HaiBunda

PARENTING

Cara Mengenali Anak yang Dibesarkan Orang Tua Otoriter dari Ucapan Sehari-hari

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Sabtu, 07 Nov 2026 15:40 WIB
Pola asuh otoriter/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tomwang112

Pola asuh orang tua memiliki pengaruh besar terhadap cara anak memandang dirinya sendiri, mengelola emosi, hingga membangun hubungan dengan orang lain. Anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter, misalnya, bisa terbiasa mengikuti aturan ketat dan takut melakukan kesalahan.

Pengalaman tersebut bahkan dapat terbawa hingga mereka dewasa dan tercermin melalui ucapan sehari-hari. Meski orang tua mungkin menerapkan aturan tegas dengan niat melindungi anak, pola asuh yang terlalu keras dan minim ruang untuk menyampaikan pendapat dapat memengaruhi kepercayaan diri serta kemandirian anak.

Berikut 11 ucapan sehari-hari yang bisa menjadi gambaran anak yang tumbuh dengan pola asuh otoriter. Yuk, kenali tanda-tandanya melalui penjelasan berikut ini, Bunda!


11 Ucapan sehari-hari sering digunakan anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter

Melansir dari laman Your Tango, berikut 11 ucapan yang dapat mencerminkan pengalaman seseorang yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter:

1. "Aku tidak mau merepotkan orang lain"

Seseorang yang tumbuh dengan pola asuh keras mungkin terbiasa merasa bahwa kebutuhan atau keinginannya hanya akan menjadi beban bagi orang lain. Akibatnya, mereka cenderung menahan diri, bahkan ketika sebenarnya membutuhkan bantuan atau ingin menyampaikan sesuatu.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Cognitive Neuroscience mengaitkan pengalaman pengasuhan yang keras dan penuh hukuman dengan meningkatnya kecemasan ketika anak bertambah dewasa.

Perasaan harus selalu berhati-hati agar tidak mengecewakan orang tua dapat membuat mereka khawatir dianggap merepotkan.

2. "Aku tidak butuh bantuan"

Anak yang sejak kecil merasa tidak memiliki kendali atas kehidupannya di rumah bisa tumbuh menjadi pribadi yang sangat mengandalkan diri sendiri. Mereka mungkin merasa lebih aman ketika mengurus segala sesuatu tanpa melibatkan orang lain.

Pakar hubungan, Annie Tanasugarn menjelaskan bahwa sikap terlalu mandiri atau hyper-independence dapat menjadi respons terhadap pengalaman traumatis. Sikap ini mungkin memberikan rasa aman dan kendali untuk sementara, tetapi berisiko membuat seseorang merasa terisolasi dan kesepian.

3. "Mungkin aku saja yang terlalu berlebihan"

Ucapan ini dapat menunjukkan kebiasaan seseorang meragukan perasaan sendiri. Mereka mungkin merasa tidak berhak kecewa, marah, atau sedih karena terbiasa mendapatkan respons negatif ketika mengungkapkan emosi.

Pengalaman ketika perasaan anak sering disangkal atau dianggap tidak penting dapat memengaruhi kepercayaan dirinya. Saat dewasa, mereka bisa terbiasa mengecilkan masalah yang dihadapi, menyalahkan diri sendiri, atau menghindari batasan yang sebenarnya perlu ditegaskan.

4. "Aku tidak punya pilihan"

Sebagian anak yang dibesarkan dengan aturan sangat ketat terbiasa menyerahkan keputusan kepada orang lain. Sejak kecil, mereka mungkin jarang diberi kesempatan menentukan pilihan sendiri dan lebih sering diminta mengikuti perintah.

Kebiasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa. Mereka mungkin merasa membutuhkan sosok lain untuk mengarahkan kehidupannya, seperti atasan atau pasangan.

Akibatnya, mereka berisiko kesulitan menyampaikan pendapat dan lebih mudah menerima perlakuan yang tidak adil.

5. "Seharusnya aku berusaha lebih keras"

Anak yang tumbuh dengan tuntutan tinggi dan hukuman ketika melakukan kesalahan bisa terbiasa menyalahkan diri sendiri. Ketika menghadapi kegagalan, mereka mungkin merasa bahwa semua itu terjadi karena usahanya belum cukup maksimal.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology mengaitkan pola pengasuhan yang keras dengan rendahnya harga diri, dan kemampuan mengelola emosi anak.

Hal ini dapat membuat seseorang kesulitan memaafkan diri sendiri dan menerima bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.

6. "Aku memang pantas diperlakukan seperti itu"

Pengalaman bersama orang tua dapat membentuk gambaran seseorang mengenai hubungan yang dianggap normal. Jika sejak kecil terbiasa menerima perlakuan keras, kontrol berlebihan, atau kurangnya kehangatan emosional, mereka mungkin menganggap pola serupa sebagai sesuatu yang wajar.

Akibatnya, ketika dewasa, mereka bisa kesulitan menetapkan batasan dalam hubungan pertemanan maupun percintaan. 

7. "Tidak ada yang mengerti aku"

Anak yang terbiasa diminta menyembunyikan perasaan mungkin kesulitan mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Ketika tidak memiliki ruang aman untuk bercerita, mereka bisa merasa tidak dipahami oleh orang-orang di sekitarnya.

Pola asuh otoriter yang terlalu menekankan kepatuhan tanpa memberi ruang untuk berdiskusi, juga dapat membuat anak kesulitan menunjukkan sisi dirinya secara terbuka.

Saat dewasa, kondisi ini bisa memengaruhi kemampuan mereka membangun kedekatan emosional dengan orang lain.

8. "Aku harus bisa melakukan lebih baik"

Keinginan untuk terus berkembang tentu merupakan hal positif. Namun, pada sebagian orang yang dibesarkan dengan tuntutan tinggi, dorongan untuk selalu menjadi lebih baik bisa berkaitan dengan rasa takut melakukan kesalahan.

9. "Bukan itu yang aku maksud"

Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang sering menyangkal atau memutarbalikkan perkataannya bisa menjadi lebih defensif ketika berkomunikasi. Mereka mungkin merasa perlu terus meluruskan ucapan agar tidak disalahpahami.

Sikap tersebut juga dapat muncul sebagai upaya mempertahankan kendali atas cara orang lain memandang dirinya. Namun, jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan defensif ini berpotensi memicu kesalahpahaman dan konflik dalam hubungan.

10. "Biar aku saja yang membereskan"

Sebagian anak yang dibesarkan dengan tuntutan berlebihan mungkin terbiasa mengambil tanggung jawab yang seharusnya tidak sepenuhnya menjadi beban mereka.

Misalnya, mereka diminta menjaga adik, menyelesaikan masalah keluarga, atau selalu menjaga suasana rumah tetap tenang.

Kebiasaan tersebut dapat terbawa hingga dewasa. Mereka cenderung merasa harus menyelesaikan masalah orang lain, bahkan ketika bukan dirinya yang melakukan kesalahan. 

11. "Aku baik-baik saja"

Ucapan ini sering digunakan untuk menutupi perasaan yang sebenarnya sedang dialami. Anak yang terbiasa mendapat respons negatif ketika menunjukkan kesedihan atau kemarahan mungkin belajar untuk menyimpan emosinya sendiri.

Ketika dewasa, mereka bisa merasa tidak nyaman membicarakan masalah pribadi karena takut dianggap merepotkan atau tidak ingin membuat orang lain kecewa.

Bunda, pola asuh yang hangat dan suportif dapat membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri. Jadi, yuk, biasakan mendengarkan perasaan anak, menghargai pendapatnya, dan memberikan ruang untuk belajar dari kesalahan tanpa rasa takut.

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ayah Terlihat Cuek? Ini Dampaknya ke Mental dan Kepribadian Anak

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Suami Memukul Istri, Apa yang Harus Dilakukan?

Mom's Life Aiman Subaidi & Tiara Jasmine

Cara Mengenali Orang EQ Tinggi dari Cara Berbicara Menurut Peneliti Harvard

Mom's Life Dilla Atqia Rahmah

Cara Mengenali Anak yang Merasa Aman dan Dicintai Orang Tuanya Menurut Psikolog

Parenting Annisa Karnesyia

Cara Mengenali Anak yang Dibesarkan Orang Tua Otoriter dari Ucapan Sehari-hari

Parenting Azhar Hanifah

11 Buket Bunga Paling Laku Menurut Florist, Pilihan Favorit untuk Berbagai Momen

Mom's Life Arina Yulistara

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Cara Mengenali Anak yang Dibesarkan Orang Tua Otoriter dari Ucapan Sehari-hari

Suami Memukul Istri, Apa yang Harus Dilakukan?

Cara Mengenali Orang EQ Tinggi dari Cara Berbicara Menurut Peneliti Harvard

Cara Mengenali Anak yang Merasa Aman dan Dicintai Orang Tuanya Menurut Psikolog

11 Buket Bunga Paling Laku Menurut Florist, Pilihan Favorit untuk Berbagai Momen

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK