HaiBunda

KEHAMILAN

Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome, Komplikasi Langka pada Kehamilan Kembar Identik

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 19 Mar 2026 07:10 WIB
Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome, Komplikasi Langka pada Kehamilan Kembar Identik/Foto: Getty Images/iStock/EvgeniyShkolenko

Pernah mendengar istilah twin to twin transfusion syndrome (TTTS) ? Ini merupakan komplikasi langka yang bisa terjadi pada kehamilan kembar identik. Yuk ketahui apa itu  twin transfusion syndrome, gejalanya, penyebab, cara mencegah, dan bagaimana dokter biasanya menanganinya.

Kehamilan kembar sering disebut-sebut memiliki tantangan yang double juga. Kondisi TTTS yang tidak diobati dapat meningkatkan angka kematian hingga mencapai 80-100 persen pada kasus yang parah. 

Apa itu twin to twin transfusion syndrome (TTTS)?

Twin to twin transfusion syndrome (TTTS) adalah kondisi langka dalam kandungan yang hanya terjadi pada kembar monokorionik (kembar identik yang berbagi plasenta yang sama).


Pada kehamilan kembar ini janin berbagi satu plasenta (ari-ari) dan jaringan pembuluh darah yang memasok oksigen, serta nutrisi penting untuk perkembangan di dalam rahim. Kehamilan ini dikenal sebagai monokorionik.

TTTS terjadi pada 10 hingga 15 persen kehamilan kembar monokorionik, terdapat ketidakseimbangan aliran darah akibat hubungan pembuluh plasenta. 

Melansir Hopkinsmedicine, koneksi pembuluh darah di dalam plasenta terkadang tidak terdistribusi secara merata dan terjadilah ketidakseimbangan dalam pertukaran darah antara kembar.

Satu kembar yang menjadi kembar donor akan memberikan lebih banyak darah daripada yang diterimanya sebagai imbalan dan berisiko mengalami kekurangan gizi dan kegagalan organ.

Pada kembar donor, tidak memiliki cairan amnion sama sekali atau tidak cukup. Cairan amnion sangat penting untuk perkembangan bayi.

Sedangkan, kembar penerima menerima terlalu banyak darah dan rentan terhadap kerja jantung yang berlebihan dan komplikasi jantung lainnya. Selain itu, darah berlebih menyebabkan ginjal penerima menghasilkan lebih banyak urine, yang menciptakan kandung kemih yang besar.

Hal ini dapat menyebabkan terlalu banyak cairan amnion (polihidramnios), gagal jantung prenatal, atau pembengkakan berlebihan (hidrops). 

Kedua kondisi janin ini menunjukkan bahwa terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menyebabkan komplikasi kehamilan yang serius.

Penyebab twin to twin transfusion syndrome (TTTS)

Mert Ozan Bahtiyar, MD, seorang dokter kandungan yang mengkhususkan diri dalam kehamilan berisiko tinggi dan merupakan direktur medis Pusat Perawatan Janin Yale Medicine, menjelaskan bahwa TTTS adalah kondisi progresif. Artinya akan memburuk jika tidak diobati dengan tepat. Biasanya berkembang antara minggu ke-16 dan ke-26 kehamilan dan dapat dengan mudah dideteksi dengan USG.

Bahtiyar berujar, TTTS ini bukan akibat kesalahan ibu hamil atau faktor genetik yang bisa dicegah. Tapi hasil interaksi kompleks antara plasenta dan janin. Risiko komplikasi akan meningkat dengan setiap bayi tambahan yang dikandung seorang ibu selama kehamilan.

"Kami tidak tahu mengapa, pada beberapa kehamilan, ini berkembang, tetapi tidak pada kehamilan lainnya," kata Dr. Bahtiyar dikutip dari laman Yale Medicine.

Gejala twin to twin transfusion syndrome (TTTS)

Gejala TTTS biasanya terdeteksi lewat ultrasonografi (USG). Gejala pada ibu hamil juga bisa bervariasi, tergantung dari tingkat keparahannya. Berikut beberapa gejala ini seperti dirangkum dari berbagai sumber:

  • Ukuran rahim yang tumbuh lebih cepat dari perkiraan usia kehamilan
  • Perbedaan signifikan antara volume cairan ketuban pada dua janin
  • Gerakan janin yang berbeda atau janin donor terlihat lebih kecil daripada janin penerima
  • Berat badan meningkat secara tiba-tiba
  • Nyeri perut, sesak, atau kontraksi
  • Pembengkakan di tangan dan kaki pada awal kehamilan

Karena itu, deteksi dini sangat penting karena TTS bisa berkembang cepat di trimester kedua kehamilan.

Cara mencegah twin to twin transfusion syndrome (TTTS)

Sampai saat ini, TTTS tidak bisa dicegah sepenuhnya karena penyebabnya terkait pembuluh darah plasenta. Deteksi dan pemantauan rutin menjadi benteng terbaik sebelum TTTS berkembang lebih parah. Dan Bunda dapat meminimalkan risiko komplikasi dengan :

  • Rutin USG untuk memantau pertumbuhan janin dan volume cairan ketuban
  • Memilih dokter spesialis kandungan yang berpengalaman menangani kehamilan kembar
  • Segera berkonsultasi jika mengalami gejala pertumbuhan rahim yang tidak normal atau gejala TTS lainnya

Cara mengatasi twin to twin transfusion syndrome (TTTS)

Jika dokter mendeteksi ibu hamil mengalami TTTS, dokter biasanya akan menyesuaikan penanganan sesuai tingkat keparahan:

  1. Amniosentesis, yakni dengan mengurangi cairan ketuban berlebih untuk menyeimbangkan tekanan rahim.
  2. Fetoscopic laser photocoagulation, dengan menutup pembuluh darah abnormal di plasenta untuk menghentikan aliran darah tak seimbang.
  3. Pemantauan intensif. Pada beberapa kasus ringan bisa dipantau ketat tanpa prosedur invasif.

Demikian Bunda, penjabaran twin transfusion syndrome (TTTS) yang merupakan komplikasi langka yang bisa terjadi pada kehamilan kembar identik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ibu Hamil Simpan Kolostrum Sebelum Bayi Lahir, Ini Kata Ahli

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

11 Ciri Perempuan yang Pernah Melewati Ujian Hidup Berat

Mom's Life Tim HaiBunda

Kenapa Internet di Bali Dimatikan Saat Nyepi? Ini Penjelasannya, Bun

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Fauzan Julian Kurnia

7 Kesalahan Bersih-bersih yang Sering Dilakukan & Justru Bikin Rumah Lebih Kotor

Mom's Life Amira Salsabila

Potret Inul Mudik ke Kampung Halaman di Sidoarjo, Bagi-bagi 1.500 Hampers

Mom's Life Amira Salsabila

Stretch Mark saat Hamil: Penyebab, Cara Mencegah & Cara Menghilangkannya

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

11 Ciri Perempuan yang Pernah Melewati Ujian Hidup Berat

Stretch Mark saat Hamil: Penyebab, Cara Mencegah & Cara Menghilangkannya

7 Kesalahan Bersih-bersih yang Sering Dilakukan & Justru Bikin Rumah Lebih Kotor

Kenapa Internet di Bali Dimatikan Saat Nyepi? Ini Penjelasannya, Bun

Potret Inul Mudik ke Kampung Halaman di Sidoarjo, Bagi-bagi 1.500 Hampers

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK