HaiBunda

PARENTING

Gejala Campak yang Sering Disangka Flu Biasa pada Anak

Annisya Asri Diarta   |   HaiBunda

Senin, 21 Sep 2026 08:40 WIB
Beda campak dan flu biasa/ Foto: Getty Images/Kong Ding Chek

Campak merupakan salah satu penyakit menular yang masih perlu diwaspadai, terutama pada anak. Kondisi ini kerap membuat Bunda khawatir karena dapat menular dengan mudah dan berisiko menimbulkan masalah kesehatan apabila tidak ditangani dengan tepat.

Pada tahap awal, campak dapat terlihat seperti flu biasa yang umum dialami anak. Hal tersebut membuat sebagian orang tua tidak langsung menyadari bahwa kondisi yang dialami Si Kecil merupakan bagian dari gejala campak.

Data yang dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa jumlah kasus campak di Indonesia pada 2022, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai, meski Indonesia sebelumnya telah mengalami penurunan kasus campak dan rubella secara signifikan.


Mengutip The Telegraph, peningkatan kasus campak disebabkan oleh rendahnya cakupan vaksin MMR. Dr. Vohra menjelaskan, "Selama kurang lebih 20 tahun terakhir, cakupan vaksin kombinasi yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubella, yang diberikan kepada anak-anak berusia satu tahun dan sebelum memasuki usia sekolah, telah mengalami penurunan," ujarnya.

Dr. Vohra juga menambahkan, "Di wilayah London, kekebalan kelompok belum mencapai tingkat yang dibutuhkan," lanjutnya, seperti dikutip dari The Telegraph. Kekebalan kelompok merupakan perlindungan yang diperoleh masyarakat ketika cakupan vaksinasi dalam suatu populasi cukup tinggi.

Sebaiknya Bunda tetap waspada meski campak kerap terlihat seperti flu biasa pada tahap awal. Lantas, seperti apa kondisi yang perlu diperhatikan agar campak pada Si Kecil tidak terlambat dikenali?

Apa itu campak?

Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, campak merupakan penyakit akut menular yang disebabkan oleh virus dan umumnya menyerang anak-anak. Penyakit ini biasanya memiliki tingkat keparahan ringan hingga sedang. Penularan campak dapat terjadi melalui droplet atau partikel di udara (airborne).

Meski gejalanya mirip dengan flu biasa, Bunda sebaiknya tidak meremehkan penyakit ini. Pasalnya, pada 2018, lebih dari 140.000 orang meninggal dunia akibat campak. Mayoritas kematian tersebut terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun, meskipun telah tersedia vaksin campak yang aman dan efektif. 

Gejala umum campak

Mengutip dari The Telegraph, Bunda dapat mengenali gejala campak yang sering terjadi pada anak-anak. Simak selengkapnya.

  1. Gejala mirip flu seperti demam dengan suhu tinggi, hidung berair atau tersumbat, bersin, batuk, mata merah, perih, dan berair.
  2. Munculnya bintik-bintik di dalam mulut.
  3. Munculnya ruam pada wajah, telinga, dan tubuh.

Gejala spesifik campak

Kasus campak masih perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak usia balita. Para ahli merekomendasikan agar orang tua mempelajari dan mengenali kondisi yang berkaitan dengan campak. Dengan begitu, Bunda dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk melindungi Si Kecil.

Seorang dokter bernama Pavia mengatakan bahwa dirinya sering menemukan pasien dengan kondisi yang menyerupai flu selama musim gugur hingga awal musim semi. Situasi tersebut membuat kondisi awal campak menjadi lebih sulit dikenali karena memiliki kemiripan dengan penyakit pernapasan yang umum terjadi pada periode tersebut.

Dr. Radhika Vohra, seorang dokter umum di Rumah Sakit Spire Gatwick Park juga menjelaskan bahwa gejala awal campak tidak jauh berbeda dengan flu atau pilek biasa dan umumnya muncul sekitar 10 hingga 14 hari, setelah seseorang terpapar virus. "Biasanya, campak pertama kali muncul sebagai gejala pilek," ucapnya.

Dr. Vohra menambahkan, "Jadi, gejalanya seperti pilek selama beberapa hari, dan disertai demam tinggi, hidung berair atau tersumbat, bersin, batuk, mata merah, perih, dan berair. Kemudian, Si Kecil bisa mengalami bintik-bintik di mulut yang muncul di bagian dalam pipi atau di belakang bibir, atau ruam beberapa hari kemudian, terutama di wajah dan telinga, lalu menyebar ke seluruh tubuh," ujarnya, seperti dikutip dari The Telegraph.

Ketika musim flu dan pilek mulai berakhir pada pertengahan April, kewaspadaan terhadap kondisi seperti demam dan batuk justru perlu ditingkatkan. Pavia mengatakan, "Ketika kasus flu dan RSV (respiratory syncytial virus) mulai menurun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan karena kemungkinan berkaitan dengan campak pada anak," ucapnya, seperti dikutip dari CIDRAP.

Ia juga menambahkan bahwa banyak pasien sering kali tidak terus terang mengenai riwayat paparan campak yang dialaminya. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa beberapa kasus dapat luput dari pengawasan.

Seorang praktisi perawat anak sekaligus mantan presiden National Foundation for Infectious Diseases, Patsy Stinchfield, RN, MS, menjelaskan salah satu gejala spesifik campak. "Gejala campak dapat dikenali dari sensitivitas yang sangat tinggi terhadap cahaya, mereka ingin berada di ruangan gelap kemudian akan mengeluh jika lampu dimatikan," ucapnya, seperti dikutip dari CIDRAP.

Ia juga menyarankan agar orang tua tidak membawa anak yang sedang sakit ke tempat umum, baik sudah maupun belum mengalami ruam.

Selain itu, Bunda dapat mengenali gejala awal lainnya melalui bintik-bintik kecil berwarna putih kebiruan di dalam mulut yang dikenal sebagai bintik Koplik. Bintik ini dapat muncul satu hingga dua hari sebelum atau setelah ruam muncul.

"Bintik-bintik tersebut sulit dilihat, terutama oleh mata yang tidak terlatih," kata Stinchfield.

Ciri khas ruam campak berupa campuran bintik-bintik kecil dan datar dengan benjolan merah yang menonjol. Ruam biasanya dimulai dari dahi, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi ini umumnya muncul setelah tiga hingga lima hari sejak anak mulai mengalami sakit.

Saat Si Kecil mengalami campak dengan gejala yang mirip flu

Ari Brown, MD, seorang dokter di Austin, Texas, sekaligus penulis buku Baby 411 dan Toddler 411, menyarankan, "Jika Bunda mencurigai anak terkena campak, Bunda perlu menjaga Si Kecil tetap di rumah." Ia juga mengatakan "Kala anak tinggal di daerah yang marak terjadi campak, sebaiknya Bunda menelepon atau melakukan konsultasi jarak jauh (telehealth)," tambah Brown, seperti dikutip dari CIDRAP.

"Gejala campak juga sering kali menyebabkan dehidrasi dan membutuhkan cairan intravena (IV)," imbuh Stinchfield. Ketika Bunda memberikan pemberitahuan lebih dulu kepada staf medis, mereka dapat mengenakan respirator N95 dan jubah pelindung sebagai upaya pencegahan.

Stinchfield mengatakan, "Staf unit gawat darurat (UGD) akan memberi tahu Bunda persis di mana harus tiba untuk membantu mencegah penularan kepada orang lain," ucapnya. Ia juga merekomendasikan agar Bunda mengenakan masker sebelum tiba di fasilitas kesehatan.

Pencegahan campak

Cara utama mencegah campak pada anak adalah dengan memastikan Si Kecil mendapatkan vaksinasi secara lengkap. Vohra menegaskan, "Jika Si Kecil divaksinasi lengkap, tentunya ia akan terlindungi 99 persen. Kami juga berupaya mencegah orang terkena campak dengan mendorong orang tua untuk memeriksa buku merah dan status vaksinasi anak-anak mereka, serta memulai program di sekolah untuk membantu mereka yang belum divaksinasi agar mendapatkan vaksinasi yang lengkap," ujarnya, seperti dikutip dari The Telegraph.

WHO mengklasifikasikan campak sebagai salah satu penyakit menular yang sangat berbahaya di dunia. "Anak-anak harus tidak masuk tempat penitipan anak atau sekolah setidaknya selama empat hari sejak ruam pertama kali muncul. Saran yang sama berlaku seperti pada virus lainnya," kata Vohra.

Ia juga menegaskan bahwa anak yang sedang terinfeksi perlu menghindari kontak dengan kelompok rentan. "Siapa pun yang terinfeksi harus berusaha menghindari kontak dengan orang-orang yang rentan seperti bayi, wanita hamil, dan orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah."

Itulah penjelasan mengenai gejala campak yang sering disangka flu biasa pada anak. Semoga bermanfaat untuk antisipasi kesehatan Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Waspada Campak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Oki Setiana Dewi dan Anak-anak Kembali ke Mesir usai Liburan di Indonesia

Parenting Annisa Karnesyia

Tidur Kurang dari 6 Jam dan Sering Mendengkur, Studi Ungkap Kaitannya dengan Kanker Payudara

Menyusui Dwi Indah Nurcahyani

Gejala Campak yang Sering Disangka Flu Biasa pada Anak

Parenting Annisya Asri Diarta

Kisah Bunda 54 Tahun Melahirkan Bayi dari Embrio Beku 22 Tahun

Kehamilan Amrikh Palupi

11 Ucapan Sehari-hari yang Bikin Kamu Terdengar Lebih Berkelas Menurut Pakar

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Potret Oki Setiana Dewi dan Anak-anak Kembali ke Mesir usai Liburan di Indonesia

Tidur Kurang dari 6 Jam dan Sering Mendengkur, Studi Ungkap Kaitannya dengan Kanker Payudara

Gejala Campak yang Sering Disangka Flu Biasa pada Anak

Kisah Bunda 54 Tahun Melahirkan Bayi dari Embrio Beku 22 Tahun

10 Film Bruce Lee Rating Tertinggi yang Wajib Ditonton Sekali Seumur Hidup

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK