Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Cara Mengenali Pengaruh Tinggi dan Berat Orang Tua pada Pertumbuhan Janin

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 13 Jun 2026 18:20 WIB

Pengaruh Tinggi dan Berat Orang Tua pada Janin
Pengaruh Tinggi dan Berat Orang Tua pada Janin/ Foto: Getty Images/Agung Putu Surya Purna Kristyaw
Daftar Isi

Banyak faktor yang memengaruhi pertumbuhan janin, salah satunya faktor genetik dari orang tua. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tinggi dan berat badan orang tua dapat berkaitan dengan pertumbuhan bayi sejak dalam kandungan.

Tak hanya ibu, kondisi kesehatan dan status gizi ayah juga turut berperan dalam perkembangan janin. Lantas, seberapa besar pengaruh tinggi dan berat badan orangtua terhadap pertumbuhan janin?

Tinggi dan berat badan orangtua dapat mempengaruhi pertumbuhan janin

Menurut sebuah penelitian, tinggi dan berat badan orang tua berkaitan dengan berat dan panjang badan anak sejak dalam kandungan, saat lahir, hingga masa kehidupan berikutnya

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Studi yang dilakukan Hirabai Cowasji Jehangir Medical Research Institute di Pune, India, menemukan bahwa tinggi dan berat badan orangtua berkaitan dengan pertumbuhan bayi selama kehamilan, saat lahir, bahkan hingga masa kehidupan berikutnya. 

Penelitian ini merupakan bagian dari proyek bernama MAI (Mother and Infant Study). Proyek ini melibatkan perempuan pada awal kehamilan dan mengikuti perkembangan mereka hingga setelah melahirkan.

Sebagian dari proyek ini dilakukan di daerah pedesaan sekitar 50 km dari Pune, di mana prevalensi kekurangan gizi tinggi.

Penelitian melibatkan 134 triad ibu, ayah, dan anak tersebut. Dalam temuan itu terungkap bahwa setiap kenaikan 1 kg berat badan ibu selama kehamilan, berat bayi dalam kandungan meningkat 21 gram.

Tak hanya itu, tinggi badan orang tua juga berhubungan dengan ukuran tubuh bayi saat lahir. Tinggi badan ibu berpengaruh terhadap panjang badan bayi laki-laki saat lahir, sedangkan tinggi badan ayah berkaitan dengan panjang badan bayi perempuan saat lahir.

Menurut Wakil Direktur Hirabai Cowasji Jehangir Medical Research Institute, Dr. Anuradha Khadilkar, status gizi orang tua berperan penting terhadap kesehatan anak sejak dalam kandungan. "Status gizi orang tua berdampak pada kesehatan anak," ujar Khadilkar, dikutip dari Times of India.

Pengaruh ayah mulai terlihat pada trimester ketiga

Kebanyakan orang berpikir kesehatan ibu menjadi faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan janin. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ayah juga berperan.

Khadilkar menjelaskan dalam studi itu ditemukan pengaruh ayah dalam pertumbuhan janin mulai terlihat setelah 28 minggu kehamilan. "Dengan setiap penambahan 1 cm pada ukuran tinggi badan ayah, berat bayi dalam kandungan meningkat sebesar 19 gram," katanya menambahkan.

Secara rata-rata, bayi dari ayah yang lebih tinggi cenderung memiliki berat badan lebih besar dibandingkan bayi dari ayah yang lebih pendek. Namun, hubungan ini tidak bersifat mutlak karena pertumbuhan janin juga dipengaruhi faktor genetik, status gizi, dan kondisi kesehatan Bunda dan Ayah.

"Dengan demikian, ayah yang lebih bergizi akan memiliki bayi yang lebih sehat," katanya. 

Temuan ini menunjukkan bahwa faktor genetik dan status gizi ayah dapat berkontribusi terhadap perkembangan bayi selama kehamilan.

Para peneliti juga menegaskan bahwa temuan tersebut bukan berarti orang tua yang memiliki berat badan berlebih akan otomatis memiliki bayi yang lebih sehat.

"Kami tidak menyarankan bahwa orang tua yang kelebihan berat badan atau obesitas akan memiliki bayi yang lebih sehat," tambah Khadilkar.

Alasan nutrisi ibu penting bagi pertumbuhan janin

Tak hanya faktor genetik, kecukupan nutrisi selama kehamilan juga menjadi salah satu faktor terpenting yang mendukung pertumbuhan janin.

Menurut studi tersebut, bayi dari ibu yang mengalami kenaikan berat badan yang cukup selama kehamilan cenderung memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik dibandingkan bayi dari ibu yang tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai rekomendasi.

“Jika para ibu mendapatkan nutrisi yang cukup pada dan setelah usia kehamilan enam bulan, kesehatan bayi mereka akan jauh lebih baik. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi sebelum kehamilan dan selama kehamilan untuk memastikan penambahan berat badan yang optimal (tidak terlalu sedikit, dan tidak terlalu banyak),” kata Khadilkar.

Namun jika ibu mengalami kekurangan gizi, kata Khadilkar, dapat berdampak antar generasi. Ibu yang mengalami kekurangan gizi berisiko melahirkan bayi dengan kondisi kesehatan yang kurang optimal, dan kondisi tersebut dapat berlanjut pada generasi berikutnya.

"Jika seorang ibu tidak cukup gizi, ia seringkali akan melahirkan bayi dengan kesehatan yang buruk. Anak ini kemungkinan besar akan membesarkan anak yang juga kemungkinan besar tidak cukup gizi," kata Khadilkar. 

Demikian ulasan mengenai tinggi dan berat badan orang tua pada pengaruh tumbuh kembang janin. Semoga informasinya bisa menjadi gambaran untuk para bumil ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda