PARENTING
Sering Bilang "Aku Ingin Anakku Bahagia"? Psikolog Ungkap Dampaknya
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Senin, 07 Sep 2026 18:45 WIBSetiap orang tua tentu ingin anaknya bahagia. Namun, keinginan itu ternyata bisa berdampak pada cara orang tua merespons emosi anak-anaknya, Bunda.
Pakar Pengasuhan Berbasis Pemahaman Trauma, Dr. Robyn Koslowitz, PhD, Psikolog, P, keinginan orang tua terkadang juga tak sejalan dengan realitas yang ada. Pada akhirnya, hal itu bisa memengaruhi perkembangan anak.
"Menginginkan anak-anak untuk selalu bahagia akan menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan berbahaya serta menghambat pertumbuhan emosional," kata Koslowitz, dilansir Parade.
Menurut Koslowitz, mengakui semua emosi anak dapat membangun ketahanan. Selain itu, kita dapat menekan atau meminimalkan perasaan yang menghambat kemampuan dalam mengatasi masalah.
"Jika anak takut akan reaksi orang tuanya terhadap kesedihan, mereka mungkin tidak akan menceritakan pikiran dan kejadian tersebut kepada orang tua mereka," ungkap Koslowitz.
"Orang tua terkadang juga terburu-buru untuk 'memperbaiki' keadaan ketika anak tidak bahagia."
|
Baca Juga : 10 Tanda Anak Bahagia, Bunda Perlu Tahu
|
Kalimat 'Saya hanya ingin anak-anak saya bahagia' juga dapat menggambarkan hasil, bukan nilai. Nilai adalah arahan yang dipilih secara bebas dan bermakna secara pribadi tentang bagaimana kita ingin berperan dalam hidup.
Sementara itu, hasil adalah titik akhir. Hasil merupakan tujuan spesifik yang kita capai atau gagal capai.
"Pola pengasuhan berdasarkan hasil yang spesifik dan sempit cenderung gagal," kata Koslowitz.
"Mengatakan 'saya hanya ingin anak-anak saya bahagia' bukan hanya sebuah hasil, tetapi juga hasil yang mustahil. Manusia tidak dapat bertanggung jawab atas keadaan emosional manusia lain. Kita tidak dapat mengendalikan perasaan orang lain," sambungnya.
Dampak sering bilang 'saya hanya ingin anak-anak saya bahagia'
Sering mengatakan 'saya hanya ingin anak-anak saya bahagia' tidak mengajarkan keterampilan yang berguna pada diri orang tua. Secara statistik, anak-anak jauh lebih mungkin mengalami berbagai emosi selain kebahagiaan dalam kehidupan mereka. Sebagai orang dewasa, mereka tidak mungkin selalu bahagia sepanjang waktu.
"Bukankah akan lebih baik jika kita mengajari mereka cara menangani emosi yang lebih menantang, seperti kesedihan, kemarahan, rasa jijik, frustrasi, rasa malu, atau rasa bersalah? Tugas kita sebagai orang tua adalah memberi mereka literasi emosional, membantu mereka memahami apa yang dirasakan, mengapa, dan apa yang harus dilakukan," ujar Koslowitz.
Sering kali, emosi adalah data. Emosi memberi kita informasi cepat tentang dunia, dan tugas kita adalah menafsirkan informasi itu secara akurat dan kemudian memutuskan bagaimana ingin bertindak berdasarkan informasi tersebut.
Di sisi lain, emosi bukanlah musuh. Emosi bisa menjadi sahabat terbaik kita. Tapi mengatakan ungkapan 'Aku hanya ingin kamu bahagia' tidak memungkinkan kita untuk menggunakan emosi dengan benar, Bunda.
Contoh kalimat yang membuat anak menghindari perasaannya
Mengatakan kalimat 'Aku ingin anakku bahagia' di depan anak bisa memengaruhi perasaan anak, Bunda. Selain kalimat tersebut, ada beberapa frasa yang membuat anak menghindari perasaannya:
1. Frasa 'menghapus perasaan'
Kata Koslowitz, frasa 'menghapus perasaan', seperti 'kamu baik-baik saja', 'ini bukan masalah besar', "Berhenti menangis" atau "Anak yang sudah besar tidak menangis", tampak menenangkan, namun memberikan pesan kepada anak-anak bahwa emosi mereka salah atau berlebihan.
"Kita memang ingin mengajarkan anak-anak tentang proporsionalitas, tetapi biasanya lebih baik membiarkan air mata mengalir dengan sendirinya daripada meminta anak-anak untuk menyembunyikan respons emosional mereka yang sebenarnya," ujarnya.
2. Frasa meminimalkan perasaan'
Beberapa contoh dari frasa ini seperti 'keadaannya bisa lebih buruk', 'anak-anak lain mengalami kesulitan yang lebih besar', dan 'tidak ada yang perlu dikhawatirkan'.
Frasa tersebut mungkin tampak lebih baik daripada menyuruh anak-anak untuk mengabaikan perasaan mereka. Tetapi frasa ini tetap memberi tahu anak bahwa reaksi emosional mereka salah.
"Di saat sakit hati, kekecewaan, atau emosi yang meluap-luap, kita menginginkan validasi dan dukungan terhadap sensasi tersebut, bukan pembingkaian ulang kognitif," ungkap Koslowitz.
3. Kalimat 'terburu-buru untuk mengungkapkan perasaan'
Mengatakan kalimat, "Semuanya akan baik-baik saja", "Kamu akan bisa mengatasinya", dan "Kamu akan melakukannya lebih baik lain kali" adalah ungkapan terburu-buru dalam memproses emosi.
"Jika kita langsung melewati sensasi awal, kita tidak akan sempat menyerap perasaan tersebut, belajar darinya, dan menjadi lebih tangguh. Pernyataan 'semuanya akan baik-baik saja' adalah sesuatu yang dapat dicapai anak sendiri ketika kita mendukung perasaan mereka," kata Koslowitz.
Demikian dampak orang tua sering bilang "Aku ingin anakku bahagia". Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/ank)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
6 Kebiasaan Dilakukan Orang Tua Belanda agar Anak Bahagia Menurut Psikolog
Anak Muda Lithuania Dinobatkan jadi Paling Bahagia di Dunia, Ini Cara yang Dilakukan Orang Tua
Cara Efektif Membesarkan Anak Jadi Bahagia yang Jarang Diketahui Menurut Psikolog
5 Pola Asuh di Belanda yang Berhasil Bikin Anak Jadi Paling Bahagia Sedunia
TERPOPULER
Rafi Pangestu Anak Annisa Trihapsari Resmi Nikah, Sultan Djorghi Ikut Dampingi di Pelaminan
Anak Krakatau Erupsi, Ini 5 Cara Lindungi Keluarga dari Abu Vulkanik
Sering Bilang "Aku Ingin Anakku Bahagia"? Psikolog Ungkap Dampaknya
Cara Membuat Tahu Aci yang Gurih dan Kenyal, Lengkap dengan Resepnya
100 Ucapan Selamat atas Kelahiran Anak Laki-Laki Lengkap dari Islami, Singkat & Bahasa Inggris
REKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Kompor Portable Terbaik untuk Dapur dan Aktivitas Outdoor
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Wajan untuk Masak Nasi Goreng yang Bagus, Anti Lengket, dan Awet
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Bibit Timun Unggul & Terbaik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Tanah Liat Terbaik, Cocok untuk Dapur Rumahan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lulur untuk Kulit Cerah, Halus, dan Glowing
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Rafi Pangestu Anak Annisa Trihapsari Resmi Nikah, Sultan Djorghi Ikut Dampingi di Pelaminan
Sering Bilang "Aku Ingin Anakku Bahagia"? Psikolog Ungkap Dampaknya
100 Ucapan Selamat atas Kelahiran Anak Laki-Laki Lengkap dari Islami, Singkat & Bahasa Inggris
Cara Membuat Tahu Aci yang Gurih dan Kenyal, Lengkap dengan Resepnya
11 Kebiasaan yang Menunjukkan Seseorang Punya Pola Pikir Tajam Menurut Psikologi
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Bonsai untuk Hiasi Meja Kerja atau Ruang Tamu, Ini Pilihan yang Bagus
-
Beautynesia
3 Tanda Kamu Sedang Mengalami Kelelahan Mental
-
Female Daily
Bingung Gimana Cara Memulai Investasi? Ikuti Tips Investasi dan Mengelola Keuangan dari Lampung Financial Festival 2026!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Foto Maternity Seksi Barbara Palvin Pakai Lingerie Vintage Victoria's Secret
-
Mommies Daily
Anak Membantu Pekerjaan Rumah, Ini 4 Manfaatnya untuk Masa Depan