Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Anak Kecanduan TikTok, Reels, dan YouTube Shorts? Kenali Dampaknya pada Mental

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Selasa, 20 Oct 2026 18:20 WIB

Anak kecanduan YouTube
Anak kecanduan YouTube/ Foto: Getty Images/somethingway

Media sosial seperti Tik Tok, Instagram reels, dan YouTube shorts kerap menjadi candu untuk anak-anak. Sebagai orang tua, kita tentu ingin membantu melindungi anak-anak sekaligus membantu mereka belajar menetapkan batasan mereka sendiri secara sehat.

Sebuah penelitian terkini menunjukkan bahwa paparan berlebihan video berdurasi pendek di platform YouTube dan TikTok, dapat mengurangi kesempatan untuk melatih kemampuan memusatkan perhatian, Bunda. Anak juga tidak bisa mengelola rasa bosan, mengatur emosi, serta mengembangkan kreativitas dan ketangguhan (resilient).

Bagaimana video berdurasi pendek pengaruhi perhatian dan fungsi eksekutif otak anak? Otak anak-anak masih dalam tahap mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk fokus, mengendalikan impuls, mengatur emosi, merencanakan tindakan, dan mengatasi rasa frustrasi, kemampuan yang sering disebut sebagai fungsi eksekutif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dikutip dari Katy Child Psychology, keterampilan tersebut berkembang melalui pengalaman sehari-hari seperti membaca buku, menyelesaikan pekerjaan rumah, merakit sesuatu, memecahkan masalah, menunggu dengan sabar, bermain di luar ruangan, dan menghadapi tantangan yang tidak memberikan imbalan instan.

Video berdurasi pendek yang sangat menstimulasi, tidak serta-merta menghambat perkembangan keterampilan tersebut. Namun, ketika video-video ini secara konsisten menggantikan pengalaman-pengalaman tadi, anak-anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih perhatian, kegigihan, dan pengaturan diri, yang menjadi landasan bagi fungsi eksekutif.

Kekhawatirannya bukan sekadar tentang berapa banyak waktu yang dihabiskan anak di depan layar. Masalah utamanya adalah apakah teknologi tersebut menggeser pengalaman-pengalaman yang membantu otak mereka mengembangkan keterampilan hidup yang penting ini.

Dampak anak kecanduan video berdurasi pendek

TikTok, Instagram reels, dan YouTube Shorts, video berdurasi pendek bisa menjadi pilihan utama atau kebiasaan yang dilakukan secara otomatis. Kegiatan ini bersaing dengan kegiatan lain yang sebenarnya berkontribusi pada kualitas hidup yang positif, seperti hobi, aktivitas kreatif, dan interaksi sosial secara langsung.

Khususnya pada remaja, akses ponsel untuk menelusuri konten TikTok telah menjadi refleks otomatis setiap kali mereka merasa bosan. Otak jadi berpikir, kita tidak perlu bersusah payah mempelajari hal baru jika menggulir video sama sekali tidak memerlukan usaha.

Ketika otak terbiasa dengan tingkat stimulasi tinggi yang terus-menerus, aktivitas lain yang tidak memiliki tingkat stimulasi serupa akan terasa sangat membosankan. Hal ini membuat seseorang semakin sulit untuk tetap fokus secara mental pada kegiatan yang berdurasi lebih lama dan/atau membutuhkan usaha mental lebih besar, serta tidak secara inheren menyenangkan atau mengasyikkan (misalnya, mengerjakan pekerjaan rumah).

Kondisi tersebut juga menyulitkan anak untuk menghadapi situasi yang menuntut kesabaran,  atau pengambilan keputusan berdasarkan hasil jangka panjang.

Cara orang tua mendampingi dan membatasi anak mengakses YouTube hingga TikTok

Penggunaan teknologi yang sehat bukan berarti harus menghindari layar sepenuhnya. Tujuannya adalah memastikan teknologi mendukung kehidupan keluarga, bukan justru menggantikan pengalaman-pengalaman yang paling dibutuhkan anak-anak. Dilansir Counseling Corner, beberapa gagasan praktis yang bisa diterapkan orang tua, antara lain:

  • Terapkan rutinitas bebas ponsel saat waktu makan dan menjelang tidur.
  • Berikan contoh penggunaan perangkat secara sadar dengan menjelaskan alasan Anda menggunakan ponsel.
  • Berikan kesempatan bagi anak untuk merasakan rasa bosan sebelum menawarkan hiburan.
  • Sesekali tontonlah konten bersama-sama dan diskusikan isinya setelah selesai.
  • Batasi konsumsi video berdurasi pendek yang sangat menstimulasi menjelang waktu tidur.
  • Prioritaskan aktivitas fisik, membaca, permainan imajinatif, percakapan, dan waktu di luar ruangan setiap harinya.
  • Matikan notifikasi yang tidak perlu dan ciptakan momen bebas layar agar perhatian dapat terfokus sepenuhnya.

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan dampak lebih besar dibandingkan aturan ketat yang sulit untuk dipertahankan.

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda