parenting
11 Kalimat Sering Dikatakan Anak yang Tidak Bahagia
HaiBunda
Selasa, 07 Jul 2026 09:20 WIB
Daftar Isi
- 1. 'Tidak ada yang menyukaiku'
- 2. 'Aku tidak peduli'
- 3. 'Aku takut meminta bantuan'
- 4. 'Aku takut tidak akan ada yang mengerti aku'
- 5. 'Kurasa aku tidak bisa mengatasi ini'
- 6. 'Ini salahku'
- 7. 'Aku tidak mau bicara'
- 8. 'Aku merasa sangat bingung'
- 9. 'Semuanya sia-sia'
- 10. 'Rasanya ingin mulai dari awal saja'
- 11. 'Aku takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya'
Setiap anak mengalami pasang surut emosi. Wajar jika anak-anak merasa sedih, mudah marah, atau berpikir negatif. Itu adalah bagian dari perkembangan yang sehat dan belajar mengelola emosi, Bunda.
Namun, bagi sebagian anak, perasaan "sedih" selama lebih dari beberapa minggu dapat menjadi tanda depresi. Depresi pada anak adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih yang mengganggu hubungan dan aktivitas mereka.
Dikutip dari Cleveland Clinic, jika anak mengalami depresi, kesedihan mereka berlangsung lebih dari dua minggu. Mereka mungkin juga mengalami iritabilitas atau keputusasaan yang berkepanjangan. Hal ini dapat memengaruhi tidur, nafsu makan, atau hubungan anak dengan orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Depresi juga dapat mencegah anak menikmati sekolah, olahraga, atau hobi yang pernah mereka sukai. Dalam kasus yang parah, depresi dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri.
Sayangnya, tidak semua orang tua dapat dengan cepat menyadari kondisi anak-anaknya. Apa yang dikatakan anak-anak seringkali tidak dianggap serius, padahal penting untuk mengenali ungkapan-ungkapan yang sering diucapkan anak-anak yang tidak bahagia.
|
Baca Juga : 7 Tanda Anak Tak Bahagia, Ada pada Si Kecil Bun?
|
Jangan anggap sepele, berikut kalimat-kalimat yang sering dikatakan anak yang tidak bahagia:
1. 'Tidak ada yang menyukaiku'
Ketika seorang anak mengungkapkan kalimat bahwa tidak ada yang menyukainya, orang dewasa cenderung tidak memperhatikannya karena mereka berpikir anak itu hanya berlebihan dan itu tidak mungkin benar. Namun, sama seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa merasa terisolasi dan tidak dipahami oleh orang-orang di sekitar mereka. Mulai dari berada di kelas, bergaul dengan anak-anak lain di lingkungan mereka, atau bahkan mencoba untuk berbaur dengan keluarga mereka.
Dikutip dari laman Your Tango, ungkapan ini mencerminkan rasa kesepian yang lebih dalam dan keinginan untuk terhubung dengan orang lain tetapi tidak benar-benar tahu bagaimana melakukannya. Mereka mungkin kesulitan berteman atau menjalin hubungan dengan anak-anak lain, jadi ketika mereka terus-menerus menghadapi penolakan dari teman sebaya, mudah bagi mereka untuk berpikir ada sesuatu yang salah dengan diri mereka.
2. 'Aku tidak peduli'
Sebagian besar, ketika seorang anak mengatakan kepada orang dewasa atau seseorang di sekitarnya bahwa mereka tidak peduli, hal itu mungkin hanya terasa seperti mereka tidak berusaha, sehingga orang dewasa mungkin hanya mengabaikan mereka tanpa benar-benar mendengarkan.
Tetapi jika orang tua menggali lebih dalam, kita akan melihat bahwa anak tersebut tidak hanya mengungkapkan ketidakpedulian tetapi sebenarnya mencoba menyampaikan bahwa mereka merasa kewalahan dan kelelahan secara mental.
Anak-anak mungkin tidak memiliki kepercayaan diri atau kata-kata untuk benar-benar memberi tahu orang tua mereka atau orang dewasa dalam hidup mereka bahwa mereka hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Jadi mereka cenderung bersikap "aku tidak peduli" sebagai cara untuk menjauhkan orang dan menjaga jarak.
3. 'Aku takut meminta bantuan'
"Aku takut meminta bantuan" adalah salah satu ungkapan yang sering diucapkan oleh anak-anak yang tidak bahagia. Dan itu karena mereka tidak mampu atau kesulitan meminta bantuan.
Bagi banyak anak, mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan dalam sesuatu dapat terasa seperti kegagalan. Sama seperti orang dewasa yang mungkin kesulitan mengandalkan orang lain untuk mendapatkan dukungan, anak-anak pun bisa demikian. Ini mungkin terjadi karena mereka harus menjadi "yang kuat" dan mungkin dikritik karena tidak bisa melakukannya.
4. 'Aku takut tidak akan ada yang mengerti aku'
Ketika seorang anak terus-menerus diabaikan atau diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya, akan sulit bagi mereka untuk berpikir bahwa mereka akan pernah dipahami dan diperhatikan. Mereka akan menggunakan salah satu ungkapan yang sering diucapkan anak-anak yang sangat tidak bahagia untuk mengungkapkan hal ini.
Dalam hal ini, mereka tidak hanya bersikap dramatis, tetapi karena ketidakbahagiaan mereka, mereka merasa takut tidak pernah diterima. Itulah mengapa ruang aman sangat penting bagi anak-anak. Mereka perlu diizinkan untuk menjadi tidak sempurna tanpa khawatir akan ditinggalkan atau disingkirkan.
5. 'Kurasa aku tidak bisa mengatasi ini'
Seorang anak yang menggunakan ungkapan ini adalah tanda bahwa mereka merasa sangat kewalahan dan tidak memiliki alat atau bahasa yang diperlukan untuk mengatasinya. Itu bisa berupa hal kecil seperti mencoba menyelesaikan tugas sekolah, atau bahkan hal besar seperti krisis keluarga atau konflik yang terjadi di rumah di mana mereka harus menyaksikannya.
“Ketika kita menghindari atau meremehkan perasaan anak-anak kita, kita mengganggu proses ini. Kita mengirimkan pesan bahwa kita tidak nyaman dengan emosi sulit mereka dan tidak ingin mendengarnya. Hal ini membuat anak-anak cenderung tidak akan berbagi perasaan mereka dengan kita, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mengekspresikan dan mengatasinya,” jelas pakar perkembangan anak Claire Lerner.
6. 'Ini salahku'
Saat seorang anak terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang salah, itu bukan hanya upaya mereka untuk bertanggung jawab, tetapi lebih merupakan respons bawaan terhadap perasaan mereka tentang diri mereka sendiri dalam hidup ini. Mungkin mereka terus-menerus menjadi sasaran kesalahan, baik itu karena jenis rumah tangga tempat mereka dibesarkan atau lingkungan di sekitar mereka di sekolah.
Mereka telah belajar untuk hanya memikul kesalahan sebagai cara untuk menjaga perdamaian dan menghindari konflik, tetapi berpikir seperti ini sejak usia muda berarti mereka mempersiapkan diri untuk selalu berpikir bahwa segala sesuatu adalah kesalahan mereka sendiri.
7. 'Aku tidak mau bicara'
Ketika seorang anak sangat menolak untuk berbicara atau terbuka, mungkin terasa seperti mereka hanya keras kepala, tetapi seringkali itu hanyalah cara mereka untuk melindungi diri sendiri. Anak-anak yang tidak bahagia biasanya menutup diri ketika mereka merasa tidak aman dan kewalahan.
Mereka berpikir bahwa berbicara akan lebih berisiko, terutama jika mereka pernah mengalami pengalaman di masa lalu di mana ketika mencoba untuk terbuka, mereka hanya diabaikan atau bahkan dikritik. Diam telah menjadi cara mereka untuk mencoba tetap mengendalikan apa yang mereka pilih untuk dibagikan.
8. 'Aku merasa sangat bingung'
Ketika seorang anak mengungkapkan bahwa mereka merasa tersesat dalam hal apa pun, biasanya karena mereka merasakan kebingungan yang mendalam. Mereka mungkin merasa seolah-olah mereka tidak benar-benar memiliki tujuan, yang merupakan perasaan besar bagi seorang anak.
Namun, mengingat anak-anak baru saja mencoba memahami diri mereka sendiri dan seringkali membuat kesalahan, ini adalah pengingat bahwa terlepas dari usia mereka, mereka juga berjuang untuk menemukan sedikit stabilitas.
9. 'Semuanya sia-sia'
"Semuanya sia-sia" adalah salah satu ungkapan yang sering diucapkan anak-anak yang tidak bahagia, karena ketika seorang anak merasakan keputusasaan yang begitu dalam, sulit bagi orang dewasa di sekitar mereka untuk berada di sana dan menghibur mereka, terutama karena mereka mungkin tidak mengerti dari mana perasaan itu berasal.
Bagi anak-anak, ini bukan tentang satu momen atau situasi tertentu yang membuat mereka merasa seolah hidup ini sia-sia, tetapi lebih tentang pola pikir yang mereka miliki. Bisa jadi karena mereka telah berulang kali menghadapi kekecewaan dan sekarang tidak melihat jalan keluar dan sekarang mereka telah berhenti mencoba sama sekali.
Sebagai orang tua, kita perlu menghadapi anak-anak dengan gagasan ini dari sudut pandang empati daripada membuat mereka bahwa ada yang salah dari mereka.
10. 'Rasanya ingin mulai dari awal saja'
Mereka mungkin merasa terjebak dalam situasi di mana memperbaiki sesuatu tampaknya benar-benar sulit. Itu bisa berupa perselisihan dengan teman, mendapat nilai buruk di sekolah, atau bahkan menghadapi sesuatu yang terjadi di rumah.
Mereka berpikir bahwa memulai dari awal akan membuat mereka merasa lebih baik, dan meskipun itu mungkin benar untuk sementara waktu, melarikan diri dari perasaan rumit mereka itu bukan hal yang tepat, sebab perasaan itu akan tetap muncul.
Ketika seorang anak mengungkapkan perasaan ini, respons terbaik yang dapat diberikan orang tua atau pengasuh mereka adalah membantu mereka memahami bahwa meskipun perubahan itu wajar, memulai dari awal tidak berarti segalanya akan tiba-tiba menjadi lebih baik.
11. 'Aku takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya'
Anak-anak yang takut akan masa depan bukanlah hal yang aneh. Bagi orang dewasa, hal itu berasal dari rasa takut tidak mampu mengendalikan apa yang akan terjadi, dan hal yang sama juga berlaku untuk anak-anak, Bunda. Bagi anak yang tidak bahagia, perubahan sekecil apa pun dapat terasa mengancam.
Hal ini karena mereka sudah berada dalam kondisi ketidakpastian dan ketakutan. Ketidakpastian bukan hanya membuat mereka tidak nyaman, tetapi juga membuat mereka gelisah.
"Menjadi mahir dalam menghadapi perubahan adalah salah satu keterampilan hidup terpenting yang dapat kita ajarkan kepada anak-anak kita. Bagi sebagian anak, hal itu dapat terjadi secara alami, sementara yang lain membutuhkan lebih banyak waktu untuk memproses ketakutan atau kekhawatiran mereka," tutur pakar pengembangan pribadi Ariane de Bonvoisin.
Sebagai orang tua, kita dapat menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk berlindung ketika kehidupan luar mereka dipenuhi dengan perubahan baru dan kita dapat menunjukkan kepada mereka bahwa cinta dan kehadiran tidak pernah berubah. Demikian menurut de Bonvoisin.
Mulai sekarang, yuk kita kenali kata-kata yang bisa menjadi tanda anak tidak bahagia. Mulai peka saat Si Kecil mengatakan tidak ada yang menyukainya atau kalimat putus asa dalam kegiatan sehari-harinya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)ARTIKEL TERKAIT
Parenting
4 Cara Tepat Mengajarkan Anak Kendalikan Emosi Marah Menurut Psikolog Anak
Parenting
5 Cara Ajarkan Anak Kenali Emosinya agar Tidak Sering Tantrum
Parenting
Tak Perlu Dimarahi, Coba 3 Trik Ini agar Anak yang Cengeng Jadi Lebih Tenang
Parenting
Duh, Anak Malah Balik Menyalahkan Saat Dinasihati Orang Tuanya
Parenting
Bunda, Ini Beda Pertumbuhan dan Emosi Anak Laki-laki Vs Perempuan
7 Foto
Parenting
7 Potret Mima Shafa, Anak Mona Ratuliu yang Jadi Penggiat Isu Kesehatan Mental
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Ucapan Orang Tua yang Niatnya Baik tapi Bisa Melukai Mental Anak
5 Ucapan Orang Tua yang Bisa Melukai Kondisi Psikologis Anak
Tanpa Disangka, Satu Ucapan Bunda Ini Membekas di Hati Anak hingga 20 Tahun