HaiBunda

KEHAMILAN

Alami 5 Kali Keguguran, Bunda Ini Ungkap Luka yang Makin Berat karena Budaya Diam

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Minggu, 13 Sep 2026 14:00 WIB
Alami 5 Kali Keguguran, Bunda Ini Ungkap Luka yang Makin Berat karena Budaya Diam/ Foto: Getty Images/iStockphoto/megaflopp
Jakarta -

Keguguran adalah peristiwa berakhirnya kehamilan secara spontan, yang umumnya terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Keguguran bisa meninggalkan trauma bagi seorang perempuan yang tengah menanti momongan, Bunda.

Penyebab pasti keguguran belum diketahui. Tapi pada beberapa kasus, seorang perempuan bisa mengalami lebih dari sekali kehilangan janin di dalam kandungannya.

Kisah Bunda mengalami keguguran berulang pernah Farhana Laffernis. Perempuan yang tinggal di Sydney, Australia ini telah mengalami lima kali keguguran. Bagi seseorang yang punya keinginan besar ingin menjadi ibu, pengalaman itu benar-benar menghancurkan hatinya.


"Kesedihan hampir menjadi sesuatu yang sudah terbiasa atau seperti rutinitas. Kamu tetap merasakan kepedihannya setiap kali itu terjadi. Seolah-olah pikiran dan tubuh kamu sudah tahu prosedurnya," katanya, dilansir The Guardian.

Laffernis tidak sendirian. Tiga dari 10 perempuan yang melahirkan pada tahun 2022 di Australia sebelumnya pernah mengalami keguguran. Menurut Australian Institute of Health and Welfare, satu dari 10 perempuan pernah mengalami keguguran dua kali atau lebih.

Kisah pilu keguguran yang dialami Laffernis

Keguguran pertama Laffernis terjadi di usia kehamilan 8 minggu. Peristiwa itu terjadi di tengah puncak lockdown COVID-19 dan dia tidak bisa ditemani pasangan di setiap janji temu dan pemeriksaan USG.

"Itu adalah pertama kalinya dalam hidup saya mengalami hal seperti itu, atau merasakan kesedihan dan kehilangan yang sesungguhnya," ungkapnya.

"Saya menerima semua berita buruk ini hampir sendirian dan harus memproses serta memahaminya."

Itu adalah keguguran pertama dari dua keguguran yang dialami Laffernis sebelum berhasil mendapatkan kehamilan melalui IVF hingga melahirkan sang putri. Ia ingat merasa sangat ketakutan sepanjang proses tersebut.

"Sepertinya ke mana pun kamu berpaling, ada seseorang yang mengalami kehamilan yang bahagia dan tanpa beban, di mana tidak mungkin ada hal buruk yang terjadi. Saya tidak mungkin mengalami hal itu, saya tidak mungkin menjadi ibu hamil yang bahagia, santai, dan tidak menyadari apa pun," ujar Laffernis.

Setelah melahirkan seorang putri, Laffernis mengalami tiga kali keguguran. Peristiwa tersebut menandai akhir dari perjalannnya untuk menambah momongan.

Bagi Laffernis, yang berasal dari latar belakang migran India, rasa sakit akibat keguguran diperparah oleh keengganan keluarga besar dan sekitar untuk membicarakan apa yang sedang terjadi.

"Keguguran pertama seperti 'nasib buruk', yang kedua seperti 'Oh, itu sedikit lebih sial lagi'. Tapi kemudian itu terjadi sekitar lima kali dan kamu akhirnya berhenti menceritakannya kepada orang lain," ujar Laffernis.

"Saya rasa di banyak keluarga migran, atau setidaknya menurut pengalaman saya, ada mentalitas semacam itu di banyak komunitas kita di mana orang tua kita datang dari keadaan yang kurang ideal. Mungkin keguguran bukanlah hal terburuk yang pernah terjadi pada siapa pun, tetapi itu adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku," lanjutnya.

Namun setelah bertahun-tahun berusaha menghindari konflik yang 'sangat menyakitkan' terkait keguguran, dia akhirnya harus menghadapi keluarganya dan bicara tentang dukungan yang dibutuhkan.

"Saya berusaha cukup lama untuk menghindari pertengkaran sebelum akhirnya semuanya benar-benar membebani saya. Saya memang harus melakukan beberapa percakapan yang sangat sulit dengan anggota keluarga tentang apa sebenarnya yang saya butuhkan dari mereka saat itu," kata Laffernis.

Laffernis berharap perempuan yang mengalami keguguran bisa mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar. Kesadaran yang lebih besar juga diharapkan menyebar melalui sistem medis, sehingga percakapan tentang topik ini menjadi normal.

"Tidak ada yang benar-benar berbicara kepada saya tentang risiko keguguran. Setelah mereka membicarakan fakta bahwa hal itu kemungkinan besar akan terjadi, pembicaraan beralih ke fakta bahwa ini terjadi pada begitu banyak orang dan sangat umum," ungkapnya.

Demikian kisah Bunda yang pernah lima kali mengalami keguguran. Semoga kisahnya bisa membantu para Bunda memahami pentingnya dukungan sekitar pada perempuan yang mengalami keguguran.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Risiko Keguguran Bisa Turun dari Keluarga? Ini Faktanya, Bun

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bikin Bangga! Aksara Anak Raditya Dika Raih Medali di Southeast Asian Mathematical Olympiad

Parenting Annisa Karnesyia

Vanessa Trump Nyatakan Bebas Kanker Payudara hanya 6 Bulan setelah Diagnosis

Menyusui Dwi Indah Nurcahyani

5 Kekuatan Tersembunyi Orang Introvert yang Sering Tak Disadari Orang Lain

Mom's Life Annisa Karnesyia

7 Kebiasaan Parenting Ini Dapat Merusak Rasa Percaya Diri Anak

Parenting Kinan

Denny Sumargo dan Olivia Allan Ungkap Fakta Mengharukan: Biel Ternyata Anak Keempat

Kehamilan Amrikh Palupi

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Wabah Ebola Bikin Bumil Takut ke Rumah Sakit, Angka Kematian di Kongo Naik Hampir 70 Persen

7 Kebiasaan Parenting Ini Dapat Merusak Rasa Percaya Diri Anak

7 Potret Raoul Anak Bungsu Ferry Salim yang Kini Jadi Model

Bikin Bangga! Aksara Anak Raditya Dika Raih Medali di Southeast Asian Mathematical Olympiad

10 Drama Korea Terbaru November 2026, Terbaik Diprediksi Raih Rating Tinggi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK