HaiBunda

KEHAMILAN

Langka! Ibu Ini Melahirkan Bayi Kembar Lewat Surogasi dan Alami secara Bersamaan

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 04 Sep 2026 11:10 WIB
Langka! Ibu Ini Melahirkan Bayi Kembar Lewat Surogasi dan Alami secara Bersamaan/Foto: Getty Images/LPETTET
Jakarta -

Bunda, pernah membayangkan ada dua bayi yang lahir dari satu kehamilan, tetapi ternyata memiliki orang tua biologis yang berbeda?

Kejadian langka ini benar-benar terjadi di Queensland, Australia. Seorang perempuan berusia 27 tahun yang menjadi ibu pengganti atau surrogate melahirkan dua bayi melalui operasi caesar. Menariknya, salah satu bayi merupakan anak biologis dari pasangan yang menggunakan jasa surogasi, sementara bayi lainnya ternyata merupakan anak biologis sang ibu pengganti dan suaminya.

Kisah unik ini bahkan sampai harus dibawa ke pengadilan karena situasinya tidak biasa dan menimbulkan pertanyaan mengenai status hukum kedua bayi tersebut.


Berawal dari program surogasi

Perempuan tersebut menjadi ibu pengganti bagi pasangan yang tidak dapat memiliki anak melalui kehamilan karena sang calon ibu tidak memiliki rahim sejak lahir. Pasangan tersebut kemudian menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Sebuah embrio yang berasal dari pasangan itu ditanamkan ke rahim sang ibu pengganti.

Awalnya, semuanya berjalan seperti kehamilan surogasi pada umumnya. Namun, sekitar dua minggu setelah transfer embrio, pemeriksaan menunjukkan bahwa sang ibu pengganti ternyata mengandung dua janin. Kondisi ini tentu membuat dokter dan keluarga penasaran. Bagaimana mungkin embrio yang ditanam hanya satu, tetapi kemudian terdapat dua janin?

Satu bayi dari IVF, satu lagi dari kehamilan alami

Setelah kedua bayi lahir, dilakukan pemeriksaan DNA. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu bayi memang merupakan anak biologis dari pasangan yang menjalani program surogasi.

Sementara itu, bayi lainnya ternyata merupakan anak biologis dari sang ibu pengganti dan suaminya. Jadi, kedua bayi tersebut tidak memiliki hubungan genetik sebagai saudara kembar, meskipun berkembang di dalam rahim yang sama dan lahir pada hari yang sama.

Dikutip dari ABC News, kehamilan alami tersebut terjadi ketika sang perempuan sedang menjalani proses surogasi. Kasus ini kemudian menjadi salah satu kejadian yang sangat tidak biasa dalam praktik reproduksi berbantu. The Guardian juga melaporkan bahwa kedua bayi lahir pada November 2025 melalui operasi caesar.

Kok bisa hamil lagi saat sudah hamil?

Nah, bagian ini yang mungkin membuat Bunda bertanya-tanya.

Secara umum, ketika seorang perempuan sudah hamil, tubuh mengalami perubahan hormonal yang membuat ovulasi berikutnya sangat tidak mungkin terjadi. Karena itulah, kondisi ketika terjadi pembuahan baru setelah kehamilan sudah berlangsung disebut superfetasi dan dianggap sangat langka pada manusia.

Dalam superfetasi, secara teori, sel telur baru dilepaskan, kemudian dibuahi dan berkembang menjadi embrio meskipun sudah ada kehamilan sebelumnya. Fenomena ini berbeda dengan kembar biasa.

Pada kembar fraternal atau dizigotik, misalnya, dua sel telur dilepaskan dalam satu periode ovulasi dan kemudian masing-masing dibuahi oleh sperma. Keduanya berkembang dalam kehamilan yang sama dan memiliki hubungan genetik seperti saudara kandung. Sementara pada superfetasi, konsepsi terjadi pada waktu yang berbeda.

Namun, Bunda perlu tahu bahwa kasus di Queensland ini tidak bisa begitu saja disebut sebagai superfetasi yang sudah terbukti secara medis. Laporan media menyebut adanya kehamilan dari embrio IVF dan kehamilan alami yang berlangsung dalam waktu yang berdekatan, tetapi tidak menetapkan diagnosis superfetasi secara definitif.

Fenomena yang sangat langka

Superfetasi pada manusia merupakan fenomena yang sangat jarang dilaporkan. Salah satu tinjauan ilmiah mengenai superfetasi menjelaskan bahwa bukti mengenai kondisi ini pada manusia masih terbatas. Para peneliti juga menilai bahwa membuktikan terjadinya superfetasi bukan perkara mudah karena diperlukan bukti bahwa dua konsepsi memang terjadi pada waktu yang berbeda.

Sementara itu, laporan kasus dalam Journal de Gynécologie Obstétrique et Biologie de la Reproduction juga membahas kasus yang diduga sebagai superfetasi dan menunjukkan betapa jarangnya kondisi tersebut.

Teknologi reproduksi berbantu seperti IVF membuat situasi biologis yang tidak biasa semakin mungkin untuk teridentifikasi. Sebab, dokter dapat mengetahui secara lebih jelas kapan embrio ditransfer dan kemudian membandingkannya dengan perkembangan kehamilan.

Kedua bayi akhirnya diasuh keluarga masing-masing

Setelah lahir, kedua bayi tersebut kemudian diasuh oleh keluarga biologis masing-masing. Meski demikian, kisah mereka tidak berhenti di sana. Kedua keluarga sepakat bahwa kedua anak tersebut tetap akan saling mengenal ketika mereka tumbuh besar. Mereka juga mendapatkan pendampingan konseling untuk membantu mempersiapkan kondisi keluarga yang tidak biasa ini.

Bagi kedua anak tersebut, mereka memang bukan saudara kembar secara genetik. Namun, keduanya memiliki satu pengalaman yang sangat unik yaitu pernah tumbuh bersama di dalam rahim yang sama dan lahir pada hari yang sama.

Sampai harus dibawa ke pengadilan

Kasus ini ternyata juga menghadirkan persoalan hukum. Di Queensland, Australia, aturan mengenai surogasi memiliki ketentuan tertentu mengenai status anak yang lahir dari kehamilan yang sama. Situasi dua bayi dengan orang tua biologis berbeda seperti ini tidak secara jelas diantisipasi dalam aturan tersebut. Karena itu, kasus ini kemudian dibawa ke Children's Court of Queensland.

Hakim akhirnya memutuskan bahwa kedua bayi tersebut dapat memiliki status hukum sebagai anak dari keluarga biologis masing-masing. Keputusan tersebut menjadi penting karena kasus seperti ini sangat jarang dan tidak mudah dimasukkan ke dalam kerangka aturan surogasi yang sudah ada.

Kisah ini memang terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Tetapi di balik keunikannya, ada banyak hal yang bisa dipelajari mengenai reproduksi manusia. Perkembangan IVF dan teknologi reproduksi berbantu memungkinkan pasangan dengan berbagai kondisi medis untuk memiliki keturunan. Namun, teknologi tersebut juga dapat menghadirkan situasi yang sangat kompleks, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari sisi psikologis dan hukum.

Karena itu, program surogasi membutuhkan persiapan yang matang dan pendampingan dari tenaga medis serta profesional terkait. Dan untuk kasus di Queensland ini, mungkin kalimat paling tepat adalah: dua bayi, satu rahim, tetapi dua keluarga biologis yang berbeda. Sebuah kejadian yang sangat langka dan menjadi pengingat bahwa dunia reproduksi manusia masih menyimpan banyak hal yang menarik untuk dipelajari.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Bumil Tiba-tiba Nggak Suka Bau Suami, Kok Bisa?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Surat Menyentuh Joanna Alexandra untuk Suami di 1 Bulan Pernikahan: Tak Selalu Mudah, tapi Bersyukur

Mom's Life Annisa Karnesyia

150 Nama Bayi Terinspirasi Tulip dan Artinya untuk Anak Laki-laki & Perempuan

Nama Bayi Annisya Asri Diarta

Ingin Anak Jadi Pemimpin? Ini Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan dari Usia 2-19 Tahun

Parenting Annisa Karnesyia

Langka! Ibu Ini Melahirkan Bayi Kembar Lewat Surogasi dan Alami secara Bersamaan

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Hailey Bieber Bagikan Foto Langka Baby Bump Saat Hamil Jack, Curi Perhatian

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Arti Mabruk Alfa Mabruk, Jawaban yang Tepat, dan Bedanya dengan Barakallah Fii Umrik

Langka! Ibu Ini Melahirkan Bayi Kembar Lewat Surogasi dan Alami secara Bersamaan

150 Nama Bayi Terinspirasi Tulip dan Artinya untuk Anak Laki-laki & Perempuan

Surat Menyentuh Joanna Alexandra untuk Suami di 1 Bulan Pernikahan: Tak Selalu Mudah, tapi Bersyukur

Ingin Anak Jadi Pemimpin? Ini Cara Melatih Jiwa Kepemimpinan dari Usia 2-19 Tahun

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK