HaiBunda

PARENTING

6 Cara Mengubah Pola Asuh Turun-Menurun yang Bisa Berbahaya Bagi Anak

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 06 Nov 2026 12:15 WIB
6 Cara Mengubah Pola Asuh Turun-Menurun yang Bisa Berbahaya Bagi Anak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Prostock-Studio
Jakarta -

Pola asuh yang diterapkan orang tua sering kali berasal dari kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, tidak semua pola asuh tersebut baik untuk perkembangan anak sehingga perlu dihentikan, Bunda.

Beberapa pola asuh justru dapat membuat anak merasa takut, kurang percaya diri, hingga kesulitan mengekspresikan perasaannya. Oleh karena itu, orang tua perlu mulai mengevaluasi pola pengasuhan yang selama ini dianggap wajar.

Sebenarnya, pola asuh diturunkan adalah hal umum yang terjadi di keluarga. Orang tua mungkin mengulangi kebiasaan yang 'buruk' dari masa kecil mereka sendiri, terutama ketika mereka merasa stres atau kesal.


"Jika ibu dan ayah pernah mendapati dirinya memarahi anak-anak dengan kata-kata dan frasa yang sama seperti yang digunakan orang tua mereka dulu, maka kamu tidak sendirian," kata pekerja sosial klinis berlisensi di Thriveworks, Tawnie Putignano, LCSW.

"Suka atau tidak suka, cara orang tua kita membesarkan kita akan terlihat dalam cara kita membesarkan anak-anak kita sendiri," sambungnya, dilansir Parents.

Memahami norma-norma antar generasi dalam pengasuhan anak sangat penting bagi masa depan anak. Meski begitu, tidak mudah untuk mengubahnya dengan cepat.

"Memutus pola antar generasi itu sulit karena perilaku-perilaku ini sering kali tertanam dalam diri kita selama tahun-tahun paling penting dalam perkembangan," ungkap psikiater anak dan remaja di Mindpath Health, Zishan Khan, MD.

"Banyak orang tua cenderung melakukan apa yang terasa familiar, terutama di saat stres atau kelelahan... bahkan ketika orang tua secara intelektual tahu ada sesuatu yang tidak beres, ingatan emosional mereka dapat mengambil alih."

Sementara menurut psikolog Emily Guarnotta, PsyD, PMH-C, anak-anak sangat peka terhadap pengasuh mereka. Jika orang tua mengungkapkan rasa frustrasi atau menyalahkan anak mereka atas stres yang dialami sendiri, anak-anak mungkin akan menanamkan keyakinan bahwa mereka adalah beban.

"Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan orang tua yang memiliki kesadaran emosional dan bersedia memperbaiki hubungan ketika mereka melakukan kesalahan," ujar Guarnotta.

Cara mengubah pola asuh turun-menurun yang berbahaya

Nah, berikut enam cara mengubah pola asuh turun-menurun yang bisa berbahaya bagi anak:

1. Hindari pola pikir 'mini-me'

Narasi 'mini-me' yang ditujukan ke anak sebaiknya dihilangkan dari pikiran orang tua masa kini. Granahan menekankan bahwa anak-anak bukanlah versi mini dari orang tua mereka.

"Sama seperti kita bukanlah duplikat orang tua kita, anak-anak juga bukanlah duplikat dari kita," kata Granahan.

"Mereka lahir dengan kepribadian, bakat, dan kepekaan mereka sendiri. Kenali siapa mereka. Bersikaplah ingin tahu tentang mereka. Biarkan mereka menemukan siapa diri mereka sebelum kita memberi mereka identitas berdasarkan pengalaman kita sendiri."

2. Berhentilah sejenak sebelum bereaksi

Menurut Guarnotta, orang tua perlu berhenti sejenak sebelum menerapkan pola asuh ke anaknya. Melalui jeda ini, Bunda dapat memilih respons kita sendiri daripada secara otomatis menggunakan respons yang sudah biasa kita terima.

"Ketika kita merasa terpicu oleh anak, luangkan waktu sejenak untuk memperhatikan apa yang muncul sebelum kita bereaksi," kata Guarnotta.

"Tanyakan pada diri sendiri pertanyaan seperti, 'Apakah saya sedang mengulangi sesuatu yang pernah saya dengar atau lihat saat tumbuh dewasa?'," lanjutnya.

3. Praktikkan pola pengasuhan reflektif

Tips selanjutnya adalah menerakan pola pengasuhan yang reflektif. Guarnotta menyarankan untuk lebih memperhatikan pemicu. Misalnya, mungkin Bunda merasa terpicu ketika seorang anak menangis dan Bunda tidak yakin apakah reaksi berlebihan akan sesuai dengan situasi saat itu.

"Setelah momen sulit bersama anak, tanyakan pada diri sendiri, 'Apa yang saya rasakan barusan? Dari mana reaksi itu mungkin berasal?'. Ini dapat membangun kesadaran akan pola lama dan memberi kita kekuatan untuk memilih secara berbeda di lain waktu," ungkap Khan.

4. Menata ulang pola pikir pengasuhan 'lunak'

Pola asuh modern seperti gentle parenting telah mendapatkan reputasi sebagai strategi pengasuhan yang terlalu permisif. Namun, hal itu tidak selalu demikian. Guarnotta mendorong orang tua untuk mengubah persepsi tentang pengasuhan 'lembut' menjadi pengasuhan 'tegas'.

"Pola pengasuhan yang lembut sering kali mendapat reputasi buruk, tetapi kenyataannya empati, batasan, dan validasi emosional bukanlah tanda kelemahan. Hal-hal tersebut membutuhkan kesabaran, kesadaran diri, dan keterampilan mengatasi masalah. Mengubah cara berpikir kita tentang pengasuhan dapat membantu kita tetap fokus ketika orang lain mempertanyakan pendekatan kita atau ketika kritik batin muncul," ujar Guarnotta.

5. Memperbaiki yang sudah 'pecah'

Khan juga menyarankan untuk meminta maaf dengan tulus ke anak ketika Bunda atau Ayah berbuat salah. Ia meminta orang tua perlu memvalidasi perasaan anak. Misalnya, 'Jadi Bunda tadi merasa frustrasi dan berteriak. Itu tidak adil bagimu, dan Bunda minta maaf. Perasaanmu penting bagi Bunda'.

"Semua orang tua terkadang kehilangan kesabaran, tetapi yang terpenting adalah apa yang terjadi setelahnya. Memperbaiki keadaan dapat mengajarkan anak-anak bahwa hubungan dapat bertahan dari konflik dan bahwa perasaan mereka penting," kata Khan.

6. Mencari dukungan

Menjadi orang tua tanpa dukungan atau komunitas bukan hanya menantang, tetapi juga kesepian. Orang tua disarankan untuk memutus siklus antar generasi dengan keberanian, dan terhubung dengan orang tua lain untuk membantu menavigasi 'area' pengasuhan.

Bunda dan Ayah dapat mencari dukungan dengan mengikuti kelas atau kelompok pengasuhan. Selain bisa menjalin ikatan dengan orang tua lain, Bunda dan Ayah akan merasa tidak terlalu kesepian dan lebih berdaya.

Demikian enam cara mengubah pola asuh turun-menurun yang bisa berbahaya bagi perkembangan anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Cara Mengenali Orang EQ Tinggi Dilihat dari Cara Balas Chat

Mom's Life Dilla Atqia Rahmah

Bukan MSCI, Ini Masalah yang Dinilai Lebih Berbahaya bagi Rupiah Menurut Ekonom

Mom's Life Annisa Karnesyia

Bukan soal Finansial, Ini Alasan Pasangan Tunda Punya Anak

Mom's Life Tiara Jasmine & Fauzan Julian Kurnia

5 Potret Khadeeja Aisha Putri Bungsu Andra Ramadhan yang Sudah Dewasa

Mom's Life Amira Salsabila

6 Cara Mengubah Pola Asuh Turun-Menurun yang Bisa Berbahaya Bagi Anak

Parenting Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Bukan MSCI, Ini Masalah yang Dinilai Lebih Berbahaya bagi Rupiah Menurut Ekonom

Cara Mengenali Orang EQ Tinggi Dilihat dari Cara Balas Chat

Bukan soal Finansial, Ini Alasan Pasangan Tunda Punya Anak

6 Cara Mengubah Pola Asuh Turun-Menurun yang Bisa Berbahaya Bagi Anak

5 Potret Khadeeja Aisha Putri Bungsu Andra Ramadhan yang Sudah Dewasa

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK