Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Tak Selalu Berhasil, Jennifer Aniston Jadi Potret Nyata Perjuangan Promil IVF

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Minggu, 08 Feb 2026 16:30 WIB

Jennifer Aniston
Tak Selalu Berhasil, Jennifer Aniston Jadi Potret Nyata Perjuangan Promil IVF/Foto: Instagram@jenniferaniston
Daftar Isi
Jakarta -

Tidak semua perempuan yang belum memiliki anak karena tidak ingin. Sebagian sedang berjuang, sebagian lainnya pernah berharap sangat besar, namun harus menerima hasil yang berbeda. Jennifer Aniston adalah salah satunya.  

Di balik senyum ikonik dan karier gemilangnya di Hollywood, Jennifer Aniston ternyata masih melekat dengan stigma child-free padanya selama bertahun-tahun. Aktris Friends ini menyimpan kisah panjang tentang kegagalan promil dan IVF. Pengakuannya mengungkap fakta penting: Teknologi reproduksi tidak selalu menjamin keberhasilan, bahkan bagi mereka yang memiliki akses terbaik sekalipun.

Lewat berbagai wawancara terbuka yang dikutip dari Healthdiggest, Jennifer Aniston akhirnya mengungkap bahwa ia telah menjalani program hamil (promil), termasuk IVF, selama bertahun-tahun, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Kisahnya pun menjadi potret nyata bahwa IVF bukan jaminan keberhasilan, bahkan bagi mereka yang memiliki akses medis terbaik.

Perjuangan panjang yang tak banyak diketahui publik

Jennifer Aniston mengungkap bahwa ia telah mencoba berbagai cara untuk hamil selama hampir dua dekade. Ia menjalani in vitro fertilization (IVF) berulang kali, mencoba terapi medis, hingga pendekatan alternatif. Sayangnya, semua usaha itu belum membuahkan hasil.

Dalam salah satu wawancaranya, Aniston menyebut bahwa ia sudah memberikan segalanya dalam proses tersebut secara fisik, emosional, dan mental. Namun tubuhnya tetap tidak merespons seperti yang diharapkan.

Pengakuan ini mematahkan banyak asumsi publik yang selama ini menilai bahwa ia memilih untuk tidak punya anak demi karier.

Apa itu IVF dan mengapa tidak selalu berhasil?

IVF adalah prosedur medis sel telur dibuahi oleh sperma di luar tubuh, lalu embrio dipindahkan ke rahim. Serangkaian prosedur ini dianggap sebagai cara paling efektif untuk membantu kesuburan, dan meskipun telah berhasil bagi banyak orang, perawatan ini bukannya tanpa kekurangan. Meski terdengar menjanjikan, tingkat keberhasilan IVF tidak mencapai 100 persen.

Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), tingkat keberhasilan IVF sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Usia perempuan (faktor paling krusial)
  • Kualitas sel telur dan sperma
  • Kondisi rahim
  • Riwayat kesehatan reproduksi

Pada perempuan di atas usia 40 tahun, peluang keberhasilan IVF bisa turun hingga di bawah 10–15 persen per siklus. Menurut The IVF Center, putaran pertama IVF menunjukkan tingkat keberhasilan 55 persen pada kandidat yang paling layak untuk perawatan tersebut. Jumlah keberhasilan dalam perawatan putaran pertama untuk perempuan di atas usia 35 tahun mengalami penurunan yang signifikan.

Meskipun Jennifer berada dalam kelompok usia yang paling sukses untuk IVF, Aniston masih mengalami komplikasi dengan perawatan kesuburan tersebut. Hal inilah yang secara tidak langsung disinggung Aniston saat ia mengatakan bahwa ia berharap ada yang memberitahunya untuk membekukan sel telur di usia lebih muda.

"Pada dasarnya dibutuhkan sekitar enam minggu sejak awal siklus menstruasi untuk mengetahui berapa banyak embrio yang secara genetik normal yang dimiliki pasien," kata Dr. Shahin Ghadir dikutip dari CCRM Fertility. 

"Bulan berikutnya, dibutuhkan sekitar empat hingga enam minggu untuk mempersiapkan lapisan rahim sebelum embrio dapat dimasukkan ke dalam rahim dan 10 hari kemudian kita tahu apakah pasien hamil atau tidak," sambungnya.

IVF bukanlah proses yang mudah. Tanpa jaminan 100 persen keberhasilan, IVF bisa menakutkan untuk dilakukan.

Tekanan sosial yang tak kalah menyakitkan

Selain menghadapi kegagalan medis, Jennifer Aniston juga harus berhadapan dengan tekanan sosial dan stigma publik. Selama bertahun-tahun, ia menjadi sasaran tabloid yang berspekulasi tentang kehamilan, menyebutnya egois, atau menuduhnya menolak peran sebagai ibu. Padahal, di balik itu semua, ia tengah berjuang dalam diam.

Hal ini mencerminkan realitas yang juga dialami banyak perempuan, infertilitas sering kali tidak terlihat, tapi dampaknya sangat nyata mulai dari rasa bersalah, kesedihan mendalam, hingga kelelahan emosional.

Keputusan Jennifer Aniston untuk berbicara terbuka bukan tanpa alasan. Ia ingin mematahkan mitos bahwa nilai seorang perempuan ditentukan oleh kemampuannya melahirkan anak.

Kisah Jennifer Aniston mengajarkan bahwa kegagalan IVF bukan berarti kegagalan sebagai perempuan. Setiap perjalanan promil adalah personal, kompleks, dan layak dihormati apa pun hasil akhirnya. Ia membuktikan bahwa tidak semua cerita harus berakhir dengan kehamilan untuk tetap menjadi kisah yang kuat dan bermakna.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda