Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Waspada Bumil, Gelombang Panas Tingkatkan Risiko Bayi Lahir Prematur di 13 Negara

Melly Febrida   |   HaiBunda

Senin, 20 Jul 2026 11:35 WIB

ibu hamil cuaca panas
Waspada Bumil, Gelombang Panas Tingkatkan Risiko Bayi Lahir Prematur di 13 Negara/Foto: Getty Images/Lacheev
Daftar Isi
Jakarta -

Gelombang panas akibat perubahan iklim tak hanya meningkatkan suhu udara hingga membahayakan kesehatan masyarakat. Sebuah studi menunjukkan bahwa gelombang panas juga dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur.

Kelahiran prematur adalah kondisi ketika bayi lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Bayi yang lahir terlalu dini berisiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan, infeksi, hingga masalah tumbuh kembang dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan.

Gelombang panas akibat perubahan iklim tingkatkan risiko bayi lahir prematur

Melansir MedicalXpress, gelombang panas tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman saat beraktivitas. Pada sebagian ibu hamil, paparan suhu tinggi juga dapat meningkatkan risiko persalinan prematur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Padahal, bayi prematur berisiko kematian yang jauh lebih tinggi, serta komplikasi kesehatan yang dapat memengaruhi mereka seumur hidup.

Penelitian selama beberapa dekade telah mendokumentasikan hubungan antara paparan panas dan kelahiran prematur. Namun, sebagian besar studi terbatas pada satu kota atau negara, menggunakan metode berbeda yang menghasilkan hasil yang sulit dibandingkan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Environment International memberikan jawaban paling komprehensif bahwa risiko persalinan prematur meningkat seiring naiknya suhu udara.

Peneliti menganalisis 36,6 juta kelahiran yang terjadi selama musim panas di 250 kota, di 13 negara (Australia, Brasil, Kanada, Chili, Ekuador, Estonia, Israel, Italia, Jepang, Paraguay, Spanyol, Swiss, dan Amerika Serikat) antara tahun 1979 dan 2019. Ini adalah analisis multi-lokasi paling ekstensif tentang topik ini hingga saat ini.

Hasilnya, pada hari dengan suhu yang lebih tinggi dari biasanya, risiko kelahiran prematur meningkat sekitar 2,8 persen. Sementara itu, saat terjadi panas ekstrem, peningkatan risikonya mencapai 3,8 persen. 

Secara keseluruhan, peneliti memperkirakan sekitar 1,4 persen kelahiran prematur selama musim panas berkaitan dengan paparan panas. Angka tersebut setara dengan sekitar 855 tambahan kelahiran prematur pada setiap satu juta kelahiran. 

Dilansir Science Direct, penelitian juga menemukan bahwa besarnya dampak berbeda di setiap negara. Perbedaan iklim, kondisi sosial ekonomi, hingga kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap cuaca panas diduga turut memengaruhi besarnya risiko tersebut.

Mengapa cuaca panas dapat memicu persalinan prematur?

Menurut peneliti ada banyak mekanisme biologis yang diduga berperan. Paparan suhu tinggi dapat meningkatkan suhu tubuh dan memicu kontraksi rahim. 

Dehidrasi akibat suhu panas dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dan menurunkan aliran darah ke plasenta. Kondisi ini diduga dapat memicu kontraksi rahim lebih awal.

Tubuh ibu hamil sangat rentan karena tubuhnya menghasilkan banyak panas dari biasanya akibat pertumbuhan janin, sehingga kemampuan tubuh untuk membuang panas menjadi lebih terbatas. 

Selain itu, panas juga dapat memicu proses peradangan dan stres oksidatif yang diduga ikut mempercepat proses persalinan pada sebagian ibu hamil. 

Siapa yang lebih berisiko?

Penelitian menunjukkan bahwa dampak panas kemungkinan lebih besar pada kelompok ibu tertentu, seperti ibu berusia muda, ibu yang belum menikah, memiliki tingkat pendidikan lebih rendah, atau berasal dari kondisi sosial ekonomi yang kurang menguntungkan.

Janin perempuan juga cenderung lebih rentan, meski peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui penelitian lanjutan.

Menurut peneliti, kelompok yang lebih rentan secara sosial sering kali memiliki akses yang lebih terbatas terhadap lingkungan yang sejuk, seperti pendingin ruangan, serta lebih banyak bekerja di luar ruangan saat cuaca panas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan paparan terhadap suhu tinggi selama kehamilan. 

Menariknya, penelitian ini tidak hanya menemukan peningkatan risiko pada kelahiran prematur. Paparan panas ekstrem juga dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan persalinan pada kehamilan cukup bulan, terutama pada usia kehamilan 37 hingga 38 minggu. Temuan ini menunjukkan bahwa suhu tinggi mungkin dapat menjadi salah satu pemicu dimulainya proses persalinan. 

Apa yang dapat dilakukan ibu hamil saat cuaca sangat panas?

Tidak semua ibu hamil akan mengalami persalinan prematur akibat cuaca panas, namun para ahli menyarankan agar ibu hamil tetap mengambil langkah pencegahan saat suhu meningkat. 

Beberapa di antaranya adalah mencukupi kebutuhan cairan, menghindari aktivitas berat di luar ruangan pada siang hari, mengenakan pakaian yang nyaman, serta mencari tempat yang lebih sejuk saat terjadi gelombang panas.

Jika ibu hamil mengalami kontraksi sebelum waktunya, gerak janin berkurang, atau muncul keluhan lain yang mengkhawatirkan saat cuaca panas, segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Penelitian di atas menunjukkan bahwa cuaca panas bukan satu-satunya penyebab persalinan prematur. Faktor lain seperti kondisi kesehatan ibu, infeksi, kehamilan kembar, maupun penyakit penyerta juga berperan.

Karena itu, ibu hamil tetap dianjurkan menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin dan menjaga kondisi tubuh, terutama saat terjadi gelombang panas.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda