Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Divonis Harus Angkat Rahim, Bunda Ini Justru Hamil Secara Tak Terduga

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Kamis, 16 Jul 2026 17:55 WIB

Tes Kehamilan
Divonis Harus Angkat Rahim, Bunda Ini Justru Hamil Secara Tak Terduga/Foto: Getty Images/NineLives
Daftar Isi
Jakarta -

Perjuangan memiliki anak memang tak selalu berjalan mulus. Bagi sebagian Bunda, perjalanan menuju kehamilan harus diwarnai dengan berbagai tantangan kesehatan, termasuk endometriosis yang dapat menyebabkan nyeri hebat hingga mengganggu kesuburan.

Kisah ini dialami oleh Alyssa Fisher, seorang Bunda asal Houston, Amerika Serikat. Setelah bertahun-tahun berjuang melawan endometriosis, mengalami beberapa kali keguguran, hingga memutuskan menjadwalkan operasi pengangkatan rahim (histerektomi), Alyssa justru mendapat kabar yang tak pernah ia bayangkan. Beberapa minggu sebelum operasi dilakukan, ia dinyatakan hamil secara alami. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Divonis harus angkat rahim karena endometriosis

Alyssa dan suaminya, Breckan, sebenarnya sudah dikaruniai seorang putri bernama Olive. Namun, mereka sangat berharap bisa memberikan adik untuk putri sulungnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Harapan itu ternyata tak mudah diwujudkan. Selama sekitar satu tahun mencoba hamil lagi, Alyssa mengalami dua kali kehamilan kimia (chemical pregnancy). Selain itu, ia juga didiagnosis mengidap endometriosis, adenomyosis, dan polycystic ovary syndrome (PCOS) yang semakin mempersulit peluangnya untuk hamil.

Pasangan ini kemudian berkonsultasi dengan dokter spesialis fertilitas. Dokter menjelaskan bahwa peluang terbesar untuk memiliki anak lagi adalah melalui program bayi tabung atau IVF. Namun saat itu, Alyssa merasa dirinya belum siap menjalani prosedur tersebut.

Di sisi lain, rasa nyeri akibat endometriosis semakin sering datang dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, dokter menemukan bahwa Alyssa juga mengalami adenomyosis, yaitu kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim tumbuh ke dinding otot rahim.

Dilansir dari Mayo Clinic, adenomyosis adalah kondisi ketika jaringan yang melapisi bagian dalam rahim tumbuh ke dinding otot rahim. Selain itu, menurut National Library of Medicine Adenomyosis sering terjadi pada perempuan dengan endometriosis, dan sekitar 30 hingga 50 persen orang dengan endometriosis juga memiliki adenomyosis.

"Endometriosis pada dasarnya mengambil alih setiap hari dan detik saya. Saya tidak bisa banyak berjalan, saya sangat, sangat lelah sepanjang waktu," kata Alyssa.

Karena kondisinya semakin berat, dokter menyarankan histerektomi atau operasi pengangkatan rahim sebagai salah satu pilihan untuk mengatasi nyeri kronis yang dialaminya. Bagi Alyssa, keputusan itu sangat berat. Ia tahu bahwa setelah rahim diangkat, ia tidak lagi bisa mengandung.

"Dari Januari hingga Agustus 2025, saya mulai tidak dapat berfungsi sebagai manusia. Ketika saya berbicara dengan AMIG saya, dia mengatakan bahwa saya kemungkinan besar dapat menjalani operasi sayatan, tetapi dia mengatakan endometriosis mungkin akan kambuh. Dokter menambahkan bahwa jika saya sudah selesai memiliki anak, histerektomi berpotensi memberi saya kelegaan," ujar Alyssa.

Meski berat, ia akhirnya menerima keputusan tersebut. Baginya, menghilangkan rasa sakit yang telah bertahun-tahun mengganggu juga menjadi bentuk mencintai dirinya sendiri.

"Saya tidak pernah ragu bahwa itu adalah jalan yang baik untuk saya, meskipun saya tidak menginginkannya. Saya mencoba semua pilihan pengobatan mereka, tetapi histerektomi dapat memberi saya kelegaan bulanan paling besar dengan siklus menstruasi saya yang berat dan adenomiosis saya," tuturnya.

Kejutan manis dua minggu sebelum operasi

Segala persiapan operasi pun mulai dilakukan. Jadwal histerektomi tinggal menghitung hari. Namun, sekitar dua minggu sebelum operasi, Alyssa menyadari menstruasinya terlambat. Awalnya ia sama sekali tidak berharap karena sudah terlalu sering dikecewakan oleh hasil tes kehamilan sebelumnya. Meski begitu, ia tetap mencoba menggunakan test pack. Di luar dugaan, alat tersebut menunjukkan hasil positif.

"Sebagai 'upaya terakhir', saya memutuskan untuk menggunakan tes kehamilan kertas terakhir, saya melihat garis samar. Aku bilang pada suamiku bahwa dia harus pergi membeli alat tes kehamilan digital, dan ketika aku menggunakannya saat pulang, aku melihat 'hamil'," kenangnya.

"Rasanya seperti kejutan besar. Aku juga akhirnya menerima kenyataan bahwa aku tidak akan pernah punya bayi lagi. Aku membuang sebagian besar perlengkapan bayi kami. Aku benar-benar tidak percaya kami akan hamil lagi. Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan bahwa aku melihat keajaiban terjadi dalam hidupku, yang hanya pernah kudengar terjadi pada orang lain," sambungnya.

Alyssa mengaku sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia bahkan berpikir hasil tes itu keliru. Setelah memeriksakan diri ke dokter, kehamilannya dipastikan benar. Kehamilan tersebut membuat rencana operasi histerektomi dibatalkan. Kini Alyssa dan keluarganya tengah menantikan kelahiran bayi perempuan mereka. Putri sulungnya, Olive, juga tak sabar menyambut kehadiran sang adik. Bagi Alyssa, kehamilan ini terasa seperti hadiah yang datang di saat ia sudah mulai mengikhlaskan mimpinya memiliki anak lagi.

Mengenal endometriosis

Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang mirip dengan lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, misalnya pada ovarium, tuba falopi, atau organ di sekitar panggul.

Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, seperti:

  • Nyeri haid yang sangat hebat.
  • Nyeri saat berhubungan intim.
  • Nyeri saat buang air kecil atau buang air besar ketika menstruasi.
  • Perdarahan menstruasi berlebihan.
  • Sulit hamil.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), endometriosis merupakan salah satu penyebab infertilitas yang cukup sering terjadi. Sekitar 30 hingga 50 persen perempuan dengan endometriosis mengalami kesulitan untuk hamil, meski tidak semua penderitanya mengalami gangguan kesuburan.

Para ahli menduga kondisi ini dapat mengganggu kesuburan karena menyebabkan peradangan kronis, terbentuknya jaringan parut di rongga panggul, hingga mengganggu proses pelepasan sel telur, pembuahan, maupun implantasi embrio.

Apakah penderita endometriosis masih bisa hamil?

Jawabannya, bisa, Bunda. Diagnosis endometriosis bukan berarti seseorang tidak memiliki kesempatan untuk hamil.

Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), peluang kehamilan sangat bergantung pada usia, tingkat keparahan endometriosis, kualitas sel telur, serta ada atau tidaknya gangguan reproduksi lain.

Pada kasus endometriosis ringan, sebagian perempuan masih dapat hamil secara alami. Sementara pada kondisi yang lebih berat, dokter mungkin akan menyarankan tindakan operasi untuk mengangkat jaringan endometriosis atau menggunakan teknologi reproduksi berbantu seperti inseminasi maupun program bayi tabung (IVF).

Meski kisah Alyssa berakhir bahagia, setiap perjalanan menuju kehamilan tentu berbeda. Karena itu, Bunda yang mengalami nyeri haid berat, nyeri panggul berkepanjangan, atau belum juga hamil setelah menjalani program hamil sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Dengan diagnosis dan penanganan yang tepat, peluang untuk memperoleh kehamilan tetap bisa diupayakan sesuai kondisi masing-masing.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda