kehamilan

Mengingat Lagi Perjuangan Istri Ustaz Solmed Saat Menanti Buah Hati

Ratih Wulan Pinandu Selasa, 29 Jan 2019 15:14 WIB
Mengingat Lagi Perjuangan Istri Ustaz Solmed Saat Menanti Buah Hati
Jakarta - Masih teringat jelas di benak kita, cerita April Jasmine dan Ustaz Solmed saat berjuang memperoleh keturunan, tujuh tahun lalu. Kala itu, April berderai air mata menceritakan masalah rahim yang dihadapinya.

Ya, pada tahun 2012 silam, April harus menghadapi kenyataan pahit mendengar vonis dokter. Setahun menikah, namun tak kunjung memiliki buah hati, membuatnya ketar-ketir. Masih membekas diingatan April, saat dokter menyatakan dia kesulitan memiliki anak. Hingga akhirnya diputuskan jika April Jasmine harus menjalani proses operasi pengangkatan salah satu saluran rahim, akibat pembengkakan kedua tubafalopi miliknya.

"Ustaz itu anak satu-satunya, otomatis kalau mertua mau punya cucu ya cuma dari April ini. Konsultasi ke dokter sama sekali nggak nyangka kalau hasil konsultasi dokter menyatakan dua tubafalopi saya mengalami pembengkakan. Satu di tengah dan sudah agak parah dan satunya di ujung."


Dunia terasa runtuh hari itu. Sebagai perempuan tentu hatinya terluka, membayangkan tak akan bisa memberi keturunan pada suami tercinta. Badan terasa lemas, mulut pun kelu. Hanya air mata yang mampu mewakili perasaan hatinya saat itu.


Bisa dipahami ya, Bun, perempuan mana yang tak sedih saat berurusan dengan masalah anak. Hingga membuatnya lemas dan merasa tak bersemangat menjalani hidupnya ke depan.

"Saya rasanya saat itu kayak ada di ujung tebing banget, kalau mau didorong ya sudah selesai deh. Sedih banget. Sampai Ustaz bilang 'Memang aku maksa kamu punya anak, enggak. Emang orang tua aku maksa kamu punya anak? Enggak. Lalu apa yang membuat kamu nggak semangat menjalani hidup'. Sampai Ustaz bilang kalau kamu tiap hari nangis, saya juga ikut sedih dan nggak konsen," kenang April menirukan ucapan sang suami.

Dukungan dari suami, membuat April kembali mengumpulkan semangat hidupnya. Demi melupakan masalah itu, April mencoba untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Mulai dari membuka butik hingga mencoba membagikan tutorial hijab.

Namun, hati kecilnya tetap risau memikirkan masa depan keluarganya. Di dalam hati, tetap ada keinginan kuat untuk bisa memberikan buah hati untuk suami tercinta.

Ikhtiar April Jasmine dan Ustaz Solmed Menanti Buah HatiApril Jasmine menjalani operasi pengangkatan saluran rahim/ Foto: Palevi S/detikHOT

"Tetap periksa rutin ke dokter, cari solusinya. Hasil dari dokter harus laparoskopi jadi operasi untuk melihat di dalam gimana, kalau memang membahayakan rahim aku, tubafalopi itu diangkat aja. Operasi sudah selesai dilakukan, dokter bilang cuma ada waktu enam bulan untuk hamil. Kalau nggak, nanti laparoskopi lagi. Kalau diangkat dua-duanya itu ibarat sudah steril dan aku nggak bisa hamil secara natural," ungkap April lirih sambil menahan tangis.

Setelah kejadian itu, hidup dijalani dengan begitu berbeda oleh April dan suami. Setiap hari, rasanya harap-harap cemas menanti keajaiban datang menghampiri mereka. Bahkan, waktu rasanya berjalan dengan sangat cepat. Hari terus berlalu, menginjak bulan ketiga tak juga ada tanda-tanda kehamian yang dirasakan April. Hingga akhirnya, April kembali menemui dokter kandungan untuk mencoba ikhtiar lainnya.

Tanpa berpikir dua kali, perempuan 33 tahun itu menerima tawaran untuk suntik hormon. Berbeda dengan wanita kebanyakan, April tak lagi menghiraukan dampak ke depannya. Saat itu, yang terpikirkan olehnya hanyalah demi anak semata.

"Oke, vitamin sudah, segala macam sudah, kita tambah suntikan hormon. Tapi Alhamdulillah akhirnya di bulan kelima saya waktu itu hamil si Sulthan. Rasanya bahagia banget Allah mengabulkan doa saya dan suami."

"Kita cek urine dan cek darah, lalu dikabarin sama suster di SMS, Alhamdulillah dikasih tau kalau hasilnya positif. Saya bengong, saya nggak bisa ngomong sampai Ustaz lihat saya dikira kenapa-napa, dia takut banget. Sampai dia lihat sendiri langsung sujud syukur," lanjutnya seraya tersenyum.

Kebahagian langsung dirasakan keluarga besar mereka. Bahkan membuat April merasa ingin dimanja sepanjang waktu oleh suaminya. Satu hal yang paling diingat olehnya, ketika ngambek lantaran Ustaz Solmed tak kunjung pulang dari berdakwah. April sampai menolak makan, jika sang suami tak nampak dihadapannya. Berkali orang merayu, namun semakin tertutup rapat hatinya. Perhatian dan dukungan suami dari jauh, tak lagi bisa mengobati kerinduan pada Ustaz Solmed.

"Sulthan itu drama banget, karena anak pertama manja banget pingin ditemani suami. Sampai Ustaz harus pulang dulu. Ndilalah kaya dikasih message pas habis makan muncul flek. Sampai deg di hati itu rasanya egghhh Ya Allah apa keguguran. Sampai harus dibawa ke RS. Jadi ini nih kaya 'Jangan nakal-nakal ibu hamil, mintanya aneh-aneh'. Aku ketakutan ini kenapa-napa Ya Allah jangan diangkat lagi, saya kapok saya nggak mau aneh-aneh takut anak ini nanti nggak ada. Saya mau jalani ini dengan tenang sampai 9 bulan," ujarnya sambil menahan kesedihan.

Setiap ibu hamil mengalami kondisi psikologis yang berbeda-beda. Seperti cerita April Jasmine, yang tiba-tiba berubah sangat manja pada suaminya. Sebagai suami, Ustaz Solmed sudah berusaha memberikan dukungan yang terbaik untuknya. Hal itu memang sangat dianjurkan, karena dukungan suami dapat meningkatkan hormon oksitosin pada ibu hamil. Sehingga membuat mood mereka lebih stabil menjalani kehamilan, yang kadang-kadang berat pada sebagian orang.

Psikolog klinis dewasa Pustika Rucita memberi beberapa saran agar suami paham menghadapi perubahaan mood istri saat hamil. Salah satunya dengan mengamati perubahaan suasana hatinya dan meyesuaikan dengan karakternya.

"Kalau udah lama menikah harusnya sih bisa mengenali karakter pasangan, apa yang biasa dilakukan. Coba lebih kenali hal yang disukai pasangan sehingga membuat istri lebih rileks, misal suka nonton, nah suka nonton apa dan sebagainya," terang Pustika.

Namun, yang terpenting adalah memberikan dukungan langsung dan hadir di sisinya saat dibutuhkan. Sehingga istri merasa disayangi selama menjalani kehamilan.


"Sediakan mata, telinga dan pikiran untuk istri dan tunjukkan pula secara verbal misal, 'Ehm gitu..iya aku ngerti'. Istri itu kadang sadar lho kalau suami pikirannya ke mana-mana," tuturnya mengakhiri.

[Gambas:Video 20detik]

(rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi