sign up SIGN UP search


kehamilan

9 Penyebab Keguguran, dari Faktor Genetik hingga Penyakit Kronis

Annisa Afani Senin, 28 Sep 2020 19:31 WIB
Pregnant woman feeling bad suffering from pain lying on couch at home. Sickness during pregnancy caption
Jakarta -

Keguguran merupakan gangguan kehamilan yang menyebabkan bayi dalam kandungan berhenti tumbuh dan berkembang. Banyak penyebab wanita mengalami keguguran, Bunda.

Mengutip WebMD, sebanyak 50 persen kehamilan berakhir dengan keguguran dan paling sering sebelum wanita telat haid atau mengetahui bahwa dirinya hamil. Lebih dari 80 persen keguguran terjadi pada 3 bulan pertama kehamilan.

Potensi keguguran akan menurun setelah usia kehamilan 20 minggu. Namun jika keguguran terjadi pada usia kehamilan tersebut, maka dokter menyebutnya sebagai keguguran terlambat atau tertunda.


Gejala Keguguran

Ada beberapa gejala yang akan Bunda hamil rasakan jika mengalami keguguran. Gejala-gejala tersebut, seperti:

  • Pendarahan yang berlangsung dari ringan menjadi berat
  • Kram parah
  • Sakit perut
  • Lemah
  • Sakit punggung yang parah
  • Demam yang diikuti dengan salah satu gejala yang disebutkan sebelumnya
  • Berat badan menurun
  • Keluarnya lendir merah muda
  • Terjadi kontraksi
  • Adanya jaringan yang terlihat seperti gumpalan darah keluar dari vagina
  • Tanda-tanda kehamilan yang dirasakan sedikit atau berkurang

Apabila ibu hamil mengalami gejala-gejala tersebut, maka sebaiknya menghubungi dokter untuk mendapat perawatan.

Penyebab keguguran

Dalam beberapa kasus, penyebab keguguran sulit untuk ditentukan, terutama jika terjadi begitu dini. Meski begitu, American Pregnancy Association (APA) menyebutkan bahwa penyebab keguguran yang paling umum adalah kelainan genetik atau kromosom pada embrio. Meski demikian, ada faktor lain yang juga bisa menjadi penyebab keguguran.

Mengutip Parents, berikut ini delapan penyebab keguguran pada ibu hamil:

1. Kelainan kromosom

Menurut March of Dimes, sekitar 70 persen keguguran pada trimester pertama dan 20 persen pada trimester kedua terjadi karena kelainan pada kromosom atau genetik pada janin.

Selama masa pembuahan, sperma dan sel telur masing-masing menyatukan 23 kromosom dan membelah hingga berpasang-pasangan. Proses ini terjadi dengan sangat rumit, Bunda. Sehingga bila ada kesalahan kecil, maka dapat menyebabkan kelainan pada kromosom.

"Bila hal tersebut terjadi, maka perkembangan pun akan berhenti begitu saja," kata Elizabeth Nowacki, OBGYN di Rumah Sakit St. Vincent Fishers di Indiana. 

Keguguran yang disebabkan kelainan kromosom ini akan lebih sering terjadi dan dialami oleh wanita berusia lebih dari 35 tahun. Itu karena sel telur dalam tubuh wanita usia tersebut sudah tua.

"Semua sel telur yang dimiliki wanita sudah ada sejak lahir, dan sel telur itu menua bersamanya," kata Dr. Stephanie Zobel, MD, seorang OBGYN dari Winnie Palmer Hospital.

Menurutnya, usia ayah mungkin juga bisa memainkan peran yang sama. Namun, dia melihat risiko keguguran pada wanita di bawah usia 20 tahun hanya sekitar 12-15 persen dan berlipat ganda saat mendekati usia 40 tahun.

Keguguran yang terjadi karena kelainan kromosom pun tak bisa dicegah, Bunda. "Begitu keguguran mulai terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikannya," kata Dr. Zobel.

2. Gangguan tiroid

Baik itu tiroid yang terlalu rendah (hipotiroidisme) ataupun terlalu tinggi (hipertiroidisme), gangguan tiroid bisa menyebabkan masalah infertilitas atau menyebabkan keguguran berulang.

Sebuah situs Malpani Infertility Clinic menjelaskan, dalam kasus di mana fungsi tiroid wanita rendah, maka tubuhnya akan mengimbangi hal tersebut dengan memproduksi hormon yang sebenarnya dapat menekan ovulasi. Sebaliknya, jika tiroid terlalu tinggi, maka hormon yang dihasilkan dapat mengganggu estrogen untuk melakukan tugasnya, dan membuat rahim tidak nyaman untuk implantasi atau menyebabkan perdarahan uterus abnormal.

3. Diabetes

Dr Zobel mengatakan bahwa wanita yang mengidap diabetes butuh perawatan primer dari dokter atau ahli endokrinologi untuk mengoptimalkan kontrol gula mereka. Sebab jika diabetes ketergantungan insulin tidak terkontrol pada trimester pertama, bisa menyebabkan peningkatan angka keguguran dan risiko cacat lahir yang lebih besar, Bunda.

4. Komplikasi fisik

Dr Nowacki mengatakan bahwa penyebab keguguran karena komplikasi fisik pada ibu biasanya terjadi pada trimester kedua atau ketiga. Meski demikian, penyebab keguguran ini kurang umum, Bunda.

Beberapa contoh komplikasi fisik, di antaranya wanita yang terlahir dengan septum atau kelainan uterus yang tidak biasa dan menyebabkan keguguran, wanita yang mungkin mengembangkan jaringan parut di rahim akibat operasi atau aborsi kedua kalinya lantaran jaringan ini bisa mencegah sel telur tertanam dengan baik dan bisa menghambat aliran darah ke plasenta.

5. Gangguan pembekuan darah

Keguguran akibat gangguan pembekuan darah juga jarang terjadi, Bunda. Diungkapkan Dr. Nowacki, ia banyak menangani keguguran akibat gangguan pembekuan darah, namun hal tersebut jarang.

6. Ketidakseimbangan hormon

Terkadang, tubuh wanita mengalami ketidakseimbangan hormon atau tidak menghasilkan cukup hormon progesteron. Padahal hormon ini diperlukan untuk membantu mempertahankan kehamilan.

7. Gaya hidup tidak sehat

Kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat, seperti mengonsumsi obat-obatan terlarang atau minuman alkohol, dan merokok selama kehamilan bisa menyebabkan keguguran dini, bahkan pada trimester akhir, Bunda. Untuk itu, penting untuk mengoptimalkan kesehatan menjelang kehamilan demi mengurangi risiko keguguran.

8. Gangguan autoimun

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, gangguan autoimun tertentu pada wanita bisa menyebabkan keguguran, terutama keguguran berulang. Dr. Nowacki menjelaskan, cara paling sederhana untuk memahaminya adalah mengetahui bahwa 'tubuh tidak menerima kehamilan'.

Beberapa penelitian menemukan bahwa ada antibodi tertentu yang bisa menjadi salah satu penyebab dari keguguran. Ini karena antibodi antifosfolipid yang ada dalam tubuh wanita.

"Hingga 5 persen wanita yang memiliki antibodi ini bisa mengalami keguguran berulang, lebih dari tiga keguguran spontan, kematian janin tanpa alasan setelah 10 minggu, atau kelahiran prematur sebelum 34 minggu," kata Dr. Zobel.

Dia merekomendasikan untuk melakukan uji anti sindrom fosfolipid. Itu karena Bunda tidak dapat mengontrol apakah memiliki antibodi ini. Namun jika memilikinya, maka ada perawatan yang bisa Bunda lakukan untuk mengurangi resiko keguguran. 

9. Penyakit kronis

Penyakit kronis yang mungkin terkait dengan keguguran berulang, yakni pada jantung, ginjal, dan hati, Bunda. Jika seorang wanita memiliki penyakit kronis, maka carilah dokter kandungan yang berpengalaman untuk membantu mengontrol kondisi kesehatan selama kehamilan.

Semenatra itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko keguguran, Bunda. Faktor-faktor tersebut, yakni:

  • Listeria merupakan bakteri yang mungkin ada dalam daging setengah matang, telur mentah, dan produk susu yang tidak dipasteurisasi.
  • Trauma, seperti kecelakaan mobil.
  • Obat tertentu.
  • Usia di atas 35 tahun.
  • Infeksi, seperti penyakit Lyme.
  • Polusi udara.
  • Demam tinggi selama awal kehamilan bisa merusak embrio.

Mencegah keguguran

Dalam banyak kasus, sebenarnya keguguran tidak bisa dicegah, terutama jika disebabkan oleh kelainan kromosom atau faktor genetik. meski begitu, dokter akan menyarankan untuk mengoptimalkan kesehatan Bunda sebelum hamil untuk memberikan kesempatan untuk kehamilan yang sehat hingga melahirkan.

"Secara umum, saya menyarankan agar wanita yang sedang mempertimbangkan untuk hamil mendatangi OBGYN untuk mengetahui kondisinya dan melakukan pengobatan (jika memiliki penyakit kronis), memulai vitamin prenatal 2-3 bulan sebelum mencoba hamil, memastikan vaksinnya manjur," tutur Dr Zobel.

Selain itu, berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang, mempertahankan berat badan. Bunda juga harus menghindari infeksi, mengurangi konsumsi kafein, serta berhenti merokok, minum alkohol, dan mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Bunda, simak juga 8 faktor pemicu keguguran dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi