Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kenali Perimenopause, Penyebab, Gejala, dan Perbedaaannya dengan Premenopause & Menopause

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Minggu, 23 Aug 2026 16:05 WIB

Asian woman suffering from a painful headache, migraine, or vertigo, touching her forehead with eyes closed in discomfort, concept of stress, fatigue, illness, and chronic pain at home indoors
Kenali Perimenopause, Penyebab, Gejala, dan Perbedaaannya dengan Premenopause & Menopause/Foto: Getty Images/Doucefleur
Daftar Isi

Jelang menopause, perempuan akan mengalami fase perimenopause terlebih dahulu. Kenali perimenopause, penyebab, gejala, dan perbedaannya dengan premenopause & menopause.

Sebagian perempuan merasakan haid mereka mungkin semakin tidak teratur dan mood yang naik turun seperti yoyo ketika usianya semakin matang atau menginjak kepala empat. Nah, apakah ini tanda mereka sedang memasuki tahapan perimenopause ya, Bunda?

Mengenal apa itu perimenopause

Seiring dengan perjalanan usia, kesuburan perempuan memang anak menurun. Fase menstruasi pun menjadi tidak teratur dan kerap mengalami hot flashes. Kondisi ini pun sangat tidak nyaman karena serangan mood yang bergejolak sering kali tidak stabil sehingga menyebabkan keseharian jadi nano-nano.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Ya, fase ini memang tidak nyaman dilalui tetapi menjadi tahapan pasti dalam tahapan kehidupan perempuan. Kondisi tersebut merupakan salah satu tanda bahwa mereka sedang berada di fase perimenopause. 

Perimenopause sendiri merupakan saat di mana tubuh mulai bertransisi ke menopause, Bunda. Selama transisi ini, ovarium mulai memproduksi hormon yang lebih sedikit dan akhirnya menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Pada perimenopause, tubuh Bunda sedianya bergerak menuju akhir masa reproduksi. Ini merupakan perkembangan yang alami dan normal, tetapi datang dengan gejala fisik dan emosional. Beberapa gejala ini dapat mengganggu hidup Bunda atau membuat ketidaknyamanan.

Perimenopause tidak selalu dimulai usia jelita (jelang lima puluh tahun) tetapi bisa dimulai sejak usia pertengahan 30-an atau bahkan pertengahan 50-an. Beberapa orang hanya mengalami perimenopause dalam waktu singkat, sementara yang lain mengalaminya selama beberapa tahun. Meskipun siklus menstruasi yang Bunda alami tidak dapat diprediksi dan kadar hormon menurun, fase ini tetap perlu diwaspadai karena Bunda tetap memilii peluang untuk hamil dalam fase perimenopause.

Perimenopause sendiri merupakan masa transisi yang berakhir dengan menopause. Menopause berarti menstruasi Bunda telah berakhir. Dan, ketika Bunda tidak mengalami siklus menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, Bunda secara resmi telah mencapai menopause seperti dikutip dari laman Cleveland Clinic.

Penyebab perimenopause

Perimenopause adalah proses alami yang terjadi ketika ovarium Bunda secara bertahap berhenti bekerja. Ovulasi sendiri bisa menjadi tidak menentu lalu berhenti. Siklus menstruasi menjadi lebih panjang, dan aliran haid bisa menjadi tidak teratur sebelum haid terakhir Bunda.

Gejala dari perimenopause biasanya disebabkan oleh perubahan kadar hormon dalam tubuh. Ketika estrogen lebih tinggi, Bunda mungkin mengalami gejala seperti yang Bunda alami pada PMS. Ketika estrogen rendah, Bunda juga mungkin mengalami hot flashes atau keringat malam. Perubahan hormon ini mungkin bercampur dengan siklus normal seperti dikutip dari laman Hopkins Medicine.

Ciri-ciri perimenopause

Berbicara mengenai perimenopause, biasanya terdapat ciri-ciri yang akan Bunda alami, di antaranya sebagai berikut ya, Bunda:

1. Perubahan suasana hati
2. Perubahan hasrat seksual
3. Kesulitan berkonsentrasi
4. Sakit kepala
5. Keringat malam
6. Hot flashes
7. Kekeringan vagina
8. Kesulitan tidur
9. Nyeri sendi dan otot
10. Berkeringat deras
11. Sering buang air kecil
12. Gejala mirip PMS

Usia perimenopause menurut WHO

Usia rata-rata menopause pada perempuan biasanya saat mereka berusia 51 tahun. Dan, gejala perimenopause akan dimulai sekira empat tahun sebelum haid terakhir. Kebanyakan perempuan merasakan gejala perimenopause di usia 40-an, tetapi beberapa di antaranya mulai merasakan perubahan sejak usia pertengahan 30-an.

Bunda mungkin merasakan adanya perubahan halus seperti pada panjang, durasi, dan aliran siklus haid, bahkan sebelum perimenopause. Sebenarnya, itulah saatnya kesuburan mulai menurun dan pola hormon mulai berfluktuasi.

Pada beberapa perempuan, gejala perimenopause mungkin mulai lebih awal, terutama jika mereka telah menjalani pengobatan kanker (kemoterapi atau radiasi panggul) atau merokok. Perokok umumnya mencapai menopause dua atau tiga tahun lebih awal dibandingkan yang tidak merokok.

Tanda pertama dari perimenopause ialah adanya gangguan pada siklus menstruasi. "Gejala pertama yang biasanya dialami wanita adalah perubahan pada menstruasi bulanan mereka," kata Jean Miller, NP dari Fransciscan Physician Network Winfield Health Center seperti dikutip dari laman Fransiscan Health.

"Jadi, periode mereka menjadi lebih tidak teratur, artinya jumlah hari antara periode mereka menjadi lebih pendek atau lebih lama tujuh hari atau lebih. Perdarahan saat menstruasi bisa menjadi lebih berat atau ringan, berlangsung lebih lama, atau berhenti lebih awal dari yang diperkirakan. Dan ini bisa berbeda dari bulan ke bulan."

Namun, begitu hal tersebut mulai berubah, Bunda mungkin akan mulai mengalami beberapa gejala perimenopause lain yang lebih umum. Namun, Bunda tidak perlu khawatir karena gejala perimenopause merupakan bagian alami dari proses penuaan. 

Guna mengatasi kondisi tersebut, beberapa obat, pengobatan kanker, dan operasi ovarium dapat mempercepat proses atau menyebabkan menopause lebih cepat. Kourtney Morris, MD, seorang Dokter Obstetri & Ginekologi dari Jaringan Dokter Fransiskan di Lafayette, Indiana, mengatakan, "Bagi beberapa perempuan, perimenopause hampir tidak terlihat, tetapi bagi yang lain, gejalanya membuat mereka sengsara."

Oh iya, Bunda, berbicara mengenai perimenopause, fase ini sebenarnya dapat berlangsung selama beberapa tahun dan dapat memengaruhi kesejahteraan fisik, emosional, mental, dan sosial.

Bagi kebanyakan perempuan, transisi menuju menopause yakni perimenopause akan berbeda untuk setiap orang. Rata-rata, hal ini dimulai saat perempuan memasuki usia 40-an meskipun bisa juga dimulai di usia 30-an. 

Mengutip dari laman WHO, perempuan biasanya mengalami menopause sendiri saat berusia 45 hingga 55 tahun untuk seluruh perempuan di dunia. Meski sebenarnya keteraturan dan durasi siklus menstruasi bervariasi selama masa reproduksi mereka tetapi usia menopause rata-rata hampir sama ya, Bunda.

Sehingga, wajar saja sebelum masa menopause tersebut, banyak juga para perempuan yang mengalami perimenopause sebelum usia mereka 40 tahun atau saat memasuki usia 30-an. Secara umum, durasi perimenopause berlangsung sekira empat tahun. Tetapi, masa tersebut dapat berlangsung lebih lama hingga delapan tahun.  Beberapa orang mungkin hanya berada di tahap ini selama beberapa bulan, sementara yang lain akan berada di fase transisi ini selama beberapa tahun.

Apakah perempuan yang alami perimenopause bisa hamil?

Perubahan hormonal yang dialami selama perimenopause sebagian besar disebabkan oleh penurunan kadar estrogen. Ovarium akan memproduksi estrogen yang berperan penting dalam menjaga sistem reproduksi. 

Saat estrogen menurun, keseimbangan dengan progesteron, hormon lain yang dihasilkan ovarium menjadi tidak stabil. Sehingga, sering terjadi fluktuasi hormon selama perimenopause yang akan naik turun seperti rollercoaster.

Selama masa perimenopause, bagi Bunda yang masih mengalami haid, bahkan yang tidak teratur sekalipun, Bunda akan tetap berovulasi. Sampai Bunda tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, barulah Bunda harus menganggap tubuh masih berovulasi.

Pada fase perimenopause, kemungkinan untuk hamil tetap ada ya, Bunda. Meskipun kemungkinannya akan lebih kecil selama fase tersebut, tetapi peluang hamil tetap ada. Selama Bunda masih haid, Bunda masih bisa hamil.

Ketika haid tidak teratur, Bunda lebih mungkin hamil secara tiba-tiba. Jika ingin mengurangi risiko tersebut, gunakan kontrasepsi sampai tim medis memberi tahu bahwa aman untuk berhenti menggunakannya.

Cara mengatasi perimenopause

Sebenarnya, tidak ada pengobatan untuk menghentikan perimenopause. Sebab, fase tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan. Ketika menstruasi berhenti sepenuhnya, Bunda akan mencapai masa menopause. Namun, tim medis mungkin akan merekomendasikan cara untuk membantu meredakan gejala yang tidak nyaman. 

Banyak orang tidak membutuhkan obat karena gejala yang mereka rasakan cukup ringan sehingga perubahan gaya hidup saa sudah bisa membantu. Namun, sebagian lainnya menemukan bahwa mengonsumsi obat dapat meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Berikut ini beberapa obat-obatan yang bisa membantu dan direkomendasikan ya, Bunda:

1. Antidepresan

Obat-obatan ini membantu mengatasi hot flashes, perubahan suasana hati, kecemasan, atau depresi.

2. Pil KB

Pil KB diketahui dapat membantu menstabilkan kadar hormon perempuan dan biasanya meredakan gejala.

3. Terapi penggantian hormon

Terapi ini menggunakan estrogen atau estrogen dan progesteron untuk meningkatkan kadar hormon jika Bunda menopause sebelum usia 40 tahun.

4. Terapi hormon

Mirip dengan terapi penggantian hormon atau HRT, terapi ini menggunakan  estrogen atau estrogen dan progesteron untuk meningkatkan hormon Bunda. Tim medis akan merujuk terapi ini pada orang yang mengalami menopause pada usia yang lebih alami (kapan saja setelah usia 45 tahun).

5. Gabapentin (Neurontin)

Obat ini adalah obat kejang yang juga meredakan hot flashes pada kebanyakan orang.

6. Oxybutynin

Obat untuk kandung kemih yang terlalu aktif yang juga dapat meredakan hot flashes.

7. Mirena

Alat intrauterin (IUD) ini dapat mengelola perdarahan abnormal atau tidak teratur akibat perimenopause. Terkadang, IUD Mirena juga digunakan sebagai komponen progestin HRT, tapi hanya jika Bunda masih memiliki rahim.

8. Krim vagina

Tim medis biasanya akan memberi tahu tentang pilihan resep yang dijual bebas.  Pengobatan dengan krim dan pelumas vagina dapat mengurangi rasa sakit saat berhubungan seks dan meredakan kekeringan vagina.

Cara mencegah perimenopause

Mengelola gejala perimenopause bisa dilakukan dari rumah tanpa perlu obat dari rumah sakit ya, Bunda. Berikut ini cara mencegah perimenopause yang bisa dilakukan:

1. Makan banyak buah, sayuran, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan lemak sehat.
2. Lakukan latihan penopang beban seperti berjalan, mendaki, atau latihan kekuatan.
3. Berpakaianlah dengan lapisan pakaian agar bisa melepas pakaian tersebut jika mulai berkeringat atau mengalami hot flashes.
4. Gunakan kipas angin atau jaga rumah pada suhu yang lebih sejuk.
5. Tingkatkan kebersihan tidur dengan menghindari layar TV dan komputer serta melakukan aktivitas yang menenangkan sebelum tidur.
6. Batasi alkohol dan kafein.
7. Latih meditasi atau teknik manajemen stres lainnya.
8. Berhenti menggunakan produk tembakau seperti rokok.
9. Pertahankan berat badan yang sehat 

Perbedaan perimenopause, premenopause & menopause

Penggunaan istilah premenopause dan perimenopause kadang-kadang digunakan secara bergantian, tetapi secara teknis keduanya memiliki makna yang berbeda.

Perlu Bunda ketahui bahwa premenopause adalah ketika Bunda tidak memiliki gejala perimenopause atau menopause. Dalam hal ini, Bunda yang masih mengalami menstruasi, baik yang teratur ataupun tidak teratur, dan dianggap masih berada di masa reproduksi. Hanya saja, beberapa perubahan hormonal akan dialami, tetapi tidak ada perubahan yang mungkin terlihat di tubuh Bunda.

Di sisi lain, selama masa perimenopause, Bunda kemungkinan akan mulai mengalami gejala menopause. Beberapa gejalanya seperti adanya perubahan siklus menstruasi, sensasi panas, gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan lainnya.

Perimenopause sendiri terjadi jauh sebelum Bunda memasuki masa menopause. Faktanya, perubahan hormon terlihat antara 8 hingga 10 tahun sebelum menopause. Artinya, hal tersebut bisa dialami perempuan saat usia mereka 30-an atau 40-an sebelum perimenopause dimulai seperti dikutip dari laman Healthline.

Perimenopause ditandai dengan penurunan estrogen, hormon utama perempuan yang diproduksi oleh ovarium. Kadar estrogen juga bisa naik turun lebih sporadis dibandingkan siklus 28 hari pada umumnya. Hal ini dapat menyebabkan haid tidak teratur dan gejala lainnya.

Pada tahap akhir perimenopause, tubuh Bunda akan memproduksi estrogen semakin sedikit. Meskipun estrogen menurun tajam, masih mungkin untuk hamil. Perimenopause sendiri bisa berlangsung sesingkat beberapa bulan dan bisa berlangsung hingga 4 tahun.

Sementara, menopause secara resmi mulai terjadi ketika  ovarium memproduksi sangat sedikit estrogen sehingga sel telur tidak lagi dilepaskan. Pada tahapan ini  juga nantinya menyebabkan menstruasi Bunda berhenti.

Dokter akan mendiagnosis menopause setelah Bunda tidak mengalami menstruasi selama satu tahun penuh. Sebagian perempuan ada juga yang mengalami masa menopause lebih awal ya, Bunda. Ini biasanya dikarenakan ada riwayat keluarga mengalami menopause dini, perokok, pernah mengalami histerektomi, atau telah menjalani pengobatan kanker.

Untuk lebih memahaminya, kenali gejala perimenopause yang dapat meliputi beberapa gejala sebagai berikut:

1. Periode tidak teratur
2. Periode yang lebih berat atau lebih ringan dari biasanya
3. Sindrom pramenstruasi (PMS) yang lebih buruk sebelum menstruasi
4. Nyeri payudara
5. Kenaikan berat badan
6. Perubahan rambut
7. Palpitasi jantung
8 Sakit kepala
9. Kehilangan gairah seks
10. Kesulitan konsentrasi
11. Kelupaan
12. Nyeri otot
13. Infeksi saluran kemih (ISK)
14. Masalah kesuburan pada perempuan yang sedang berusaha hamil

Sementara gejala menopause meliputi beberapa hal. Beberapa di antaranya  bisa terjadi saat Bunda masih berada di tahap periimenopause. Berikut ini beberapa gejalanya, Bunda:

1. Keringat malam
2. Sensasi panas
3. Depresi
4. Kecemasan atau mudah marah
5. Perubahan suasana hati
6. Insomnia
7. Kelelahan
8. Kulit kering
9. Kekeringan vagina
10. Sering buang air kecil
11. Kolesterol

Secara singkat, premenopause didefinisikan sebagai tahun reproduksi ketika seseorang mengalami sebagai tahun reproduksi ketika seseorang mengalami menstruasi tanpa mengalami gejala perimenopause atau menopause.

Sementara perimenopause adalah fase transisi sebelum menopause, yang ditandai dengan penurunan estrogen dan gejala seperti haid tidak teratur, hot flashes, dan perubahan suasana hati. Fase ini bisa berlangsung dari beberapa bulan hingga 4 tahun.

Dan, masa menopause didiagnosis setelah 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi, menandai berakhirnya reproduksi perempuan karena ovarium memproduksi sangat sedikit estrogen.

Kapan Bunda harus ke dokter?

Ketika mengalami fase perimenopause, Bunda tidak langsung harus mengunjungi dokter untuk mendapatkan diagnosis perimenopause atau menopause, tetapi ada saat-saat di mana Bunda sebaiknya menemui dokter obgyn. Adapun waktu tersebut yakni ketika Bunda mengalami beberapa gejala berikut:

1. Bercak setelah menstruasi
2. Gumpalan darah selama menstruasi
3. Berdarah setelah berhubungan seks
4. Menstruasi yang jauh lebih lama atau jauh lebih pendek dari biasanya

Terkait gejala di atas, beberapa kemungkinan penjelasannya adalah adanya ketidakseimbangan hormon atau fibroid. Namun, kedua masalah tersebut bisa diobati, Bun. Tetapi ada juga kemungkinan peluang kanker yang mungkin terjadi.

Nah, selain kondisi di atas yang dialami, Bunda juga harus segera menghubungi dokter jika gejala perimenopause atau menopause menjadi cukup parah sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari Bunda.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda