KEHAMILAN
Divonis Kritis sejak Lahir, Bayi Ini Berhasil Bertahan Berkat Perjuangan Sang Bunda
Melly Febrida | HaiBunda
Minggu, 24 May 2026 11:10 WIBKisah perjuangan seorang ibu yang melahirkan bayi di usia kehamilan 22 minggu sungguh menyentuh hati. Bayi itu divonis kritis sejak lahir, namun berhasil bertahan berkat perjuangan sang Bunda.
Dilansir dari People, Vivian Hernandez awalnya menjalani kehamilan normal tanpa masalah berarti. Namun, kondisinya berubah ketika selaput ketubannya pecah. Saat itu, dokter mengatakan peluang bayinya untuk bertahan hidup sangat kecil sekitar 3 persen.
Ketuban pecah di usia 18 minggu
Vivian Hernandez tak mengalami masalah selama tahap awal kehamilannya. Namun, selaput ketuban Hernandez pecah pada usia kehamilan 18 minggu. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai preterm premature rupture of membranes (PPROM). Pada kondisi ini ibu hamil mengalami pecah ketuban sebelum waktunya dan sebelum usia kehamilan cukup bulan.
"Mereka bilang, 'Dia hanya punya peluang 3 persen untuk bertahan hidup, atau bahkan peluang untuk sampai ke persalinan pun hanya 3%,' " kata Hernandez kepada 9 News.
Hernandez kemudian dipindahkan ke HCA Health One Presbyterian St. Luke's di Denver, dengan masa depan bayinya yang tidak pasti.
Di tengah kondisi yang serba tidak pasti, Hernandez memilih tetap mempertahankan kehamilannya. Ia menjalani hari-hari penuh kecemasan sambil berharap bayinya dapat bertahan hidup.
"Tapi keyakinan saya kepada Tuhan sangat besar dan saya, Anda tahu, saya benar-benar menyerahkannya kepada Tuhan dan saya berkata, 'Ini kehendak-Mu, bukan kehendakku,'" kata Hernandez.
Selama Sebastian dirawat di NICU, Hernandez harus melewati masa penuh kecemasan dan ketidakpastian sebagai seorang ibu.
Bayi lahir sangat prematur
Bayi itu bernama Sebastian Moncivais, yang lahir pada 11 September 2025, di usia kehamilan 22 minggu 1 hari. Ayahnya, Henry Moncivais, mengatakan bahwa bayinya saat itu sebesar telapak tangan. Berat badannya pun hanya sekitar 450 gram.
Namun, Sebastian berhasil pulang ke rumah setelah menjalani perawatan intensif di NICU, HCA HealthOne Rocky Mountain Children’s. Sebastian dirawat dengan ventilator selama hampir dua bulan di NICU, dimana ia diberi nutrisi intravena dan berbagai obat-obatan.
Pulang dari NICU menjelang Hari Ibu
Sebastian menjalani perawatan intensif selama 113 hari di NICU. Ia pulang ke rumah dua minggu sebelum tanggal perkiraan kelahirannya. Momen tersebut terasa semakin spesial karena terjadi menjelang Hari Ibu dan ulang tahun kakak perempuannya, Raelynn.
Dr. Jennifer Zank, seorang neonatolog dan Direktur Medis di HCA HealthOne Rocky Mountain Children’s, mengatakan bahwa ada hari-hari ketika ia tidak yakin Sebastian akan bertahan hidup. Namun Sebatian akhirnya belajar makan dan bernapas sendiri tanpa ventilator.
Kini berat badan Sebastian sekitar 12 pon atau lebih dari 5 kilogram dan terus menunjukkan perkembangan sesuai usia koreksinya. Menurut Dr. Zank, kondisi Sebastian termasuk luar biasa untuk bayi yang lahir di usia kehamilan sangat dini.
Risiko bayi lahir sangat prematur
Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 28 minggu termasuk kategori sangat prematur (extremely preterm). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bayi prematur berisiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan, infeksi, gangguan makan, hingga masalah perkembangan jangka panjang.
Sekitar 13,4 juta bayi lahir terlalu dini pada tahun 2020. Itu lebih dari 1 dari 10 bayi. Sekitar 900.000 anak meninggal pada tahun 2019 karena komplikasi kelahiran prematur. Banyak penyintas menghadapi kecacatan seumur hidup, termasuk kesulitan belajar dan masalah penglihatan dan pendengaran.
Sebagian besar kelahiran prematur terjadi di Asia Selatan dan Afrika sub-Sahara, tetapi kelahiran prematur sebenarnya merupakan masalah global.
Lebih dari 90% bayi extremely preterm (kurang dari 28 minggu) yang lahir di negara berpenghasilan rendah meninggal dalam beberapa hari pertama kehidupan, namun kurang dari 10% bayi extremely preterm meninggal di negara berpenghasilan tinggi.
Penelitian dalam jurnal The Lancet Child & Adolescent Health juga menyebutkan bahwa bayi yang lahir sangat prematur membutuhkan dukungan medis intensif untuk meningkatkan peluang bertahan hidup.
Namun, kemajuan teknologi NICU dan perawatan neonatal di zaman modern dapat membantu semakin banyak bayi prematur bertahan dan berkembang lebih baik dibanding sebelumnya.
Mencegah kehamilan prematur
Mencegah kematian dan komplikasi akibat kelahiran prematur dimulai dengan kehamilan yang sehat. Dalam pedoman perawatan antenatal WHO terdapat berbagai upaya yang mencakup intervensi utama untuk membantu mencegah kelahiran prematur.
Misalnya, konseling tentang diet sehat, nutrisi optimal, dan menghindari penggunaan tembakau dan zat adiktif, pengukuran janin termasuk penggunaan USG dini untuk membantu menentukan usia kehamilan dan mendeteksi kehamilan ganda, serta minimal 8 kali kontak dengan tenaga kesehatan profesional selama kehamilan, dimulai sebelum 12 minggu, untuk mengidentifikasi dan mengelola faktor risiko seperti infeksi.
Kisah perjuangan ibu yang dialami Vivian Hernandez ini menjadi pengingat bahwa harapan dan keteguhan hati dapat membantu keluarga melewati masa-masa sulit.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)