Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kenali Tanda Lain Menjelang Menopause Selain Haid, Termasuk BB Naik

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Selasa, 04 Aug 2026 18:20 WIB

Mature african woman looking outside window with uncertainty. Thoughtful mid adult woman looking away through the window while thinking about her future business after pandemic. Close up face of doubtful lady at home with pensive expression and copy space.
Ciri Haid Menjelang Menopause dari Warna Darah dan Tanda yang Dirasakan/Foto: Getty Images/Ridofranz
Daftar Isi
Jakarta -

Ciri haid menjelang menopause merupakan perubahan yang umum dialami perempuan saat memasuki masa perimenopause, yaitu fase transisi sebelum menopause. Pada masa ini, kadar hormon estrogen dan progesteron mulai berfluktuasi sehingga memengaruhi siklus menstruasi, jumlah perdarahan, hingga keluhan fisik lainnya. 

Mengutip laman Clevelandclinic, menopause adalah tahap ketika seseorang telah mengalami 12 bulan berturut-turut tanpa menstruasi. Rata-rata, menopause terjadi pada usia 52 tahun. Ini merupakan proses alami yang terjadi ketika ovarium berhenti memproduksi hormon reproduksi. 

Perubahan hormon yang terjadi selama menopause dapat menimbulkan berbagai gejala fisik maupun emosional yang mengganggu. Lantas seperti apa ciri-ciri haid menjelang menopause yang perlu Bunda ketahui? Simak ulasan selengkapnya berikut yuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


5 Ciri-ciri haid menjelang menopause

Berikut ini ciri-cirinya, ya Bunda:

1. Haid berkepanjangan

Salah satu ciri haid menjelang menopause adalah haid berkepanjangan menjelang menopause. Menstruasi bisa berlangsung lebih lama dari biasanya atau justru keluar dalam jumlah yang lebih banyak. Hal ini terjadi akibat proses ovulasi yang mulai tidak teratur sehingga lapisan rahim menebal sebelum akhirnya luruh.

Jika Bunda biasanya mengalami haid selama 4-5 hari, menjelang menopause, haid dapat berlangsung lebih dari 7 hari. Hal ini disebabkan oleh fluktuasi hormon yang memengaruhi kestabilan siklus haid. 

2. Warna darah haid menjelang menopause

Warna darah haid menjelang menopause juga dapat mengalami perubahan. Warna darah bisa menjadi lebih gelap atau terang dibandingkan sebelumnya. Ini disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Maka dari itu, penting buat Bunda memperhatikan tanda haid menjelang menopause.

3. Pendarahan tidak teratur

Mengutip laman Mayoclinic, saat ovulasi menjadi semakin tidak dapat diprediksi, jarak antarperiode menstruasi bisa menjadi lebih panjang atau lebih pendek. Volume darah menstruasi juga dapat berubah, mulai dari ringan hingga sangat banyak, dan mungkin melewatkan beberapa siklus menstruasi. 

Jika panjang siklus menstruasi berubah secara konsisten hingga tujuh hari atau lebih, kemungkinan Bunda berada pada tahap awal perimenopause. Jika jeda antarperiode mencapai 60 hari atau lebih, kemungkinan  telah memasuki tahap akhir perimenopause.

4. Perubahan pada payudara

Ciri haid menjelang menopause selanjutnya bisa dilihat dari perubahan payudara. Payudara terasa nyeri atau lebih sensitif (breast tenderness) akibat fluktuasi hormon. 

Pada sebagian perempuan, ukuran payudara juga dapat berubah akibat perubahan hormon dan distribusi lemak tubuh.

5. Nyeri dan ketidaknyamanan

Selain perubahan siklus haid, perempuan dapat mengalami nyeri pada tubuh, sakit kepala hingga kram perut yang berbeda dari biasanya. Bahkan perempuan bisa merasakan hot flashes atau gejala vasomotor, yaitu sensasi panas yang muncul secara tiba-tiba dan menyebar ke seluruh tubuh.

Gejala ini dapat berbeda-beda pada setiap orang, baik dari segi intensitas, durasi, maupun frekuensi kemunculannya.

Tanda lain menjelang menopause selain haid

Bunda mungkin sedang memasuki masa transisi menuju menopause jika mulai mengalami sebagian atau beberapa gejala berikut:

  • Berkeringat di malam hari (night sweats) dan/atau sensasi dingin yang muncul tiba-tiba (cold flashes).
  • Vagina kering yang menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri saat berhubungan seksual.
  • Sering merasa ingin buang air kecil secara tiba-tiba (urinary urgency).
  • Gangguan tidur. Kesulitan tidur sering kali disebabkan oleh hot flashes atau keringat berlebih di malam hari (night sweats), tetapi tidak selalu demikian. Perubahan pola tidur dapat terjadi selama perimenopause meskipun tidak disertai hot flashes atau keringat malam.
  • Berat badan naik. Perubahan kadar hormon selama perimenopause dapat memperlambat metabolisme tubuh. Karena itu, kenaikan berat badan merupakan hal yang cukup umum terjadi ketika kadar estrogen mulai menurun.

Apa yang dirasakan perempuan menjelang menopause selain ciri di atas

Selain perubahan fisik, banyak perempuan juga mengalami perubahan emosional. Seperti perubahan emosi, mudah marah, suasana hati yang berubah-ubah (mood swing), atau depresi.

Selain itu, perempuan mengalami perubahan fungsi seksual. Selama perimenopause, gairah dan hasrat seksual dapat berubah. Sebagian perempuan merasa kenikmatan saat berhubungan seksual berkurang, sementara sebagian lainnya justru meningkat. Jika Bunda memiliki kekhawatiran mengenai kesehatan seksual selama atau setelah perimenopause, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Meski dapat mengganggu kenyamanan, sebagian besar gejala menopause tersebut merupakan bagian dari proses penuaan alami yang dialami tubuh perempuan.

Perbedaan ciri hamil dan menopause 

Sekilas, perbedaan ciri hamil dan menopause memang cukup sulit dikenali karena keduanya sama-sama dapat menyebabkan menstruasi terlambat atau berhenti sementara.

Namun ada beberapa cara yang bisa Bunda ketahui perbedaan ciri hamil dan menopause. Pada kehamilan biasanya muncul tanda seperti mual dan muntah atau morning sickness merupakan gejala umum pada trimester pertama kehamilan. Lalu payudara membesar sampai rasa nyeri, sering buang air kecil, serta hasil tes kehamilan positif. 

Sementara pada menopause, keluhan yang lebih dominan adalah hot flashes, vagina kering, gangguan tidur, dan menstruasi yang semakin tidak teratur akibat penurunan hormon reproduksi. Selain itu, ciri menopause lainnya, perubahan emosional seperti perubahan emosi, mudah marah, suasana hati yang berubah-ubah (mood swing), atau depresi.

Pertanyaan seputar menopause

1. Apakah boleh salat jika alami haid menjelang menopause?

Selama masih terjadi perdarahan yang memenuhi kriteria haid menurut ajaran Islam, perempuan tidak diwajibkan melaksanakan salat dan dapat menggantinya setelah masa haid selesai sesuai ketentuan agama.

Menurut KH. M. Faiz, ada dua mazhab tantang apakah perempuan boleh salat jika mengalami haid menjelang menopause. 

Menurutnya, ada mazhab yang mengatakan haid itu dikatakan haid kalau darahnya keluar, kalau tidak ada darah, di masa haid itu hukumnya suci. Itu artinya perempuan tersebut wajib salat. 

"Ada yang mengatakan suci satu hari. Kalau sucinya ashar ya ashar salat, tahu-tahu mahrib haid lagi. Ini namanya mazhab yang melihat bahwa setiap ada putusnya darah haid di masa-masa siklus maka perempuan hukumnya suci,"kata KH. M. Faiz dikutip dari laman YouTube CNN Indonesia. 

Selain itu, Faiz mengatakan ada mazhab yang dilihat dari siklus haid selama ini. Jika dalam siklus 10 hari haid dan terputus satu hari tidak haid maka hukumnya tetap haid. Itu artinya Bunda tidak diperbolehkan salat. 

"Saya mengatakan ada mazhab yang selama siklus (haid) 10 hari maka kalau terputus dalam satu hari (tidak haid) dia tetap hukumnya sedang haid," tuturnya. 

Faiz menjelaskan haid menjelang manopause itu baru gejala belum memasuki menopause. Itu dalam fiqih namanya Dzhonni masih persangkaan belum akurat. Oleh karena itu Bunda bisa melihat kebiasaan Bunda (haid) selama ini. 

"Kalau memang siklus sama selama bertahun-tahun  secara normal maka ketika tidak ada darah haidnya tetap dihukumi haid," tuturnya. 

Jika disimpulkan dari penjelasan Faiz maka bisa diartikan bahkan mengeluarkan darah haid menjelang menopause, Bunda tidak boleh salat selama darah tersebut memenuhi kriteria haid. Namun, karena masa ini sering diwarnai siklus yang tidak teratur, Bunda wajib salat jika darah yang keluar adalah darah istihadah (darah penyakit/di luar kebiasaan haid).

2. Berapa lama gangguan haid sebelum menopause?

Menopause merupakan kondisi yang baru dapat dipastikan setelah benar-benar terjadi. Dokter akan menyatakan seseorang telah memasuki menopause apabila tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Setelah itu, seseorang dianggap telah memasuki masa pascamenopause (postmenopause).

Rata-rata masa perimenopause berlangsung sekitar empat tahun, tetapi pada sebagian orang dapat berlangsung hingga delapan tahun. Ada yang hanya mengalami fase ini selama beberapa bulan, sementara yang lain dapat menjalani masa transisi ini selama beberapa tahun.

3. Kenapa saat menopause perut jadi buncit?

Perubahan kadar hormon selama perimenopause dapat memperlambat metabolisme tubuh. Karena itu, kenaikan berat badan merupakan hal yang cukup umum terjadi ketika kadar estrogen mulai menurun. Selain itu, Fluktuasi hormon memicu penumpukan lemak di area perut, yang menyebabkan perut tampak lebih buncit. 

Untuk membantu mencegah kenaikan berat badan dan perut buncit, Bunda disarankan menerapkan pola makan yang sehat dan bergizi serta melakukan aktivitas fisik secara rutin selama masa transisi menuju menopause.

4. Bagaimana cara agar tidak cepat menopause?

Menopause merupakan proses alami yang tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, membatasi alkohol, serta mengelola stres dapat membantu menjaga kesehatan reproduksi.

Cara mencegah menopause

Meskipun menopause adalah fase alami dalam hidup, beberapa langkah berikut bisa membantu Bunda menunda gejala menopause. 

  • Perbanyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh (whole grains), protein tanpa lemak, dan lemak sehat.
  • Lakukan olahraga yang melatih kekuatan tulang (weight-bearing exercise), seperti berjalan kaki, mendaki, atau latihan beban.
  • Terapkan kebiasaan tidur yang baik (sleep hygiene), misalnya menghindari menonton televisi atau menggunakan komputer sebelum tidur, serta melakukan aktivitas yang menenangkan.
  • Batasi konsumsi alkohol dan minuman berkafein.
  • Lakukan meditasi atau teknik pengelolaan stres lainnya.
  • Berhenti menggunakan produk tembakau, seperti rokok.
  • Pertahankan berat badan yang sehat sesuai kondisi tubuh.

Begitulah penjelasan tentang ciri haid menjelang menopause dari warna darah sampai tanda yang dirasakan oleh Bunda. Semoga informasinya bermanfaat ya, Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda