Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Posisi Misionaris saat Berhubungan Intim Perbesar Potensi Kehamilan, Mitos atau Fakta?

Melly Febrida   |   HaiBunda

Kamis, 11 Jun 2026 21:30 WIB

Ilustrasi suami istri
Posisi Misionaris saat Berhubungan Intim Perbesar Potensi Kehamilan, Mitos atau Fakta?/Foto: Getty Images/sathit trakunpunlert
Daftar Isi
Jakarta -

Posisi misionaris dianggap dapat memperbesar potensi kehamilan dalam program hamil. Namun, tidak semua pendapat medis sepakat dengan hal tersebut.

Dalam proses merencanakan kehamilan, banyak pasangan suami istri (pasutri) mencari berbagai cara yang bisa membantu memperbesar peluang mendapatkan momongan. Mulai dari pengaturan waktu hubungan, gaya hidup, hingga posisi hubungan intim yang sering dianggap berpengaruh.

Apa itu posisi misionaris?

Posisi misionaris adalah posisi hubungan intim ketika istri berbaring telentang, sementara suami berada di atas dengan posisi saling berhadapan. Posisi ini termasuk yang paling umum karena dianggap nyaman, sederhana, dan memungkinkan kedekatan emosional yang lebih kuat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Banyak pasangan menggunakan posisi ini karena memungkinkan kontak mata langsung dan interaksi fisik yang lebih intens.

Melansir WebMD, istilah misionaris digunakan pada akhir tahun 1960-an atau awal tahun 1970-an untuk menggambarkan hubungan heteroseksual ketika pria berada di atas dan perempuan di bawah. Saat ini, istilah tersebut memiliki makna yang lebih luas yang melampaui heteroseksualitas.

Dalam konteks program kehamilan, posisi misionaris sering dipercaya bisa membantu sperma lebih mudah mencapai sel telur karena penetrasi dianggap lebih 'langsung'.

Posisi misionaris bisa perbesar peluang hamil?

Dalam program hamil, para ahli lebih menekankan pentingnya hubungan intim yang dilakukan pada masa subur dibandingkan posisi tertentu.

Secara biologis, sperma dapat bertahan di dalam tubuh perempuan hingga lima hari, sedangkan sel telur hanya bertahan sekitar 12 hingga 24 jam setelah ovulasi. Karena itu, waktu hubungan intim menjadi faktor yang sangat menentukan.

"Jadi perempuan bisa berhubungan intim hingga lima hari sebelum ovulasi atau satu hari setelahnya untuk mendapatkan kehamilan," kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi Dr. Barry Witt, dilansir laman American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG).

Selain itu, pakar merekomendasikan posisi berhubungan intim dalam program hamil. Salah satunya gaya misionaris dalam berhubungan intim. Misionaris memposisikan suami di atas untuk melakukan penetrasi, sehingga memberi akses sperma bertemu sel telur.

"Dalam posisi istri di atas, sperma harus berenang ke hulu. Namun, posisi suami di atas memungkinkan sperma mengalir ke lubang vagina dan menuju leher rahim," ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi Nita Landry, MD.

Selain waktu, frekuensi hubungan intim juga berperan penting dalam program hamil. Banyak dokter menyarankan pasangan untuk lebih rutin berhubungan di masa subur agar peluang pertemuan sperma dan sel telur semakin besar.

Apa posisi misionaris memperbesar peluang kehamilan? Hingga saat ini, tidak ada bukti medis kuat yang menunjukkan bahwa posisi misionaris secara khusus dapat meningkatkan peluang kehamilan dibandingkan posisi lainnya.

Beberapa ahli menyebutkan bahwa posisi apa pun yang memungkinkan ejakulasi terjadi di dalam vagina tetap memiliki peluang yang sama untuk terjadinya pembuahan. Posisi misionaris sering disebut karena dianggap nyaman dan praktis dalam banyak pasangan.

Posisi misionaris dan potensi kehamilan menurut medis

Melansir Mayo Clinic, secara medis peluang kehamilan lebih ditentukan waktu ovulasi, kualitas sperma dan sel telur, dan kesehatan reproduksi kedua pasangan. Bukan semata-mata posisi.

NHS dan Cleveland Clinic juga menekankan bahwa faktor paling menentukan keberhasilan kehamilan adalah:

  • Hubungan di masa subur.
  • Kesehatan reproduksi.
  • Frekuensi hubungan yang konsisten.

Posisi tidak disebut sebagai faktor penentu utama dalam peluang kehamilan.

Jika pasutri berharap untuk hamil, jangan bergantung pada keberuntungan. Ketahui cara hamil dimulai dengan memprediksi ovulasi dan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan untuk memaksimalkan kesuburan.

Faktor lain yang memengaruhi peluang kehamilan

Selain posisi dan waktu, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kehamilan yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Kualitas sperma dan sel telur

Kesehatan sperma sangat dipengaruhi gaya hidup. Seperti pola makan, tidur, stres, dan kebiasaan merokok. Begitu juga dengan kualitas sel telur yang dipengaruhi usia dan kondisi hormon.

2. Kondisi kesehatan reproduksi

Masalah seperti gangguan ovulasi, PCOS, atau infeksi reproduksi dapat memengaruhi peluang kehamilan meskipun hubungan dilakukan secara rutin.

3. Gaya hidup sehari-hari

Stres berlebihan, kurang tidur, hingga berat badan yang tidak ideal juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi.

Anggapan posisi misionaris perbesar potensi kehamilan hingga kini belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah. Pasutri yang sedang menjalani program hamil sebaiknya lebih fokus pada waktu ovulasi dan menjaga kesehatan reproduksi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda