Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Cerita Bunda Alami Stroke dan Pendarahan Otak Usai Melahirkan, Ini Gejala yang Dialami

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Selasa, 06 Jan 2026 21:30 WIB

Ilustrasi Rumah Sakit
Ilustrasi Sakit Stroke/ Foto: Getty Images/iStockphoto/gorodenkoff
Daftar Isi
Jakarta -

Kelahiran seorang anak menjadi sumber kebahagiaan yang tak ternilai. Tetapi, hal itu terkadang tidak selalu berjalan tanpa risiko, Bunda.

Kebahagiaan menyambut kelahiran anak harus berubah menjadi ujian berat bagi Bunda bernama Erin Adelekun. Ia didiagnosis stroke usai melahirkan anak pertamanya pada Agustus 2020.

Dua hari setelah Adelekun melahirkan anak pertamanya, ia merasakan sakit kepala ringan saat pulang dari rumah sakit. Dokter saat tidak tidak khawatir dan menyarankannya minum obat pereda nyeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun sekitar seminggu kemudian, Adelekun bangun dengan sakit kepala hebat yang pernah ia rasakan. Ketika suaminya memanggilnya untuk mengatakan sarapan sudah siap di pagi itu, Adelekun mengira ia akan menjawab suaminya dengan kalimat, 'Saya segera turun'. Namun, ia hanya mendengar ucapan yang tidak jelas. Setelah itu, Adelekun mengalami kelemahan di lengan kanannya.

"Ketika saya turun ke bawah, lengan kanan lemas dan saya tahu saya mengalami stroke," katanya, dilansir Today.

Saat sang suami membawanya ke rumah sakit terdekat, kaki kanan Adelekun juga sudah lemas. Hal terakhir yang diingat adalah tubuhnya bergetar di meja MRI karena kejang. Ia lalu berada dalam koma yang diinduksi secara medis selama tiga minggu berikutnya.

Menjalani tindakan operasi

Menurut ahli bedah saraf di MedStar Washington Hospital Center, Dr. Jeffrey Mai, Adelekun mengalami stroke hemoragik yang sangat hebat. Pembuluh darah Bunda satu anak itu pecah, sehingga menyebabkan pendarahan di kedua sisi otaknya.

Kondisi tersebut juga menimbulkan pembengkakan otak sehingga dokter harus mengangkat sebagian tengkorak Adelekun untuk memberi ruang bagi otak untuk mengembang, dan mengurangi tekanan serta membantunya stabil. Dalam prosedur ini, tulang tengkorak kemudian dipasang kembali selama tindakan lanjutan.

Operasi berjalan lancar. Namun, ketika Adelekun bangun dari koma, seluruh sisi kanannya lumpuh.

"Saya tidak bisa berjalan. Saya tidak bisa berbicara. Saya hanya mengeluarkan suara. Saya menunjuk gambar untuk berkomunikasi. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada saya," ungkapnya.

Pada saat terkena stroke, Adelekun juga dinyatakan terinfeksi COVID-19. Selama tiga bulan, ia pun menghabiskan waktu sendiri di kamar untuk memulihkan diri dari stroke. Ia hanya bisa melihat suami dan anak pertamanya melalui panggilan video.

"Saya punya waktu untuk menangis. Tapi kemudian saya berpikir, baiklah, sekarang mari kita mulai bekerja. Saya ingin melihat putri saya dan merasakan pengalaman menjadi seorang ibu. Itulah yang membuat saya terus bertahan," ujarnya.

Jalani terapi hingga kembali mandiri

Adelekun lalu menjalani terapi fisik dan terapi bicara yang berlanjut hingga saat ini. Stroke yang dialaminya menyebabkan afasia, yakni kerusakan pada bagian otak yang bertanggung jawab atas bahasa. Hal itu sangat menghancurkannya, terlebih ia dikenal sebagai orang yang pandai berbicara dan terbiasa bicara sebagai manajer proyek.

"Itu adalah hal yang paling menjengkelkan, tidak dapat menemukan kata-kata meski saya tahu kata-kata itu. Saya berpendidikan, dan saya tidak bisa merangkai dua kalimat pun. Saya hanya merasa malu. Saya sama sekali tidak ingin berbicara," kata Adelekun.

Pada akhirnya, Adelekun memutuskan untuk tak menyerah. Kini, ia sudah pulih. Ia sudah bisa bicara, berjalan dengan tongkat, dan mengendarai mobil yang dimodifikasi.

"Saya kembali ke kondisi sebelum stroke. Memang berbeda, tetapi berbeda tidak selalu berarti buruk. Itu hanya berarti berbeda. Saya menjalani kehidupan yang berlimpah bersama keluarga saya," katanya.

Adelekun baru berusia 38 tahun ketika stroke itu terjadi pada Agustus 2020. Dunianya tidak akan pernah sama lagi. Namun, ia berusaha bangkit dan meningkatkan kesadaran tentang stroke setelah melahirkan.

"Erin sungguh luar biasa. Dia tidak menyerah pada apa pun. Semangat dan sikapnya membuat perbedaan besar dalam pemulihannya," kata spesialis cedera otak dan stroke di MedStar National Rehabilitation Hospital di Washington, Dr. Emma Nally.

Risiko stroke pada ibu hamil

Stroke selama dan setelah kehamilan sangat jarang terjadi. Nally mengatakan bahwa dokter tidak tahu persis penyebab pendarahan otak yang dialami Adelekun.

Menurutnya, Adelekun tidak memiliki tekanan darah tinggi. Bunda satu anak itu juga mengidap jenis stroke cukup jarang terjadi, yakni disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah, bukan gumpalan yang menyumbat pembuluh darah.

Namun ada beberapa hal yang perlu Bunda ketahui. Darah pada ibu hamil lebih mungkin menggumpal. Hal itu merupakan mekanisme perlindungan untuk menurunkan risiko kehilangan darah yang besar selama persalinan. Di sisi lain, gumpalan darah tersebut dapat berpindah ke otak sehingga bisa menyumbat arteri dan menyebabkan stroke.

"Preeklampsia, komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peradangan dan tekanan darah tinggi, merupakan faktor risiko stroke karena memberi tekanan pada pembuluh darah kecil di otak," ungkap Nally.

"Operasi caesar juga dapat meningkatkan risiko stroke, karena ini adalah operasi perut besar yang dapat disertai rasa sakit dan banyak waktu pemulihan setelahnya, menyebabkan darah mengumpul dan menggumpal dalam beberapa kasus."

Ada beberapa gejala stroke saat hamil dan setelah melahirkan yang perlu diwaspadai oleh para Bunda, yakni:

  • Hilangnya keseimbangan
  • Penglihatan kabur
  • Mati rasa di satu sisi wajah
  • Kelemahan di salah satu lengan
  • Bicara tidak jelas atau cadel

Segera periksa ke dokter bila mengalami gejala di atas secara tiba-tiba, baik saat hamil atau setelah melahirkan.

Demikian kisah Bunda yang alami stroke setelah melahirkan, serta gejala stroke yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda