengembangkan produknya. 

Cara membicarakan AI dengan anak

Lalu apa saja tips-tips yang bisa dilakukan Bunda sebagai cara membicarakan AI dengan anak? Berikut ulasannya:

1. Jelaskan bahwa AI bukanlah teman

Dikutip dari Huffington Post, salah satu topik obrolan yang perlu disampaikan orang tua adalah bahwa AI tidak selalu bisa diandalkan. Meskipun AI terlihat cerdas, tapi ini bukan manusia, apalagi teman.

Orang tua dapat menetapkan aturan yang tegas di rumah. Misalnya, AI tidak boleh dijadikan tempat mencari dukungan emosional atau teman berbagi rahasia. 

AI bisa saja memberikan saran yang tidak aman, mendorong anak menyimpan rahasia, mengirimkan pesan yang tidak pantas, bahkan menggantikan komunikasi dengan orang-orang di dunia nyata.

Jika perlu, bicarakan hal ini secara terbuka dan tanyakan apakah anak pernah meminta saran kepada AI tentang masalah pribadi.

Gunakan kesempatan tersebut untuk menjelaskan bahwa chatbot bukanlah teman dan tidak boleh menggantikan percakapan dengan keluarga atau orang-orang yang dipercaya.

2. Berhati-hati menggunakan foto di AI

Kasus manipulasi foto dengan bantuan AI kini semakin meningkat, termasuk di lingkungan sekolah. AI mampu menghasilkan foto, video, maupun rekaman suara palsu yang tampak sangat nyata.

Konten seperti ini dapat digunakan untuk perundungan, pelecehan, pemerasan, hingga penipuan.

Ajarkan kepada anak bahwa mereka tidak boleh mengedit foto orang lain tanpa izin, tidak mudah percaya terhadap apa yang dilihat di internet, serta tidak ikut menyebarkan maupun berinteraksi dengan konten semacam itu.

3. AI tidak boleh menggantikan proses belajar

Menggunakan AI saat mengerjakan pekerjaan rumah mungkin terasa sangat membantu. Namun apabila dilanjutkan dan digunakan secara berlebihan, proses berpikir anak bisa tergantikan. 

Selain itu, AI juga dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya keliru. Karena itu, ajarkan anak menggunakan AI sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti.

AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide atau membantu memahami materi yang belum dipahami. Dengan demikian, proses berpikir utama tetap harus dilakukan oleh anak sendiri.

4. Izinkan anak screen time di ruang bersama

Sebisa mungkin, usahakan penggunaan gadget oleh anak dilakukan di ruang bersama, bukan secara tertutup atau sendirian.

Bunda juga dapat menonaktifkan fitur autoplay untuk mengurangi kebiasaan video menggulir tanpa henti, mengunci pembelian dalam aplikasi, serta meninjau pengaturan fitur percakapan (chat) bersama anak.

5. Ajarkan anak untuk selalu memeriksa kebenaran informasi dari AI

Anak perlu memahami bahwa AI bukanlah sumber informasi yang selalu benar. Meskipun jawaban yang diberikan terdengar meyakinkan, AI dapat menghasilkan informasi yang keliru.

Biasakan anak untuk tidak langsung mempercayai setiap jawaban dari AI. Dorong mereka untuk memeriksa kembali informasi tersebut melalui sumber yang terpercaya, seperti buku, situs resmi pemerintah atau lembaga pendidikan, maupun dengan bertanya kepada guru atau orang tua.

Bunda juga bisa mengajak anak melakukan latihan sederhana. Misalnya, mintalah AI menjawab suatu pertanyaan, kemudian bandingkan jawabannya dengan informasi dari ensiklopedia, buku pelajaran, atau situs resmi. 

Dengan cara ini, anak akan belajar bahwa AI merupakan alat bantu yang bermanfaat, tetapi tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis sebelum dibagikan kepada orang lain.

Waspadai tanda-tanda yang perlu diperhatikan

Gadget dan teknologi memang menjadi bagian  dari kehidupan saat ini. Anak-anak bahkan akan terus berinteraksi dengan teknologi hingga dewasa, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja.

Namun demikian, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai karena bisa menunjukkan bahwa penggunaan teknologi atau AI mulai berdampak kurang baik, antara lain:

  • Sering bermain ponsel, termasuk menggunakan media sosial, hingga larut malam
  • Menjadi lebih tertutup mengenai penggunaan ponsel
  • Menyembunyikan layar ponsel saat ada orang lain di dekatnya
  • Mengalami perubahan suasana hati atau perilaku setelah menggunakan internet
  • Menjadi semakin terobsesi dengan penampilan fisik
  • Mulai menunjukkan pandangan yang sangat ekstrem

Apabila anak mulai menjauh dari pertemanan di dunia nyata dan lebih memilih bergantung pada AI saat menghadapi masalah, ini sudah waktunya Bunda untuk segera membuka ruang komunikasi.

Ajukan pertanyaan mengenai AI, bagaimana pendapat anak tentang teknologi tersebut, serta konten apa saja yang mereka temui.

Dengarkan terlebih dahulu cerita anak sebelum memberikan nasihat. Percakapan singkat tetapi dilakukan secara rutin biasanya lebih efektif, dibandingkan obrolan yang terlalu panjang dan 'berat'.

Itulah penjelasan tentang cara-cara membicarakan AI dengan anak. Jadikan pembahasan mengenai AI sebagai topik yang wajar dibicarakan di rumah ya, Bunda. Dengan begitu, anak akan merasa nyaman untuk bercerita.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Anak Bosan Saat Libur? Coba 7 Mainan Tanpa Gadget Ini!

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

7 Potret Rumah Baru Aaliyah & Thariq Halilintar, Hangat & Homey Banget

Mom's Life Amrikh Palupi

150 Nama Bayi Terinspirasi Musim dan Artinya untuk Anak Laki-laki & Perempuan

Nama Bayi Annisya Asri Diarta

5 Cara Membicarakan AI dengan Anak, Bunda Perlu Tahu

Parenting Kinan

Ramai Obat Penurun Berat Badan Disebut Bisa Turunkan Risiko Kanker Payudara, Simak Faktanya

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Cara Aman Mengobati Jerawat, Psoriasis, hingga Eksim Selama Kehamilan

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Rekomendasi Dispenser Air Dingin Hemat Listrik, Praktis untuk Cuaca Panas

150 Nama Bayi Terinspirasi Musim dan Artinya untuk Anak Laki-laki & Perempuan

7 Potret Rumah Baru Aaliyah & Thariq Halilintar, Hangat & Homey Banget

5 Cara Membicarakan AI dengan Anak, Bunda Perlu Tahu

Ramai Obat Penurun Berat Badan Disebut Bisa Turunkan Risiko Kanker Payudara, Simak Faktanya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK