kehamilan

Kalau Kita Stres Saat Hamil, Risiko pada Janin Nggak Main-main

Melly Febrida Rabu, 29 Nov 2017 14:02 WIB
Kalau Kita Stres Saat Hamil, Risiko pada Janin Nggak Main-main
Jakarta - Kalau Bunda sedang hamil, ingatkan suami untuk membantu kita agar selalu happy ya, Bun. Lalu kalau ada masalah, jangan dipendam, baiknya segera diselesaikan biar nggak bikin stres. Soalnya stres pada ibu hamil bisa berpengaruh ke janin, lho.

Nih, Bun, ternyata stres yang dialami ibu hamil di trimester kedua bisa 'menular' ke janin. Nah, dampaknya kelak anak jadi gampang stres dan kurang tangguh.

Ini adalah temuan tim peneliti di University of California, San Francisco. Mereka menilai 151 bunda dan bayinya. 151 Ibu itu berpenghasilan menengah ke bawah yang usia kehamilannya antara 12 hingga 24 minggu.


Peneliti memantau setiap ibu hamil sejak trimester pertama, kedua, dan ketiga. Setelah ibu tersebut melahirkan, bayinya juga dipantau selama enam bulan. Saat itu, jantung bayi dicek untuk mengukur reaksi stres.

Apa saja yang dipantau? Peneliti mengukur tingkat stres pada ibu yang sedang hamil dengan mengisi kuesioner, Bun. Selain itu, peneliti juga mendokumentasikan kejadian yang bikin stres seperti sakit, masalah rumah, masalah hukum, masalah keluarga, atau masalah dengan suami.

Hasilnya, 22 ibu yang paling stres di dalam hidupnya memiliki anak yang jauh lebih reaktif. Berbeda dengan bayi dari 22 ibu yang memiliki tingkat stres rendah. Hmm...

Stres ini juga mempengaruhi kinerja jantung anak-anak. Nggak cuma itu, anak-anak ini juga berisiko depresi serta mengalami masalah perilaku yang lebih tinggi di kemudian hari daripada teman sebayanya. Apalagi jika anak berada di lingkungan keluarga dan sekolah yang buruk.

"Menjadi sangat reaktif pada stres menempatkan anak-anak pada risiko terhadap berbagai masalah psikopatologis," tulis salah seorang peneliti, Dr Nicole Bush, dari Departemen Psikiatri dan Pediatrik universitas tersebut.

Untuk memastikan apakah stres selama kehamilan bisa memiliki efek ke bayi, Bush dan timnya melihat tingkat stres dari 151 wanita berpenghasilan menengah ke bawah yang usia kehamilannya antara 12 dan 24 minggu.

Bush mengingatkan reaktivitas yang meningkat ini bisa menyebabkan tekanan yang signifikan pada jantung. Hal ini tentu bisa berdampak pada perilaku dan kesehatan anak seumur hidupnya.

Tapi, Bun, terlepas dari dampak yang didapat selama di kandungan, lingkungan juga berpengaruh banget nih. Apalagi lingkungan di bulan-bulan awal kehidupan anak. "Di lingkungan yang tenang, anak-anak tidak terlalu sering stres," sambung Bush.

Bagusnya lagi nih, Bun, kalau anak berada di lingkungan yang tenang, mereka lebih mungkin menunjukkan kemampuan sosial yang lebih baik. "Menyediakan lingkungan yang sehat setelah kelahiran dapat menyangga dampak negatif dari reaktivitas yang tinggi," ucap Bush seperti dipublikasikan di jurnal Development and Psychopathology.

Bumil Stres, Anak Rentan ADHD

Penelitian yang mengaitkan stres pada ibu hamil dengan dampak yang dihadapi anak dalam kandungan ternyata cukup banyak. Misalnya pernah diungkap oleh Pearl La Marca-Ghaemmaghami, seorang peneliti dari Universitas Zurich.

"Kami mengetahui dari studi epidemiologi sebelumnya ada hubungan antara wanita yang telah melaporkan tingkat stres yang tinggi pada saat masa kehamilan dan kemudian anaknya mengalami perkembangan dengan kondisi seperti ADHD dan kardiovaskular," kata Marca-Ghaemmaghami.

ADHD atau Attention Deficit/Hyperactivity Disorder merupakan gangguan pada perkembangan otak sehingga membuat yang bersangkutan menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian. Nah, faktor yang menyebabkan ADHD ditengarai genetik serta keadaan saat hamil.

Penelitian lainnya, Bun, mengungkap stres pada ibu hamil berpengaruh pada plasentanya. Jadi plasenta ikut merasakan tekanan besar apabila si ibu mengalami stres dalam jangka waktu lama. Kalau kita stres, tubuh akan melepaskan hormon untuk mengatasinya seperti Corticotropin-Releasing Hormone (CRH), yang berakibat pada peningkatan hormon stres. Akibatnya, sejumlah kecil hormon ini dapat masuk ke dalam cairan ketuban dan berdampak pada pekembangan bayi.

Susan Andrews, PhD, ahli neuropsikologi klinis dan penulis buku "Stres Solutions for Pregnant Moms: How Breaking Free From Stress Can Boost Your Baby's Potential" juga mengatakan demikian Bun. Stres yang benar-benar berbahaya itu stres yang tidak hilang atau terjadi secara konstan. Demikian seperti dikutip dari WebMD.

Untuk mengatasinya, Susan menyarankan melakukan beberapa cara. Misalnya saja bicara ke dokter tentang penyebab stres, kemudian mencari solusinya. Bisa juga dengan meditasi, yoga prenatal, atau terapi bicara.

Bunda juga bisa menyanyikan satu dua buah lagu, karena musik bisa mengendalikan kadar kortisol. Cobalah bersantai, mandi air hangat, dan minum secangkir teh untuk membantu meredakan stres. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi