HaiBunda

KEHAMILAN

Ibu Hamil Muda Kena Sifilis, Apa Risiko dan Bagaimana Penanganannya?

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Kamis, 13 Feb 2020 07:02 WIB
Ibu Hamil Muda Kena Sifilis, Apa Risiko dan Bagaimana Penanganannya?/ Foto: iStock
Jakarta - Perlu Bunda tahu, sifilis merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini bisa dibilang silent disease, karena bekerja dengan diam. Sifilis bisa menyebabkan kerusakan serius pada otak, sistem saraf serta jantung.

Pengidap pun seringkali tidak sadar mengalami sakit sifilis. Gejala awal, stadium primernya timbul luka pada kemaluannya namun tidak terasa sakit. Gejala ini bisa hilang 3 - 6 minggu dan setelahnya, pengidap akan masuk ke stadium sekunder sifilis, laten, hingga akhirnya tersier.


Penularan paling cepat penyakit ini adalah genital to genital atau Bunda bisa dapatkan penyakit ini lewat hubungan seksual dan bila sang suami memiliki sakit sifilis.


Kabar buruknya, sifilis juga bisa ditularkan dari ibu hamil ke janinnya. Menurut Dr.dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid, Spesialis Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), janin bisa terinfeksi sifilis ketika usia 12 minggu.

"Sebelum 12 minggu, bakteri belum bisa masuk lewat plasenta, karena kan baru terbentuk," ujarnya kepada HaiBunda.

Apa akibatnya jika ibu hamil muda tidak sadar mengidap sifilis? Badan kesehatan dunia (WHO), menyatakan sifilis dalam kehamilan adalah penyebab kedua terbanyak adanya stillbirth, prematuritas, berat lahir rendah kematian neonatal, dan infeksi pada bayi baru lahir.

Wresti bilang, jika ibu hamil ternyata terdeteksi kena penyakit sifilis. Satu-satunya jalan adalah diberi pengobatan, diberi suntikan Benzanthine penisilin G. Suntikan tersebut diinjeksi pada bagian intramuscular (pantat) sebanyak tiga kali. Apakah membahayakan janin?

"Suntikan tersebut sama sekali tak membahayakan janin, justru bagus untuk mengobati janin juga," kata Wresti.

Di kesempatan yang sama, dr.Anthony Handoko, SpKK, FINDSV menyarankan pengobatan sifilis harus disegerakan untuk ibu hamil. Bila sudah melahirkan, bayi langsung diberi pengobatan dan diberi dosis yang sesuai.

"Begitu lahir harus diobati, dicek semuanya VDRL dan RPR (nontreponemal test)," kata Anthony Handoko saat ditemui usai acara Seminar Media Sifilis, silent disease, si perusak organ, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (12/2/2020).

Setelahnya, ibu hamil muda sama seperti pengidap sifilisnya, perlu screening selama 24 bulan hingga hasil tesnya negatif.

Untuk itu, Anthony menyarankan pasangan muda, wanita sebelum hamil memeriksa atau tes HIV, sifilis, dan penyakit lainnya. "Harusnya guidelines seperti itu supaya terhindar dari sifilis," sambung Anthony.


Simak juga penjelasan dr.Reisa terkait mitos ciri hamil anak perempuan melalui video berikut:



(aci/som)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

10 Cara Menanam Cabe Rawit Agar Berbuah Lebat dan Tahan Lama

Mom's Life Arina Yulistara

Tips Agar Perangkat Listrik di Rumah Enggak Cepat Rusak saat Lampu Padam

Mom's Life Tim HaiBunda

Saat Kakak Gabut Rumah jadi KusYut

Komik Bunda Tim HaiBunda

9 Pasangan Artis Drama Korea, Ada Yoon Seung Ah dan Kim Mu Yeol

Mom's Life Amira Salsabila

Cari Koper untuk Liburan Bareng Keluarga? Cek Promo Transmart Full Day Sale

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

6 Nama Anak Artis Indonesia Berawalan Z dan Artinya, Bagus Penuh Makna

Ayah Penyekap Perempuan Bandung Akui Manjakan Taufik Hidayat karena Dianggap Lebih Ganteng dari Saudaranya

Saat Kakak Gabut Rumah jadi KusYut

Do and Don'ts Prenatal Yoga, Kunci Olahraga Aman Selama Kehamilan

Tips Agar Perangkat Listrik di Rumah Enggak Cepat Rusak saat Lampu Padam

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK