Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Maksud Hati Menghibur, Kebiasaan Orang Tua Ini Justru Bisa Membuat Anak Memendam Perasaan

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Rabu, 04 Nov 2026 16:15 WIB

Kebiasaan orang tua
Kebiasaan orang tua yang membuat anak memendam perasaan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/imtmphoto
Daftar Isi

Ketika anak mengalami kesedihan atau kekecewaan, menghibur jadi salah satu kebiasaan orang tua yang langsung terbesit untuk dilakukan. Meskipun kadang ini merupakan bentuk naluri perlindungan dan kasih sayang orang tua, serta bermaksud baik. Namun, menurut para ahli kebiasaan orang tua ini tidak selalu baik bagi anak, Bunda.

Dilansir laman Yahoo! life, sikap orang tua ketika selalu mendorong anak berpikir positif, ketika anak sedang bersedih dikenal dengan istilah brightsiding. Untuk penjelasan lebih lanjut, mari simak artikel berikut ini, Bun.

Kebiasaan orang tua yang bisa membuat anak memendam perasaan 

Kebiasaan orang tua agar anak selalu mengambil sisi positif ketika alami kesulitan, dapat berisiko terhadap emosi anak. Ia dapat kesulitan untuk mengungkapkan emosi kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan kecemasan. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam jangka waktu yang panjang, anak-anak dapat terbiasa menyembunyikan keadaan batin mereka, demi melindungi perasaan orang tua. Ketika anak terbiasa memendam perasaan, ia berpotensi kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya pada saat mereka membutuhkan dukungan.

Brightsiding biasanya bukan upaya yang sengaja dilakukan orang tua untuk mengabaikan emosi anak. Brightsiding bisa terjadi karena timbul ketidaknyamanan atau kecemasan orang tua ketika melihat anak mengalami rasa sakit emosional. Sehingga, brightsiding menjadi mekanisme koping otomatis yang digunakan orang tua untuk mengatur stres mereka pada saat itu.

CEO dan Co-Founder Monima Wellness di California, Dr. Max Doshay menyampaikan bahwa brightsiding sering kali berasal dari keinginan orang dewasa untuk menjaga keseimbangan emosional. 

“Pada intinya, brightsiding sering muncul dari keinginan untuk menjaga keseimbangan emosi, tetapi lebih demi kenyamanan orang yang mengucapkannya daripada orang yang sedang mengalami kesulitan,” ujarnya, dikutip laman Parade.

Ia juga menjelaskan bahwa brightsiding menjadi cara untuk menghindari emosi atau percakapan yang tidak nyaman, dengan cara mengucapkan hal-hal optimis. Sayangnya, menganggap enteng pengalaman kompleks yang dialami anak dapat membuat mereka merasa terisolasi.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Psikolog asal Amerika Serikat, Lienna Wilson, PsyD,. Menurutnya, brightsiding adalah bentuk penolakan yang menyamar sebagai dukungan yang terjadi ketika pendengar ragu untuk berhadapan dengan emosi yang berat. 

"Dari sudut pandang itu, hal itu bisa dilihat sebagai gaslighting atau toxic positivity," tuturnya.

Ucapan penghiburan seperti “coba lihat sisi positifnya” atau “Ini bukan masalah besar” di waktu yang tidak tepat dapat membuat anak berpikir reaksi emosional mereka salah, dramatis, atau tidak diinginkan. Anak bisa saja beranggapan bahwa perasaan menyakitkan mereka membuat orang dewasa di sekitar mereka tidak nyaman. Sehingga, mereka harus menyembunyikan kerentanan mereka di lain waktu.

Psikolog sekaligus Pakar Pengasuhan Dr. Robyn Koslowitz, PhD menyampaikan, ada kategori kalimat yang sering diucapkan orang tua. Ucapan berikut ini secara tidak langsung dapat membuat anak menghindari memproses perasaan mereka.

1. Kalimat yang "menghapus perasaan"

Ucapan "Kamu baik-baik saja", "Itu bukan masalah besar", atau "Anak besar enggak boleh nangis" secara langsung memberitahu anak bahwa reaksi emosinya salah atau berlebihan.

2. Kalimat yang "mengecilkan perasaan"

Ungkapan yang diawali "Untung saja..." atau "Bisa lebih buruk lagi" yang mengajak anak memandang masalahnya dari sudut lain. Padahal yang ia butuhkan adalah empati dan kehadiran orang tua.

3. Kalimat yang "mempercepat perasaan"

Ucapan seperti "Nanti juga lupa" atau "Nanti juga baik-baik saja" dapat mendorong anak melewati rasa tidak nyaman dengan cepat, alih-alih belajar menghadapinya.

4. Kalimat yang "mengganti perasaan"

Ucapan seperti "Lihat sisi baiknya" atau "Berpikir positif saja" secara tidak langsung memaksa anak menukar emosi yang berat dengan yang menyenangkan, sebelum ia sempat mengolah apa yang terjadi.

Alih-alih terburu-buru memperbaiki setiap tangisan atau kegagalan anak, orang tua dapat membangun kapasitas emosional anak dengan melatih kemampuannya menghadapi rasa tidak nyaman. 

Akan lebih baik apabila orang tua tidak selalu memaksakan sisi positif. Ketika anak mengalami kesedihan, orang tua dapat memberi respons yang menguatkan, misalnya ucapan "Ibu/Ayah tahu ini terasa sangat berat sekarang, Ibu/Ayah ada di sini bersamamu." 

Dengan memberi ruang bagi anak untuk merasa rasa sedih, kesal, dan khawatir, orang tua mengajarkan anak bahwa tidak ada emosi yang berbahaya. Selain itu, anak juga dapat belajar bahwa ia tidak harus menanggung perasaan yang berat sendirian.

Demikian penjelasan tentang kebiasaan orang tua yang dapat membuat anak memendam perasaan. Menghibur anak menjadi sikap baik yang dilakukan orang tua saat anak bersedih. Namun, ada masa di mana anak perlu menerima kesedihannya dan tidak didorong untuk selalu berpikir positif.

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda