psikologi

Sedih Ya, Anak Diejek Temannya Gara-gara Nggak Punya Handphone

Nurvita Indarini 26 Des 2017
Sedih Ya, Anak Diejek Temannya Gara-gara Nggak Punya Handphone/ Foto: thinkstock Sedih Ya, Anak Diejek Temannya Gara-gara Nggak Punya Handphone/ Foto: thinkstock
Jakarta - Anak saya yang umurnya tiga tahun suatu kali pulang ke rumah dan pinjam handphone saya. Kata dia, teman-teman mainnya pada main handphone, sehingga dia disuruh temannya pinjam handphone saya.

Tentu saja saya nggak memberikan handphone padanya. Lalu dia kembali lagi ke teman-temannya, tapi nggak lama pulang ke rumah sambil menangis. Kata anak saya, teman-temannya nggak mau main sama dia karena nggak punya handphone.

Ternyata hal ini nggak cuma saya yang mengalami. Praktisi dan pengamat media sosial, Ainun Chomsun, juga punya pengalaman serupa. Ainun bercerita suatu kali anaknya yang masih duduk di sekolah dasar pulang ke rumah dan mengadu kalau di antara teman-temannya, dirinya yang paling kuper.

"Saya bilang ke dia tiap keluarga punya aturan masing-masing. Saya sedih sih anak saya dihina-hina. Tapi sebenarnya soal seperti ini lebih berat ke ibunya. Soalnya begitu anak dialihin, sudah lupa. Sementara ibunya masih nangis-nangis di kamar kok anak kita digituin sih," tutur Ainun dalam seminar dan talkshow yang digelar komunitas Mombassador dan SGM Eksplor beberapa waktu lalu.

Dalam situasi seperti ini rasanya tergoda banget untuk membelikan anak handphone, meskipun umurnya masih kecil. Dalam kasus saya, meskipun anak saya masih balita, nggak rela juga anak diejek-ejek. Kita nggak beliin anak handphone juga bukan karena nggak mampu sih. Tapi jangan sampai kita mengambil keputusan di saat marah dan di saat tertekan ya, Bun.



"Tapi saya bersyukur tidak memberikan handphone saat anak saya masih kecil. Dalam banyak kasus kalau sejak kecil anak diberikan apa yang diinginkan, maka anak akan meningkatkan tuntutannya. Kalau kita mampu memberikan mungkin nggak masalah, tapi kalau nggak bisa gimana," sambung Ainun.

Lalu apa yang dilakukan Ainun? Dia memilih mencarikan teman untuk anaknya, yakni anak yang juga nggak diberikan handphone oleh orang tuanya, sehingga obrolan mereka pun lebih nyambung.

"Alhamdulilah anak saya jauh lebih terkontrol kalau urusan gadget, lebih tebal mental. Oh iya, waktu anak saya pulang sambil nangis itu saya peluk dia, saya kasih tahu dia kalau ibu juga sedih. Tapi kita punya aturan sendiri," lanjut Ainun.

Dalam kesempatan yang sama, psikolog Anna Surti Ariani menuturkan saat anak beda sendiri memang rentan banget bullying. Nah, saran dari Nina, panggilan akrabnya, kita bisa coba kerjasama dengan tetangga untuk nggak gampang memberikan handphone ke anak.



Kalau langkah itu sulit dilakukan, kita yang harus menguatkan percaya diri anak. "Kamu memang nggak punya handphone. Tapi kamu hebat, punya banyak ide, pinter banget bisa ngajak kenalan anak lain," ucap Nina.

Bukannya nggak boleh memberikan handphone pada anak, tapi kita perlu tanamkan ke anak bahwa handphone bukan mainan. Kita juga harus ingat bahwa saat kita memberikan handphone untuk anak, ibaratnya kita sudah memberikan setengah dunia kepada anak. Di handphone yang terkoneksi dengan internet ada bisnis triliunan rupiah. Ada juga berbagai informasi yang nggak semuanya pas dan cocok buat anak. Kelak, kalau kita sudah merasa anak siap menggunakan handphone, jangan sampai kita lepas tangan juga ya, Bun. Pengawasan masih perlu kita berikan agar anak nggak mendapat masalah. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi